Fenomena ‘Sengaja Menghilang’ di Tengah Budaya Serba Terhubung

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Di era ketika segala sesuatu bisa diakses dalam hitungan detik, justru muncul paradoks yang menarik: semakin banyak pilihan, semakin sulit seseorang merasa benar-benar puas. Fenomena ini tampak sederhana, tetapi diam-diam membentuk cara kita menjalani hidup sehari-hari. Kita tidak lagi sekadar memilih, melainkan terus membandingkan dan tanpa sadar, kelelahan.

Dulu, keputusan hidup sering kali bersifat terbatas. Pilihan pekerjaan, pasangan, bahkan gaya hidup cenderung ditentukan oleh lingkungan dan keadaan. Kini, batas itu hampir lenyap. Seseorang bisa menjadi apa saja, pergi ke mana saja, dan menjalani berbagai kemungkinan hidup sekaligus setidaknya secara imajinatif melalui layar. Namun, di balik kebebasan itu, tersimpan tekanan yang tidak kecil: ketakutan memilih jalan yang “salah”.

Setiap pilihan yang diambil terasa seperti menutup kemungkinan lain yang mungkin lebih baik. Akibatnya, keputusan tidak lagi menjadi titik tenang, melainkan sumber kegelisahan. Bahkan setelah memilih, seseorang masih dihantui pertanyaan: “Bagaimana kalau tadi aku memilih yang lain?” Perasaan ini tidak selalu muncul secara terang, tetapi cukup untuk mengganggu rasa cukup dalam diri.

Media digital memperkuat kondisi ini. Kita tidak hanya melihat kehidupan orang lain, tetapi juga versi terbaiknya. Liburan yang tampak sempurna, karier yang melesat, relasi yang harmonis semuanya hadir sebagai pembanding yang seolah nyata dan mudah dicapai. Padahal, yang terlihat hanyalah potongan kecil yang sudah diseleksi. Namun, pikiran kita jarang bekerja sejernih itu. Kita tetap membandingkan, tetap merasa tertinggal.

Menariknya, di tengah kondisi ini, muncul kesadaran baru: bahwa mungkin yang dibutuhkan bukanlah lebih banyak pilihan, melainkan kemampuan untuk menerima pilihan yang sudah diambil. Kepuasan tidak selalu datang dari menemukan yang paling sempurna, tetapi dari berdamai dengan yang sudah ada. Ini bukan sikap pasrah, melainkan bentuk kedewasaan dalam melihat hidup.

Belajar merasa cukup menjadi hal yang tidak mudah di zaman sekarang. Ia bertentangan dengan arus yang terus mendorong kita untuk mencari lebih, menjadi lebih, dan memiliki lebih. Namun, justru di situlah letak tantangannya. Ketika seseorang mampu berhenti sejenak dan berkata, “ini sudah cukup,” ada ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh banyaknya opsi.

Pada akhirnya, hidup mungkin bukan tentang memilih yang paling benar di antara sekian banyak kemungkinan, melainkan tentang bagaimana kita menjalani pilihan itu dengan utuh. Sebab, terlalu sibuk mencari alternatif sering kali membuat kita lupa untuk benar-benar hadir dalam kehidupan yang sedang dijalani.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
May Day 2026: 400.000 Buruh Siap Padati Monas, Ini Agendanya
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Ibu Bawa Anak Dijambret, Pelaku Lari Tabrak Ibu-Ibu yang Lain
• 8 jam lalurealita.co
thumb
Medco Resmi Tampung Produksi Sumur Minyak Rakyat di Banyuasin
• 16 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Ketua Komisi X DPR RI Sebut Transformasi Prodi Lebih Tepat Dibandingkan Penutupan Massal
• 18 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Dipercaya Jadi Menteri LH, Jumhur Bakal Sulap Pengelolaan Sampah RI sesuai Standar Global
• 3 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.