JAKARTA, KOMPAS.com — Suasana duka menyelimuti SD Negeri 11 Pulogebang pada Selasa (28/4/2026) pagi.
Nurlela, salah satu guru di sekolah tersebut, dilaporkan tewas dalam kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam. Sejumlah guru pun bersiap melayat ke rumah duka di Cikarang.
Sejak pagi, hujan mengguyur area sekolah yang berada di dalam gang kecil itu. Murid berseragam merah-putih dan baju olahraga merah-kuning datang silih berganti. Mereka diantar orangtua menggunakan sepeda motor, bersepeda, hingga berjalan kaki.
Baca juga: Pesan Terakhir Nurlela sebelum Tewas dalam Tabrakan KA Argo Bromo dan KRL saat Pulang
Sekolah tersebut memiliki dua gerbang berlapis. Satu gerbang digunakan sebagai area orang tua menurunkan anak-anak, sedangkan gerbang lainnya menjadi pembatas dengan area antar-jemput. Seorang petugas keamanan tampak berjaga memantau kedatangan murid.
Tak lama kemudian, petugas meminta area antar-jemput dikosongkan dari sepeda motor karena ada mobil yang akan keluar. Sebuah mobil putih lalu mundur keluar dari area sekolah. Lima guru berseragam cokelat terlihat masuk ke dalam kendaraan tersebut.
Pihak sekolah belum bersedia memberikan keterangan lebih lanjut. Menurut petugas keamanan, para guru tersebut hendak menuju kediaman Nurlela di Cikarang.
“Belum bisa ketemu (Kepala Sekolah) ya. Soalnya mau berangkat ke rumahnya (Ibu Nurlela) atau rumah sakit,” kata petugas ditemui di lokasi, Selasa.
Ia menambahkan, guru lain dijadwalkan menyusul setelah kegiatan belajar mengajar (KBM) selesai sekitar pukul 10.00 WIB.
Baca juga: Nurlela, Guru SD di Jaktim Tewas dalam Tabrakan KA Argo Bromo Vs KRL Saat Pulang
Pesan terakhir sebelum kejadianSebelumnya, Nurlela dilaporkan menjadi salah satu korban tewas dalam kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
Kerabat sekaligus penjaga sekolah, Endang, mengaku diminta kepala sekolah untuk mencari informasi terkait keberadaan Nurlela setelah kabar kecelakaan muncul.
Endang menyebut, Nurlela merupakan guru sekaligus bendahara di sekolah tersebut. Ia mengaku terkejut setelah mengetahui kabar kecelakaan dari siaran televisi.
"Lihat berita ini, saya kaget kan Teh Ela (meninggal). Saya disuruh kepala sekolah, suruh nyari informasi, sudah ke sana, tapi katanya sudah dievakuasi," ujar Endang di depan Instalasi Pemulangan Jenazah RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026) dini hari.
Sekitar satu jam sebelum kejadian, Endang masih berkomunikasi dengan Nurlela melalui WhatsApp. Saat itu, Nurlela meminta tolong agar jus yang tertinggal di meja dibuang.
"Bahkan jam 20.16 WIB dia WA saya, kan jusnya ketinggalan, mungkin takut disemutin, mau minta tolong buangin mungkin," katanya.
Akibat kejadian tersebut, tujuh penumpang KRL meninggal dunia dan 81 orang lainnya mengalami luka-luka.
Baca juga: Basarnas Pastikan 3 Korban Terjebak Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur Telah Dievakuasi
Para korban saat ini menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.
Sementara itu, sebanyak 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat.
Untuk mempercepat proses evakuasi, PT Kereta Api Indonesia (Persero) sempat menghentikan sementara operasional kereta api jarak jauh dari Jakarta, baik dari Stasiun Pasar Senen maupun Stasiun Gambir.
KAI juga membuka posko informasi di Stasiun Bekasi Timur serta menyediakan layanan contact center 121 bagi keluarga yang mencari informasi terkait penumpang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang





