Jakarta, CNBC Indonesia - Kevin Warsh yang menjadi calon ketua Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) datang dengan pesan besar. Dia ingin melakukan perubahan di The Fed.
Melansir dari The Economist, perubahan besar seperti revolusi di bank sentral AS tampaknya tidak akan mudah terjadi.
Selama ini, politisi AS biasanya membiarkan The Fed bekerja secara independen. Alasannya sederhana, tidak banyak pemilih yang benar-benar memperhatikan kebijakan moneter. Kalaupun inflasi naik dan masyarakat mulai mengeluh, politisi masih bisa menyalahkan pihak lain.
Namun, Donald Trump berbeda. Dalam masa jabatan keduanya, Presiden AS tersebut terus menekan The Fed karena menilai suku bunga masih terlalu tinggi. Trump menyerang bank sentral lewat gugatan hukum, mengkritik Ketua The Fed Jerome Powell di media sosial, bahkan mendorong penyelidikan kriminal yang dinilai tidak berdasar terhadap Powell untuk menekan posisinya.
Namun, sejauh ini tekanan dari Gedung Putih belum memberi hasil seperti yang diinginkan Trump. Bahkan, serangan itu justru bisa berbalik arah karena membuat para pembela independensi The Fed semakin solid.
Mahkamah Agung AS tampaknya akan menolak upaya Trump untuk memecat Lisa Cook, salah satu gubernur The Fed. Sementara itu, manuver Thom Tillis, senator Republik yang akan pensiun, untuk menahan proses konfirmasi Kevin Warsh sebagai pengganti Powell kemungkinan ikut berperan dalam keputusan Departemen Kehakiman AS pada 24 April untuk menghentikan kasus terhadap Ketua The Fed tersebut.
Pasar pun kini cenderung lebih santai menghadapi serangan Trump kepada The Fed. Dengan kata lain, kritik keras Trump terhadap bank sentral AS sudah tidak lagi membuat pasar sepanik sebelumnya.
Pertanyaannya, apakah Warsh bisa mengubah The Fed menjadi lebih dekat dengan gaya Trump?
Warsh memang terlihat lebih mudah diajak kompromi dibanding Powell, yang selama ini dikenal cukup teguh menjaga independensi bank sentral.
Dia mendapatkan nominasi setelah meninggalkan sikap lamanya yang sangat waspada terhadap inflasi, lalu menyesuaikan pandangannya dengan Gedung Putih yang lebih menginginkan suku bunga rendah.
Dalam sidang konfirmasi Senat pada pekan lalu, Selasa (21/4/2026), Warsh juga lolos dari ujian politik ala MAGA (Make America Great Again), sebuah jargon ala Trump. Dia menolak menjawab secara tegas bahwa Trump kalah dari Joe Biden dalam pemilu 2020.
Warsh juga memakai istilah yang terdengar cocok di telinga Trump, yakni perlunya perubahan rezim di bank sentral.
Namun, jika dilihat lebih jauh, agenda Warsh di The Fed kemungkinan tidak sedramatis yang terdengar. Banyak gagasannya sebenarnya kecil, sudah tidak terlalu relevan, atau berada di luar kewenangan seorang Ketua The Fed jika dia bergerak sendirian.
Warsh Klaim Hanya Ingin Ubah Kebijakan
Hal pertama yang perlu dicatat, Warsh tampaknya tidak sedang merencanakan perombakan besar-besaran terhadap orang-orang di dalam The Fed.
Sebagian kalangan di internal The Fed sempat khawatir bahwa istilah perubahan rezim yang dimaksud Warsh berarti mengganti para pejabat bank sentral. Kekhawatiran terbesarnya adalah Warsh akan mencoba memecat presiden bank-bank regional The Fed, termasuk lima di antaranya yang punya hak suara dalam kebijakan moneter, lalu menggantinya dengan orang-orang loyalis Trump.
Namun, kekhawatiran itu mereda setelah Warsh menjelaskan maksudnya dalam sidang Senat. Saat ditanya langsung apakah perubahan rezim berarti pembersihan presiden bank regional, Warsh mengatakan bahwa yang dia maksud adalah perubahan rezim kebijakan.
Penjelasan itu cukup melegakan. Sebab, dalam urusan kebijakan, Warsh sering kali bukan sosok yang membawa revolusi besar. Dia justru lebih banyak menyoroti hal-hal teknis.
