Kelapa sawit kembali berada dalam sorotan publik seiring menguatnya perbincangan soal dampak lingkungan dan tata kelola sumber daya alam. Namun, sawit tetap berperan penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga industri, sekaligus menjadi salah satu komoditas andalan ekspor Indonesia.
Sebagai produsen sawit terbesar dunia, Indonesia mencatat pertumbuhan produksi dan ekspor sawit yang positif sepanjang 2025. Secara YoY sampai dengan bulan Oktober, produksi CPO+PKO tahun 2025 mencapai 48.092 ribu ton atau naik sekitar 9,85%. Secara kumulatif, hingga akhir Oktober 2025, ekspor produk sawit Indonesia pun mencapai 27,691 juta ton, tumbuh 11,49%.
Namun, besarnya produksi sawit belum sepenuhnya menjamin stabilitas harga minyak goreng di dalam negeri. Fluktuasi harga minyak sawit mentah (CPO) global masih memberi tekanan terhadap harga minyak goreng, sehingga keterjangkauan harga bagi masyarakat tetap menjadi tantangan.
Situasi ini tidak hanya dialami Indonesia. Negara produsen sawit lain seperti Malaysia juga menghadapi tekanan serupa ketika harga CPO dunia bergejolak. Namun, strategi kebijakan yang diterapkan kedua negara berbeda, terutama dalam menjaga kestabilan harga minyak goreng agar tetap terjangkau bagi masyarakat.
(anl/ega)




