VIVA – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyampaikan bahwa realisasi investasi sektor hilirisasi pada kuartal I-2026 mencapai Rp147,5 triliun atau setara 29,6 persen dari total investasi nasional.
Rosan menegaskan bahwa kontribusi investasi hilirisasi menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan tahunan sebesar 8,2 persen. Menurutnya, angka tersebut mencerminkan semakin besarnya peran sektor hilirisasi dalam struktur ekonomi nasional.
“Berikutnya adalah capaian realisasi bidang hilirisasi, kenapa ini kami angkat karena kontribusi dari investasi yang berhubungan dengan hilirisasi itu cukup signifikan mencapai 29,6 persen di Triwulan pertama ini. Jadi kurang lebih angkanya mencapai Rp147,5 triliunan atau peningkatan 8,2 persen,” ujar Rosan dalam keterangan tertulis, Selasa 28 April 2026.
Ia menjelaskan, sektor nikel masih menjadi kontributor terbesar dengan nilai investasi mencapai Rp41,5 triliun. Diikuti sektor tembaga sebesar Rp20,7 triliun serta industri besi dan baja yang menyumbang Rp17 triliun. Selain itu, investasi pada hilirisasi bauksit tercatat Rp13,7 triliun dan timah sebesar Rp2,9 triliun, sementara sektor lainnya menyumbang Rp2,5 triliun.
Secara keseluruhan, realisasi investasi nasional pada kuartal I-2026 mencapai Rp498,8 triliun. Angka tersebut, kata dia, meningkat 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp465,2 triliun.
Rosan mengungkap, capaian ini juga setara dengan 24,4 persen dari target investasi nasional tahun 2026 yang ditetapkan sebesar Rp2.041,3 triliun.
Rosan optimistis tren positif ini akan terus berlanjut dan menjadikan hilirisasi sebagai pengungkit utama pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menilai kontribusi investasi terhadap perekonomian yang selama ini berada di kisaran 28–29 persen berpotensi meningkat ke depan.
“Jadi alhamdulillah ini tercapai karena memang kalau kita lihat kontribusi dari investasi terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia itu biasanya mencapai kurang lebih 28–29 persen tapi kami melihat ini bisa kontribusinya makin meningkat ke depannya,” tambahnya.
Menurut Rosan, penguatan sektor hilirisasi tidak hanya berdampak pada peningkatan nilai tambah komoditas, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global. Pemerintah pun terus mendorong optimalisasi investasi di sektor ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang pembangunan ekonomi.
Ke depan, pemerintah menargetkan hilirisasi tidak hanya berhenti pada tahap pengolahan awal, tetapi juga berlanjut ke sektor manufaktur yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dan berdaya saing global.





