Oleh Bayu Adji P
REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Kasus kekerasan di tempat penitipan anak atau daycare Little Aresha, Kota Yogyakarta, yang terungkap pada Jumat (24/4/2026) menjadi perhatian publik. Pasalnya, kekerasan itu terjadi di tempat yang semestinya aman bagi orang tua untuk menitipkan anak-anaknya.
- Kasus Daycare Little Aresha, Polisi Ungkap 53 Anak Diduga Jadi Korban
- Buntut Kasus Daycare Little Aresha, Walkot akan Tutup Daycare tak Berizin di Yogya
- Kekerasan Mengancam Anak di Daycare
Di sisi lain, kebutuhan orang tua akan layanan daycare terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA), saat ini sekitar 75 persen keluarga di Indonesia telah menggunakan pengasuhan alternatif.
Namun, menjamurnya tempat penitipan anak ini tak sejalan dengan izin yang keluar. Republika menelusuri sejumlah daycare yang berada di Kota Depok pada Senin (27/4/2026) untuk mencari tahu perkara tersebut.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Dengan menggunakan aplikasi Google Maps, keberadaan daycare di daerah penyangga ibu kota itu dapat dengan mudah ditemukan. Usai memantau sejumlah daycare, Republika kemudian mendatangi salah satu daycare di wilayah itu.
Petugas di daycare itu menyambut ramah kedatangan Republika. Ia menjelaskan bahwa daycare tempatnya bekerja itu beroperasi setiap hari kerja mulai pukul 06.30-20.00 WIB.
Selain menjadi tempat penitipan anak, daycare itu juga menyediakan layanan pre-school dan bimba. Anak-anak yang dititipkan di daycare itu akan otomatis mendapatkan layanan pendidikan sesuai usianya.
"Biayanya mulai dari Rp 1,5 juta. Itu belum termasuk registrasi Rp 500 ribu dan makan Rp 350 ribu (per bulan)," kata petugas itu.
Ia menjelaskan, anak-anak yang dititipkan di tempat akan mendapatkan makan dua kali sehari pada waktu siang dan sore hari. Selain itu, anak-anak juga akan mendapatkan snack satu kali sehari. Sementara kegiatan yang ditawarkan di daycare itu mulai dari sarapan, prasekolah, makan siang, tidur siang, makan sore, mandi, dan kegiatan bersama.
Ia mengeklaim, daycare tempatnya bekerja itu sudah memiliki izin. Namun, ia tidak menyebutkan izin yang dimiliki daycare tersebut.
Daycare itu juga sudah dilengkapi dengan CCTV. Meski begitu, CCTV yang ada belum bisa diakses oleh orang tua. CCTV itu hanya bisa diakses oleh pemilik yayasan. "Sebagai gantinya, kami fasilitasi aplikasi. Di situ ada kegiatan dan perkembangan anak," kata dia.
Petugas itu menambahkan, para pengasuh di daycare-nya juga telah mengikuti berbagai pelatihan. Artinya, setiap pengasuh telah disiapkan untuk menangani anak-anak. "Kalau di sini juga satu pengasuh maksimal menangani empat anak," kata dia.
Di tempat itu, Republika juga diajak berkeliling melihat area daycare. Sejumlah pengasuh masih menyuapi beberapa anak yang makan siang. Sementara itu, beberapa anak lainnya sedang tidur siang bersama.
Ia menyebutkan, saat ini ada 13 anak yang dititipkan di daycare itu. Sebelumnya, ada 20 orang yang dititipkan di tempat itu, tapi beberapa sudah memasuki usia sekolah dasar, sehingga sudah keluar. "Soalnya di sini maksimal usianya itu 7 tahun," kata dia.
Ia mengungkapkan, anak-anak yang baru dititipkan di daycare pasti harus beradaptasi terlebih dahulu. Dalam sepekan pertama, sang anak biasanya akan selalu menangis ketika ditinggal orang tuanya.
Daycare itu juga memiliki program "trial" untuk orang tua yang berencana menitipkan anaknya. Artinya, anak-anak bisa dititipkan sambil adaptasi dengan biaya harian. "Soalnya takutnya udah ngambil paket bulanan kan anaknya nggak sreg," kata dia.