Salah satu hal yang kerap dia kritik adalah kebiasaan pejabat The Fed yang terlalu fokus pada inflasi inti. Inflasi inti adalah ukuran inflasi yang mengeluarkan harga pangan dan energi karena dua komponen ini sering naik-turun tajam.
Menurut Warsh, The Fed seharusnya lebih memperhatikan ukuran inflasi trimmed-mean. Ini adalah ukuran inflasi yang mengeluarkan harga-harga yang naik atau turun paling ekstrem setiap bulan.
Ukuran trimmed-mean memang kadang bisa lebih rendah dibanding inflasi inti. Jika angkanya lebih rendah, hal itu bisa dipakai sebagai alasan untuk menurunkan suku bunga. Namun, dalam banyak periode, termasuk saat ini, kedua indikator tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda.
Beberapa gagasan Warsh lainnya juga kemungkinan tidak akan banyak mengubah The Fed karena isunya sudah lewat.
Dia ingin kebijakan moneter keluar dari isu-isu politik seperti perubahan iklim dan keadilan sosial.
Masalahnya, The Fed pada dasarnya sudah bergerak ke arah itu. Dia juga khawatir mandat The Fed untuk mendukung lapangan kerja ditafsirkan terlalu luas, seperti saat pandemi Covid-19, sampai mengganggu tugas utama lain yaitu menjaga stabilitas harga.
Namun, The Fed juga sudah menutup bab tersebut.
Dua Agenda Besar Warsh
Secara substansi, Warsh punya dua gagasan yang lebih penting.
Pertama, dia ingin memangkas neraca The Fed dalam waktu relatif cepat. Banyak pengamat sepakat bahwa neraca keuangan The Fed, yang mencapai sekitar US$7 triliun atau setara dengan Rp120.540 triliun (asumsi kurs Rp17.220/US$), memang sudah sangat besar.
Meski Warsh memberi sinyal tidak ingin memangkas kepemilikan obligasi bank sentral secara terlalu agresif, arah kebijakan ini tetap berlawanan dengan keputusan terbaru The Fed untuk mengakhiri quantitative tightening.
Quantitative tightening adalah proses ketika neraca The Fed menyusut secara bertahap karena bank sentral membiarkan obligasi yang jatuh tempo tidak diganti dengan pembelian baru.
Jika The Fed menjual obligasi, harga obligasi bisa turun. Karena harga obligasi dan imbal hasil atau yield bergerak berlawanan arah, penurunan harga obligasi bisa membuat yield naik.
Kenaikan yield penting karena bisa memengaruhi bunga lain dalam perekonomian, termasuk bunga kredit rumah. Untuk mengimbangi kenaikan yield tersebut, Warsh bisa mendorong pemangkasan suku bunga jangka pendek.
Namun, kebijakan ini tidak sederhana. Dampak penjualan obligasi The Fed terhadap yield sulit diprediksi. Jika salah langkah, kebijakan tersebut bisa menimbulkan gejolak baru di pasar keuangan.
Gagasan besar kedua adalah keraguan Warsh terhadap forward guidance.
Forward guidance adalah cara bank sentral memberi sinyal kepada pasar tentang arah kebijakan moneter ke depan. Praktik ini menjadi umum di banyak bank sentral dunia setelah krisis keuangan global 2007-2009.
Tujuannya agar pasar tidak kaget dan bisa memahami arah kebijakan bank sentral. Dengan begitu, volatilitas bisa lebih terkendali. Forward guidance juga membantu membentuk biaya pinjaman jangka panjang, sementara bank sentral umumnya hanya menetapkan suku bunga jangka pendek secara langsung.
Warsh khawatir forward guidance justru lebih banyak membawa masalah. Menurutnya, praktik ini bisa membuat pembuat kebijakan terlalu kaku, sulit mengubah pandangan, dan mengabaikan data baru yang ternyata menunjukkan bahwa perkiraan mereka keliru.
Namun, sebagian besar pengamat The Fed menilai manfaat forward guidance masih lebih besar dibanding risikonya.
Warsh Tetap Tidak Bisa Jalan Sendiri
Menghapus forward guidance dan memangkas neraca The Fed secara cepat memang akan menjadi perubahan penting. Namun, Warsh tidak bisa melakukannya sendirian.
