Naim Qassem Sekretaris Jenderal Hizbullah menegaskan penolakan terhadap negosiasi langsung antara Lebanon dan Israel di tengah konflik yang masih berlangsung.
Dalam pernyataannya pada Senin (27/4/2026), ia juga mengajukan lima poin utama sebagai syarat penyelesaian konflik.
Dalam keterangan yang dikutip dari Anadolu, Qassem menyebut pihaknya “menolak secara tegas” dialog langsung dengan Israel. Ia menegaskan bahwa Hizbullah akan tetap melanjutkan apa yang disebut sebagai “perlawanan defensif” dan tidak akan melucuti senjata.
Dia mengkritik penyelenggaraan dua putaran pembicaraan langsung antara Lebanon dan Israel untuk pertama kalinya dalam 43 tahun, yang berlangsung di Washington beberapa hari lalu di bawah naungan Amerika Serikat (AS).
“Dalam situasi yang penuh pengorbanan, menjaga martabat, serta di tengah kekalahan musuh, pihak berwenang (Lebanon) justru tergesa-gesa memberikan konsesi gratis yang memalukan dan tidak perlu, yang semata-mata didorong oleh kepatuhan,” klaim Qassem.
“Titik awal dan solusinya adalah mencapai lima poin sebelum hal lain,” tambahnya.
Poin-poin tersebut di antara menghentikan agresi di darat, laut, dan udara; penarikan Israel dari wilayah pendudukan; pembebasan para tahanan; pemulangan penduduk ke seluruh kota dan desa asal mereka; serta rekonstruksi.
“Pemerintahan ini tidak dapat terus berjalan jika terus mengorbankan hak-hak Lebanon, menyerahkan wilayah, dan berhadapan dengan rakyatnya yang melakukan perlawanan,” ujarnya.
Pimpinan Hizbullah itu menyerukan agar otoritas Lebanon “kembali kepada rakyat untuk mempersatukan mereka, sehingga tidak menjadi otoritas satu kelompok, melainkan otoritas seluruh rakyat, berdasarkan konsensus yang melahirkan Kesepakatan Taif yang menjadi dasar konstitusi saat ini.”
Hingga saat ini, menurut angka resmi Lebanon, lebih dari 2.500 orang meninggal dunia dan lebih dari 1,6 juta orang mengungsi akibat serangan Israel di seluruh Lebanon sejak 2 Maret.
Gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel kemudian diumumkan pada 17 April, meskipun Tel Aviv berulang kali melanggarnya.
Lalu, pada hari Kamis (23/4/2026), Donald Trump Presiden AS mengatakan, Lebanon dan Israel sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata selama tiga minggu setelah putaran kedua pembicaraan antara kedua pihak di Washington.
Meski demikian, Hizbullah telah melakukan serangkaian serangan pesawat tak berawak yang menargetkan tentara Israel di Lebanon selatan dan Israel utara, dengan alasan pelanggaran gencatan senjata berulang oleh Israel. (ily/saf/ham)




