JAKARTA, KOMPAS - Konsumsi tinggi makanan ultra-olahan dapat berdampak negatif pada kemampuan otak untuk fokus dan meningkatkan risiko terkena demensia. Penggunaan bahan aditif buatan atau bahan kimia pengolahan dikaitkan dengan dampak buruk makanan ultra-olahan pada kemampuan kognisi.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Alzheimer's & Dementia: Diagnosis, Assessment & Disease Monitoring pada 23 April 2026 ini meneliti diet dan kesehatan kognitif lebih dari 2.100 orang dewasa paruh baya dan lanjut usia di Australia. Penelitian baru ini merupakan kolaborasi para peneliti dari Universitas Monash, Universitas São Paulo, dan Universitas Deakin.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa sedikit peningkatan asupan makanan ultra-olahan (UPF) setiap hari dikaitkan dengan penurunan rentang perhatian yang terukur. Penulis utama, Barbara Cardoso, dari Departemen Nutrisi, Dietetika dan Makanan serta Institut Jantung Victoria di Universitas Monash, mengatakan studi ini memperkuat hubungan yang jelas antara manufaktur makanan industri dan penurunan kognitif.
Serial Artikel
Isi Piring Sehat yang Menjauh dari Anak
Dominasi pangan ultra-olahan tinggi garam, lemak, dan gula yang dikonsumsi anak-anak bukan soal selera individu, tetapi karena sistem pangan dikuasai industri.
"Untuk menempatkan temuan kami dalam perspektif, peningkatan 10 persen dalam UPF kira-kira setara dengan menambahkan satu bungkus keripik standar ke dalam diet harian Anda," kata Cardoso.
Ia memaparkan setiap peningkatan 10 konsumsi makanan ultra-olahan, tampak jelas dan teukur penurunan kemampuan seseorang untuk fokus. Secara klinis, hal ini diterjemahkan menjadi skor yang secara konsisten lebih rendah pada tes kognitif standar yang mengukur perhatian visual dan kecepatan pemrosesan.
Para peserta studi mengonsumsi sekitar 41 persen energi harian mereka dari makanan ultra-olahan, yang hampir sama dengan rata-rata nasional Australia sebesar 42 persen. Makanan ultra-olahan dalam studi ini didefinisikan sebagai produk pangan industri sehari-hari seperti minuman ringan, camilan asin kemasan, dan makanan siap saji, pada dasarnya apa pun yang bukan makanan segar utuh.
Konsumsi UPF yang tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko demensia hingga 44 persen.
Karena efek negatif makanan ultra-olahan terjadi terlepas dari kualitas diet seseorang secara keseluruhan, bahkan untuk orang yang mengikuti diet Mediterania yang sehat, para peneliti mengatakan bahwa tingkat pengolahan makanan memainkan peran penting dalam kerusakan tersebut.
"Pengolahan makanan ultra-olahan seringkali menghancurkan struktur alami makanan dan memasukkan zat-zat yang berpotensi berbahaya seperti aditif buatan atau bahan kimia pengolahan," kata Cardoso. "Zat tambahan ini menunjukkan bahwa hubungan antara diet dan fungsi kognitif melampaui sekadar menghindari makanan yang dikenal sehat, dan mengarah pada mekanisme yang terkait dengan tingkat pengolahan makanan itu sendiri."
Mengonsumsi lebih banyak UPF dikaitkan dengan peningkatan faktor risiko demensia, yang meliputi kondisi kesehatan seperti tekanan darah tinggi atau obesitas yang dapat dikelola secara aktif untuk melindungi otak.
Meskipun penelitian ini tidak menemukan hubungan langsung antara UPF dan kehilangan ingatan, rentang perhatian adalah dasar dari banyak operasi otak penting, seperti pembelajaran dan pemecahan masalah.
Studi sebelumnya telah banyak mengaitkan konsumsi UPF dengan masalah kognisi. Salah satu bukti paling kuat datang dari meta-analisis oleh Alex E. Henney di Journal of Neurology (2023), yang menggabungkan data dari sekitar 867.000 partisipan.
Studi ini menemukan bahwa konsumsi UPF yang tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko demensia hingga 44 persen. Meski bersifat observasional, konsistensi hasil lintas studi memberi bobot penting, ada sesuatu dalam makanan ultra-proses yang secara sistematis berkorelasi dengan penurunan kognitif.
Temuan serupa muncul dari studi longitudinal terkenal, Framingham Heart Study, yang dianalisis oleh Taylor J. O'Bryan dan timnya (2025). Dalam pemantauan lebih dari satu dekade, setiap tambahan satu porsi UPF per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko Alzheimer sebesar 13 persen. Lebih ekstrem lagi, mereka yang mengonsumsi sekitar 10 porsi UPF per hari memiliki risiko hingga 2,7 kali lipat. Yang paling mengkhawatirkan, efek ini sudah terlihat pada usia paruh baya, jauh sebelum gejala demensia muncul.
Bahkan sebelum demensia didiagnosis, dampaknya sudah terlihat. Dalam studi yang dipublikasikan di JAMA Neurology tahun 2022, Claudia Suemoto dan timnya menemukan bahwa individu dengan konsumsi UPF tinggi mengalami penurunan fungsi kognitif yang lebih cepat, terutama dalam memori dan fungsi eksekutif. Ini menunjukkan bahwa UPF bekerja secara perlahan, menggerus kapasitas kognitif jauh sebelum kerusakan menjadi permanen.
Penjelasan biologis kaitan konsumsi UPF dan kognisi relatif kompleks. UPF berkaitan dengan obesitas, diabetes, dan penyakit kardiovaskular, semua faktor risiko utama demensia. Ia juga memicu inflamasi kronis, mengganggu mikrobiota usus (yang terhubung dengan otak melalui gut–brain axis), dan membawa berbagai aditif yang efek jangka panjangnya belum sepenuhnya dipahami.
Studi eksperimental menunjukkan bahwa pengawet tertentu dalam makanan dapat merusak sel dan DNA serta memiliki efek buruk pada metabolisme. Misalnya, studi Zengin N dan tim di jurnal Food and Chemical Toxicology (2010) dengan pendekatan in vitro terhadap limfosit manusia menunjukkan bahwa sodium benzoate dan potassium benzoate dapat menyebabkan peningkatan kerusakan DNA pada sel manusia dibanding kontrol. Ini menunjukkan efek buruk pengawet ini pada tingkat seluler.





