Dayabumi Energi Gandeng Anvita-Etana Bangun PLTS Atap Berkapasitas 1 MWp

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Dayabumi Energi bekerja sama dengan PT Anvita Pharma Indonesia (Anvita) dan PT Etana Biotechnologies Indonesia (Etana) mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap berkapasitas 1 MWp.

Langkah ini juga upaya mempercepat integrasi strategi keberlanjutan ke dalam operasional inti.

Proyek yang berlokasi di Karawang ini dibangun secara bertahap guna mendukung transisi energi serta implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Sebagai perusahaan dengan standar internasional, Anvita dan Etana memiliki kebutuhan tinggi terhadap keandalan energi serta kepatuhan ketat terhadap standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).

Pada tahap pertama, Dayabumi Energi berhasil merampungkan pembangunan PLTS di fasilitas produksi Anvita. Proyek ini tergolong kompleks karena dilakukan di lingkungan industri dengan tingkat sensitivitas tinggi, di mana proses produksi beroperasi tanpa henti.

Guna mengatasi tantangan tersebut, Dayabumi Energi menerapkan metode live-installation with zero shutdown. Pendekatan ini memungkinkan proses instalasi berjalan tanpa menghentikan aktivitas produksi farmasi sedikit pun. Keberhasilan penyelesaian tahap awal ini membuktikan integrasi energi terbarukan tetap dapat dilakukan tanpa mengorbankan kualitas operasional di sektor kritikal.

Chairman Dayabumi Group Gamma A. Thohir mengungkapkan disiplin dalam menjaga standar operasional di lapangan menjadi faktor penentu keberhasilan proyek.

Baca Juga

  • Menilik Peluang dan Tantangan Rencana Deregulasi PLTS
  • Pemerintah Kaji Deregulasi PLTS, Ini Saran IESR
  • PLTS 100 GW dan Ekosistem Kendaraan Listrik Jadi Motor Baru Ekonomi Hijau

“Inisiatif ESG tidak hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi juga tentang pemenuhan standar kualitas dan keselamatan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (27/4/2026).

Setelah merampungkan fase di Anvita, Dayabumi Energi segera memulai pembangunan PLTS di fasilitas operasional Etana dengan pendekatan teknis yang serupa. Proyek ini diproyeksikan memberikan dampak terukur, baik dari sisi penghematan ekonomi maupun reduksi emisi.

Sistem pembangkit surya ini diperkirakan mampu menghemat biaya listrik perusahaan hingga Rp70 juta per tahun. Dari sisi lingkungan, penggunaan panel surya tersebut sanggup menurunkan emisi karbon sebesar 573,17 ton CO₂ per tahun.

Efisiensi biaya ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing perusahaan di pasar global yang kini semakin peduli terhadap jejak karbon. Selain itu, langkah ini mendukung agenda transisi energi nasional dalam mengurangi ketergantungan pada energi berbasis fosil.

Keberhasilan kolaborasi ini menjadi referensi bagi sektor manufaktur lain untuk mengadopsi energi terbarukan secara scalable. Dengan perencanaan teknis yang matang, integrasi teknologi hijau terbukti dapat berjalan beriringan dengan stabilitas produksi industri modern yang memiliki persyaratan keamanan tinggi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Lantik Jumhur Hidayat Jadi Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Digeser Wamenko Pangan
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Belajar dari Krisis Deepfake Korea: Saat AI Menjadi Alat Pelecehan Massal
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Ciri Kepribadian Orang yang Suka Membalas Chat Cepat Menurut Ilmu Psikologi
• 22 jam lalubeautynesia.id
thumb
Ramalan Cuaca, Jabodetabek Didominasi Berawan Hari Ini
• 15 jam laluokezone.com
thumb
OJK Bidik Pasar Modal Biayai Rp1.812 Triliun untuk Kebutuhan Investasi Nasional
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.