Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan probabilitas resesi Indonesia berada di bawah 5 persen di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih dipengaruhi konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia.
Airlangga mengatakan tingkat risiko resesi Indonesia bahkan lebih rendah dibandingkan sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Kanada.
“Lembaga internasional memperkirakan peluang resesi Indonesia berada di bawah 5 persen, lebih rendah dibandingkan negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Kanada,” kata Airlangga dalam acara Kick Off PINISI di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/4/2026).
Menurut Airlangga, fundamental ekonomi nasional masih kuat dengan dukungan permintaan domestik yang solid. Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global.
Airlangga mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun lalu mencapai 5,11 persen. Sementara pada tahun ini, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen, dengan capaian kuartal I diperkirakan mampu melampaui target awal.
Dari sisi stabilitas harga, inflasi tercatat berada di level 3,48 persen meski dipengaruhi basis rendah pada tahun sebelumnya akibat program diskon listrik.
Optimisme terhadap perekonomian nasional juga tercermin dari tingginya indeks keyakinan konsumen yang berada di level 122,9.
Selain itu, sektor eksternal dinilai menunjukkan daya tahan yang kuat dengan neraca perdagangan Indonesia yang mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut.
“Di sisi domestik, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama dengan kontribusi sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Rasio perdagangan eksternal juga terjaga di kisaran 42 persen terhadap PDB,” ujarnya.
Dari sisi pembiayaan, Airlangga menilai posisi Indonesia relatif aman. Rasio utang luar negeri tercatat sebesar 29,9 persen terhadap PDB, sementara kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) didominasi investor domestik sebesar 87,4 persen sehingga ketergantungan terhadap modal asing tetap terbatas.
Baca Juga: Ekonomi RI Diprediksi Ngebut di 2026, Airlangga Pasang Target 5,5% di Kuartal I
Baca Juga: RI Terancam Mandek, Airlangga: Butuh Pertumbuhan 6,7% agar Jadi Negara Maju
Baca Juga: Prabowo Bentuk Satgas Percepatan Program, Airlangga Jadi Ketua
Sejumlah lembaga internasional juga memberikan penilaian positif terhadap prospek ekonomi Indonesia. International Monetary Fund menyebut Indonesia sebagai salah satu titik terang di kawasan Asia, sedangkan Asian Development Bankmemproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen tahun ini.
Selain itu, FTSE Russell juga mempertahankan status pasar modal Indonesia di luar daftar pengawasan, sejajar dengan negara seperti China dan India.





