TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Cuaca panas melanda wilayah Ciputat, Tangerang Selatan, dengan suhu udara mencapai 36 derajat celsius pada Senin (27/4/2026).
Berdasarkan data pengamatan Stasiun Meteorologi BMKG di Balai Besar Wilayah II, cuaca panas dipengaruhi sejumlah faktor meteorologis yang terjadi secara bersamaan.
Kepala Balai Besar BMKG Wilayah II, Hartanto, mengatakan, posisi matahari yang saat ini berada di sekitar garis khatulistiwa membuat intensitas radiasi matahari yang diterima wilayah Jawa bagian barat menjadi maksimal.
“Sudut datang sinar matahari hampir tegak lurus, sehingga radiasi yang diterima permukaan menjadi lebih besar,” ujar Hartanto saat dihubungi Kompas.com via WhatsApp, Senin.
Baca juga: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Jabodetabek 27–30 April, Waspada Hujan Lebat
Tidak hanya itu, kondisi juga diperparah oleh tingkat kelembapan udara yang relatif tinggi di wilayah tropis.
Kondisi tersebut membuat keringat lebih sulit menguap dari permukaan kulit.
"Tubuh merasa jauh lebih panas dari suhu yang tertera di termometer. Fenomena ini sering disebut sebagai Indeks Reaksi Tubuh atau feels like temperature," kata dia.
Selain itu, minimnya tutupan awan turut membuat radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa hambatan.
"Tidak ada "penghalang" bagi radiasi matahari untuk langsung mencapai permukaan bumi," imbuh dia.
Kondisi tersebut kemudian diserap oleh aspal dan beton yang kemudian dipancarkannya kembali sehingga suhu terasa lebih panas.
Faktor lain yang berperan adalah kondisi perkotaan di Ciputat yang padat bangunan dan kendaraan.
Baca juga: Cuaca Jakarta Hari Ini Cenderung Berawan, BMKG: Pagi Cerah Berlanjut hingga Siang
Minimnya ruang terbuka hijau membuat panas lebih mudah terperangkap di permukaan.
Kondisi tersebut dikenal sebagai fenomena urban heat island, di mana wilayah perkotaan cenderung lebih panas dibandingkan daerah sekitarnya.
"Emisi gas buang dari kendaraan di jam-jam sibuk juga berkontribusi pada peningkatan suhu mikro di lingkungan sekitar,” kata Hartanto.
Di sisi lain, Indonesia saat ini juga tengah memasuki masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau atau pancaroba.
Pada periode ini, pergerakan angin cenderung melemah.
“Akibatnya, sirkulasi udara tidak berjalan maksimal untuk mendinginkan permukaan,” ucap dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




