Media Sosial dan Pabrikasi Krisis Tanpa Aba-Aba

cnbcindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita
Foto: Ilustrasi media sosial. (Edward Ricardo/CNBC Indonesia)

Lima belas detik, mungkin bukan waktu yang panjang bagi Andy Byron maupun Kristin Cabot. Namun sangat berarti, saat keduanya mengalami insiden yang tak pernah dilupakan. Mendudukkannya pada krisis berkepanjangan dan mengubah hidup jadi tak menyenangkan.

Di waktu yang singkat, keduanya "berhasil" mengalihkan perhatian ribuan penonton: dari panggung konser musik ke layar besar di pinggir stadion. Sayang, perhatian yang diterima bukan pada yang dikehendaki keduanya. Namun pada pengalaman yang hendak disimpannya di ruang privat.


Baca: Usai Viral di Konser Coldplay, Kristin Cabot Terima Ancaman Pembunuhan

Byron dan Cabot adalah eksekutif Astronomer. Sebuah perusahaan jasa konsultasi, yang menganalisis kinerja perusahaan dengan mengandalkan artificial intelligence (AI). Darinya dihasilkan optimalisasi strategi, percepatan inovasi, maupun dorongan pertumbuhan, melalui efisiensi perusahaan berbasis data. Byron berposisi sebagai CEO, sedangkan Cabot merupakan Chief People Officer -kepala SDM-- perusahaan.

Yang dialami disebut insiden, lantaran tak ada tanda sedikit pun bakal menimpa keduanya. Byron dan Cabot --bersama sedikitnya 50.000 penonton lain-- sedang menikmati konser Coldplay. Pertunjukan yang berlangsung pada 16 Juli 2025, di Gillette Stadium, Foxborough, Massachusetts, Amerika.

Dan tanpa aba-aba --tiba-tiba blarrrrr-- keduanya terekam kiss cam dan muncul di layar jumbotron. Tentu saja jadi tontonan sebagian besar isi stadion. Tanpa disadari keduanya --dalam waktu lima belas detik-- pasangan ini ditampilkan sedang berpelukan, seraya berciuman layaknya pasangan yang saling mengasihi. Lontaran penyanyi Chris Martin, membuat perhatian penonton makin riuh. Keduanya sedang berselingkuh? Candanya.

Kiss cam merupakan istilah, diselipkannya segmen tambahan di tengah pertunjukan -olah raga maupun konser musik- yang telah populer di Amerika sejak tahun 1980‑an. Tujuannya untuk mencairkan suasana atau memberi jeda sejenak, agar penonton tak jenuh dengan yang disaksikannya.

Segmen ini dilakukan dengan mengarahkan kamera kepada pasangan atau penonton yang berdampingan. Hasilnya ditampilkan pada layar yang berukuran super besar, bertulisan Kiss Cam. Dari upaya acak ini, penonton berharap: yang ditampilkan sedang berciuman atau berpelukan. Kemudian disoraki bersama-sama. Sebuah segmen yang menyatukan puluhan ribu penonton.

Namun pada insiden yang menimpa Byron dan Cabot, keadaannya jadi canggung. Bahkan saat terjadinya di AS, yang warganya disebut sangat menghormati kebebasan berekspresi individu lain. Bagi kebanyakan warga, perilaku individu lain yang bukan urusannya tak jadi perhatiannya.

Canggungnya keadaan itu dikemukakan Arwa Mahdawi, 2025, dalam "Obsessed with the Coldplay Kiss Cam Story? I was too, until I realised the sinister truth at the heart of it". Disebutkannya: setelah tertangkap kiss cam di konser Coldplay, insiden yang menimpa Byron dan Cabot jadi pemberitaan di seluruh dunia.

Juga tayangannya diulang-ulang di berbagai pertandingan olahraga. Para detektif internet, dengan cepat menemukan keduanya sebagai rekan kerja di perusahaan. Tentu bukan pengalaman yang menyenangkan bagi siapa pun.

