Penulis: Madhitya Putratama
TVRINews, Yogyakarta
Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul mulai memetakan wilayah rawan kekeringan sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau 2026. Upaya ini dilakukan melalui koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Pertanian.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, menjelaskan bahwa sejumlah wilayah berpotensi terdampak kekeringan, khususnya lahan persawahan yang saat ini memasuki musim tanam kedua.
“Beberapa kapanewon seperti Patuk, Nglipar, Semin, dan Ngawen sedang menjalani musim tanam kedua. Padi yang ditanam pada Februari–Maret diperkirakan panen pada Mei, bersamaan dengan awal musim kemarau,”ujar Raharjo.
Meski demikian, sebagian wilayah masih memiliki peluang produksi karena didukung sumber air permukaan, seperti aliran sungai. Daerah yang dilintasi Sungai Oyo, seperti Patuk hingga Nglipar, diperkirakan masih mampu mempertahankan produktivitas pertanian pada musim tanam ini.
Untuk mengantisipasi kemarau yang lebih panjang, dinas juga mendorong penggunaan varietas padi berumur pendek agar masa panen lebih cepat dan risiko gagal panen dapat ditekan.
Di sisi lain, wilayah seperti Ponjong dan Karangmojo dinilai masih memungkinkan melakukan budidaya padi saat kemarau karena memiliki sumber irigasi dari mata air yang relatif stabil sepanjang tahun.
Sebaliknya, kawasan selatan Gunungkidul diprediksi minim aktivitas pertanian saat musim kemarau akibat keterbatasan air. Petani di wilayah tersebut umumnya mengandalkan tanaman palawija seperti singkong yang dipanen pada puncak kemarau, sekitar Agustus hingga September.
“Wilayah yang dekat sumber air seperti Karangmojo, Ponjong, Semin, Ngawen, dan Nglipar relatif aman. Namun, jika kemarau datang lebih awal, daerah seperti Gedangsari perlu diwaspadai karena sangat bergantung pada curah hujan,” jelas Raharjo.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di wilayah Gunungkidul diperkirakan mulai terjadi pada dasarian ketiga April atau akhir bulan ini.
Dengan pemetaan dan langkah mitigasi yang dilakukan, pemerintah daerah berharap dampak kekeringan terhadap sektor pertanian dapat diminimalkan, sehingga produktivitas tetap terjaga.
Editor: Redaksi TVRINews




