Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tengah menyiapkan langkah evaluasi menyeluruh terhadap program studi (prodi) di perguruan tinggi.
Penutupan prodi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan.
Advertisement
Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan langkah ini diarahkan untuk meningkatkan kesesuaian antara lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan pasar kerja.
“Nanti mungkin ada beberapa yang harus kami eksekusi dalam waktu tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi, perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi,” kata Badri dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com.
Menurutnya, kebijakan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menjawab persoalan mismatch antara lulusan dan dunia kerja yang selama ini masih terjadi.
Kemendiktisaintek mencatat, setiap tahun perguruan tinggi meluluskan sekitar 1,9 juta mahasiswa, terdiri dari 1,7 juta sarjana dan sisanya diploma. Di sisi lain, kondisi deindustrialisasi dini membuat serapan tenaga kerja belum optimal.
Untuk itu, pemerintah mendorong penguatan sektor industri, khususnya pada delapan sektor strategis, yakni energi, pangan, kesehatan, pertahanan, maritim, hilirisasi, digitalisasi, dan manufaktur maju.
“Sebenarnya yang dibutuhkan itu prodi apa ke depan, itu yang akan kita coba susun nanti bersama,” ujar Badri.