Memang tak masuk akal: pergi ke konser dengan lebih dari 50.000 penonton --yang masing-masing memegang perekam di tangannya-- dan mengharapkan privasi. Namun yang disesalkan dari insiden itu, telah terjadi perilaku negara pengawasan dengan nafsu internet yang tak pernah puas untuk mempermalukan khalayak.

Identitas pasangan itu tak hanya cepat terungkap, namun orang-orang juga mengidentifikasi keduanya seraya membanjiri halaman Facebook-nya dengan komentar-komentar kejam. Memang dalihnya: keduanya merupakan eksekutif perusahaan yang masih terikat pada pernikahannya masing-masing. Karenanya dituntut menjaga reputasi perusahaan dengan menjaga perilaku patut, di ruang publik.

Dari pengalaman Byron dan Cabot itu, muncul pertanyaan: telah berubahkah masyarakat Amerika? Apakah menghormati kebebasan individu --dengan cara tak mencampuri urusan individu lain-bukan lagi identitas Amerika?

Sebab yang tampak mengikuti insiden itu, justru berkembangnya perilaku: mengawasi dan mengomentari individu lain di media sosial, sebagai konten penarik perhatian. Atau bergesernya identitas itu, hanya sekadar mengikuti logika media sosial agar memperoleh popularitas lewat konten? Popularitas yang tentunya dapat dikomodifikasi, untuk menghasilkan uang.

Dari uraian Mahdawi berikutnya terungkap: Gracie Springer --perekam dan penggunggah insiden Byron-Cabot-- belum menjadi nama yang terkenal. Tetapi entah olok-olok atau memang formula yang jitu, banyak yang menyebut: yang dilakukan Gracie Springer adalah cara untuk menyerap perhatian dan menjadi terkenal.

Bahkan The Mail menyebut, "Video Grace mungkin belum menghasilkan uang baginya, tetapi telah membuatnya terkenal. Lalu langkah berikutnya, bagaimana ia memonetisasi visibilitas itu." Ditandaskan Mahdawi --dengan ungkapan yang terasa sinis-- seperti pepatah lama, tragedi pribadi individu lain adalah peluang konten yang dapat dimonetisasi oleh individu lainnya lagi.

Keaadaan yang ditemui Mahdawi di atas, tampaknya bukan gejala baru. Juga bukan petunjuk pergeseran identitas Amerika. Sama sekali bukan. Menjadikan insiden yang dialami seseorang sebagai penarik perhatian yang bernilai ekonomi, adalah fenomena khas media sosial. Kejadiannya di seluruh dunia. Ini dikonfirmasi James L'Angelle, 2026, dalam "Nancy Guthrie Phenomenon 003: Marxism, News Commodification, Social Media Fetishism".

L'Angelle mengemukakan adanya fenomena yang disebut sebagai "komodifiikasi kesengsaraaan". Di balik fenomena itu, terdapat sistem kapitalis yang bekerja. Caranya, mengemas kesengsaraan manusia sebagai tontonan yang menguntungkan.

Komodifikasinya diawali dengan upaya menyerap perhatian. Misalnya ditempuh melalui peringatan mendadak, breaking alert. Bisa berupa pemberian label semacam breaking news, pada informasi yang didistribusikan. Fungsinya, membangun perasaan penting agar segera memperhatikan. Diikuti diundangnya panel ahli untuk mengomentari, sehingga terbangun legitimasi terhadap pentingnya informasi.

Dalam sudut pandang Marxis, tahapan komodifikasi kesengsaraan itu, lazim sebagai cara media mengubah peristiwa menjadi bernilai. Nilainya kemudian diukur dari click, maupun peringkat. Tak ada tujuan menyebarkan kebenaran atau keadilan. Media sosial mengintesifkan seluruh prosesnya, dengan memfetisisasi kesengsaraan. Adapun khalayak media sosial yang tidak dibayar, bekerja memperkaya platform.