Sebagian besar keputusan penting membutuhkan dukungan mayoritas dari tujuh anggota Dewan Gubernur The Fed. Sebagai ketua, Warsh memang punya panggung besar untuk memengaruhi arah pembahasan. Namun, saat pemungutan suara, dia tetap hanya punya satu suara.
Artinya, dia harus meyakinkan anggota lain agar mendukung proposalnya. Dalam proses itu, gagasan Warsh bisa saja menjadi lebih moderat.
Keterbatasan yang sama juga berlaku dalam penentuan suku bunga. Keputusan suku bunga membutuhkan dukungan sedikitnya tujuh dari 12 anggota voting Federal Open Market Committee atau FOMC.
Sebelum perang dengan Iran, pasar sempat memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga beberapa kali tahun ini. Namun, konflik tersebut kini mendorong kenaikan harga energi dan pangan. Jika berlangsung lama, kenaikan ini bisa menyebar menjadi tekanan inflasi yang lebih luas.
Akibatnya, ekspektasi saat ini mengarah pada FOMC yang akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5% hingga 3,75%.
Kehadiran Warsh juga belum tentu langsung mengubah peta suara di FOMC. Stephen Miran, sesama pendukung pemangkasan suku bunga yang direstui Trump, akan meninggalkan posisinya di Dewan The Fed untuk memberi ruang bagi ketua baru.
Sementara itu, Powell, yang dulu diangkat ke Dewan The Fed oleh Barack Obama tetapi dijadikan ketua oleh Trump pada 2018, memberi sinyal bahwa dia bisa tetap bertahan sebagai gubernur setelah melepas jabatan ketua. Powell bisa bertahan hingga 2028.
Lama atau tidaknya Powell bertahan kemungkinan bergantung pada seberapa besar dia melihat ancaman Trump terhadap independensi The Fed. Tiga pejabat yang diangkat oleh Joe Biden juga kemungkinan tidak akan pergi begitu saja. Jika mereka mundur, Trump bisa menunjuk orang-orang loyalisnya sebagai pengganti.
Dalam kasus Powell maupun pejabat yang diangkat Biden, bertahan di posisi masing-masing akan menjadi langkah yang tidak biasa. Secara historis, hanya sedikit gubernur The Fed yang menyelesaikan masa jabatan penuh. Ketua The Fed terbaru juga biasanya tidak tetap bertahan setelah masa jabatannya sebagai ketua selesai.
Namun, melihat kecenderungan Trump untuk ikut campur, seorang mantan pejabat The Fed menilai sangat penting bagi mereka untuk tetap bertahan. Apalagi, Trump masih jauh dari posisi menguasai mayoritas di The Fed.
Bahkan dua pejabat yang ditunjuk Trump pada masa jabatan pertamanya, Christopher Waller dan Michelle Bowman, merupakan pembuat kebijakan serius. Keduanya kecil kemungkinan akan menyetujui kebijakan moneter ekstrem ala MAGA.
Tidak Akan Mengubah Total The Fed, Tapi Tetap Berisiko
Dengan berbagai keterbatasan tersebut, kecil kemungkinan Warsh bisa mengubah The Fed secara radikal.
Namun, bukan berarti dia tidak membawa risiko.
Peter Conti-Brown, sejarawan The Fed dari Wharton School, University of Pennsylvania, menilai Warsh dan orang-orang terdekatnya terlalu serius mempercayai narasi keliru bahwa The Fed sedang berada dalam krisis.
Warsh sendiri, seperti banyak pejabat kabinet Trump, mulai terbiasa mengkritik keras institusi yang akan dia pimpin. Dalam setahun terakhir, dia menyebut pelaksanaan kebijakan moneter secara luas sudah rusak cukup lama.
Jika nanti menjabat dan gagal memenuhi keinginan Trump, menyalahkan kolega di The Fed bisa menjadi cara Warsh untuk menjaga dirinya agar tidak menjadi sasaran kemarahan presiden.
Namun, jika seorang presiden dan ketua The Fed yang sedang menjabat sama-sama menyerang kebijakan moneter, situasi itu akan menjadi sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dampaknya, politisasi terhadap bank sentral AS bisa semakin parah.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw/evw) Add as a preferredsource on Google