Secara sistematis, komodifikasi kesengsaraan --yang bertujuan memonetisasi tragedi pribadi-- di media sosial, melibatkan peran algoritma, ekonomi perhatian dan manipulasi emosi manusia. Pertama, algoritma bekerja dengan mengidentifikasi konten yang memperoleh perhatian khalayak.

Semakin kerap perhatian diperoleh, konten akan terus ditampilkan. Sehingga khalayak mengalami ilusi: pentingnya konten. Karenanya, perhatian harus dicurahkan pada konten semacamnya. Algoritma yang bekerja dengan cara itu, berperan sebagai insentif algoritmik.

Kedua, ekonomi perhatian. Konsep ini digagas Herbert A. Simon di akhir tahun 1960an. Disebutnya, akibat informasi yang banyak, jumlah perhatian yang dimiliki manusia menjadi terbatas. Karenanya khalayak dengan jumlah perhatian yang terbatas itu -terdistribusi sebagai waktu 24 jam sehari-- melakukan pilihan untuk memperoleh kepuasan yang optimal.

Ini sesuai dengan prinsip ekonomi dalam perilaku manusia. Perilaku mengoptimalkan penggunaan sumberdaya yang dimiliki, namun tersedianya terbatas. Terhadap sumberdaya perhatian, dijatuhkan pada sesuatu yang langka maupun mendatangkan rasa ingin tahu. Karena keduanya tak mudah terulang, maka perhatian harus dialokasikan.

Dengan formula ini, konten yang bercorak drama maupun kesengsaraan -yang tak mudah terulang-- jarang luput dari perhatian. Sistem mengubah tragedi pribadi maupun kesengsaraan, menjadi tontonan bergaya drama maupun kejahatan yang nyata.

Dan yang ketiga, psikologi manusia. Rasa iri pada individu lain maupun kelemahan diri sendiri yang sulit disembuhkan, menemukan obatnya pada insiden yang dialami individu lain. Keadaan ini sering disebut sebagai schadenfreude.

Tampil berupa munculnya rasa kuat, oleh kesengsaraan individu lain. Suatu mekanisme penyembuhan diri yang ganjil. Namun sistem memfasilitasi kecenderungan ganjil ini: menjadikan kesengsaraan individu lain, sebagai medium olok-olok maupun komentar buruk. Seluruhnya demi lepasnya kesengsaraan diri sendiri.

Pada insiden yang dialami Byron dan Cabot, tak heran kontennya ditampikan berulang-ulang pada berbagai perhelatan. Juga ditingkahi komentar, yang seakan-akan disampaikan oleh individu yang terbebas dari kesalahan. Individu paling benar di muka bumi. Sebab kesalahan individu lain adalah obat bagi diri sendiri.

Lewat mekanisme di atas, tak heran insiden yang menimpa individu maupun perusahaan kerap terjadi, termediasi media sosial. Tanpa dapat dikenali gejalanya, tiba-tiba blarrrrrrr. Dan krisis mengikutinya. Saat kemalangan yang dialami pihak lain diterima sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan, krisis mengancam siapa pun setiap saat.

Kesengsaraaan adalah fetis baru zaman media sosial. Hari ini jadi pihak yang menertawakan kesengsaraan individu lain, lewat konten. Namun di saat lain, justru dijadikan konten yang ditertawakan. Semengerikan itulah media sosial hari ini. Lalu, masih mau mengakrabinya?


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kebuntuan Diplomasi AS-Iran: Gagal Capai Kesepakatan
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
RSUD Kota Bekasi Terima Korban Tabrakan KA vs KRL, Ambulans Berdatangan
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Wamendagri: Kewenangan Tanpa Kemampuan adalah Angan-angan
• 15 jam laludetik.com
thumb
Hasan Nasbi Siap Perkuat Komunikasi Pemerintah Usai Dilantik Prabowo
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Motif di Balik Pembunuhan Kacab Bank, Skema Bobol Rekening Dorman dan Fee Rp5 Miliar
• 8 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.