Padel menjadi olahraga yang sangat diminati masyarakat kelas menengah di Indonesia. Tidak hanya sekadar aktivitas olahraga, padel kini berkembang menjadi ekosistem bisnis yang dinilai prospektif.
Padel awalnya diperkenalkan oleh komunitas ekspatriat yang menetap di Bali selama pandemi Covid-19. Pembatasan mobilitas membuat mereka tidak bisa kembali ke negara asalnya. Untuk mengatasi kebosanan, mereka pun membangun lapangan padel pertama di Bali.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren olahraga padel di Indonesia kian marak. Tak hanya di Bali, padel juga semakin populer kota-kota besar di Indonesia. Mengutip ”Indonesia Padel Growth Padel 2025”, pertumbuhan pesat industri padel di Indonesia ditandai dengan meningkatnya jumlah klub hingga 295 persen.
Perkembangan padel di Indonesia juga tecermin dari semakin banyaknya lapangan yang dibangun. Dari hanya 15 lapangan pada 2021, jumlah lapangan padel bertambah menjadi 947 tahun 2025. Tahun ini, jumlah lapangan padel diproyeksikan mencapai lebih dari 2.500.
Jakarta menjadi provinsi dengan lapangan padel terbanyak. Merujuk pendataan Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan Jakarta, hingga 23 Februari 2026, total ada 397 lapangan padel di Jakarta. Rinciannya, sebanyak 206 di Jakarta Selatan, 90 di Jakarta Barat, 37 di Jakarta Utara, 37 di Jakarta Timur, 26 di Jakarta Pusat, dan 1 di Kepulauan Seribu.
Namun, di balik pesatnya perkembangan bisnis padel, ada dinamika yang perlu diwaspadai. Pelemahan kurs rupiah ditambah laju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif stagnan memberikan sinyal peringatan bagi sektor usaha yang bergantung pada impor, salah satunya padel.
Dari sisi bisnis, komponen infrastruktur lapangan padel masih didominasi impor, misalnya, kaca, rumput sintetis, hingga perlengkapan pendukungnya. Semakin lemah kurs rupiah berarti semakin mahal ongkos infrastruktur yang harus ditanggung pengusaha. Kondisi ini bisa memutus momentum bisnis yang sedang berkembang.
Sementara dari sisi pasar, minatnya berpotensi turun karena harga perlengkapan olahraga merangkak naik dampak dari pelemahan kurs rupiah. Pada saat yang sama, daya beli peminat padel, yang mayoritas kelas menengah, juga sedang melemah. Di tengah kondisi ini muncul pertanyaan, apakah bisnis padel di Indonesia mampu bertahan atau justru tertahan?
Fenomena menjamurnya pertumbuhan lapangan padel mencerminkan kuatnya permintaan dari kelompok masyarakat tertentu di Indonesia. Padel bukan sekadar olahraga, melainkan menjadi bagian dari konsumsi gaya hidup urban. Kombinasi antara olahraga, hiburan, dan sosialisasi menjadikan padel lebih dari sekedar sebuah tren.
Menurut data Federation Internationale de Padel (FIP) per Mei 2024, Indonesia menempati posisi strategis dalam industri padel secara global. Dari 81 negara, Indonesia berada di peringkat teratas di Asia Tenggara, ke-6 di Asia, dan ke-29 dunia. Peringkat ini dinilai berdasarkan jumlah lapangan aktif yang terdaftar di Indonesia.
Minat masyarakat urban terhadap olahraga padel juga terpotret semakin meningkat setidaknya dalam dua tahun terakhir (2024-2025). Tak hanya penyewaan lapangan dan raket, perputaran ekonomi turut berkembang dengan adanya layanan sports massage, penjualan pakaian olahraga, turnamen komunitas, hingga jasa pelatih. Jasa pelatih kini menjamur semakin tingginya minat dan keseriusan bermain padel.
Dengan strategi pengelolaan yang tepat, bisnis padel bukan hanya tren sementara, melainkan bisa menjadi industri dengan potensi besar. Bahkan, bisnis padel menghadirkan ekosistem bisnis baru di sektor olahraga dan gaya hidup.
Selain itu, faktor lain yang mendorong bisnis padel semakin berkembang adalah pemanfaatan teknologi digital. Pemesanan lapangan melalui aplikasi, sistem keanggotaan berbasis aplikasi, hingga platform turnamen digital semakin memudahkan pemain untuk saling terhubung.
Pada akhirnya, masa depan padel bukan hanya soal popularitas, melainkan tentang ekonomi yang tumbuh cepat dan mulai diuji daya tahannya.
Meskipun peluang bisnis padel di Indonesia cukup menjanjikan, ada sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi oleh para pelaku usaha. Salah satunya adalah ekosistem pembangunan lapangan padel yang masih terkonsentrasi di wilayah-wilayah dengan daya beli tinggi, terutama di Jakarta dan sekitarnya.
Pertumbuhan yang terkonsentrasi ini tentunya sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar Jakarta. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, perekonomian Jakarta tumbuh 5,21 persen tahun 2025, lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang sebesar 4,90 persen. Adapun Banten mengalami pertumbuhan dari 4,79 persen tahun 2024 menjadi 5,37 persen tahun 2025.
Di luar Jakarta, Bali menempati peringkat kedua dengan ekosistem pembangunan lapangan padel terbanyak, dipengaruhi oleh wisatawan dan ekspatriat. Kondisi ini sejalan dengan perputaran roda ekonomi di Bali yang tahun 2024 tumbuh 5,48 persen dan semakin tinggi tahun 2025 menjadi 5,82 persen.
Pertumbuhan bisnis padel yang cenderung terkonsentrasi di kota-kota besar ini menjadi tantangan. Di satu sisi, bisnis yang terkonsentrasi dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah karena pasar padel sudah tepat sasaran. Namun, di sisi lain, konsentrasi ini menciptakan kerentanan. Jika jumlah lapangan padel bertambah lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pemain, tingkat pemanfaatannya bisa turun.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menjadi risiko lain yang harus dihadapi bisnis padel. Jika berlangsung lama, pelemahan kurs rupiah akan berpengaruh pada biaya pembangunan lapangan dan operasional. Ketika biaya investasi meningkat sementara harga sewa sulit dinaikkan, dampaknya profit akan tergerus dan bisnisnya tidak menarik lagi.
Namun, jika daya tahan konsumsi kelas menengah tetap tinggi, permintaan terhadap olahraga padel akan terus bertahan. Oleh karena itu, kemampuan pelaku usaha dalam mengelola biaya dan membangun komunitas pemain yang loyal juga harus tetap dipertahankan.
Tantangan lainnya terkait izin pembangunan, ketersediaan lahan, dan biaya perawatan yang perlu diperhitungkan. Hal yang tak kalah penting, ketersediaan pelatih dan sumber daya manusia yang memahami olahraga padel. Tanpa SDM yang memadai, pengembangan padel di Indonesia akan berjalan lambat.
Gula-gula bisnis padel ke depan masih cukup manis. Namun, tantangannya memang besar, apalagi dengan tren pelemahan kurs rupiah ditambah pertumbuhan ekonomi yang relatif stagnan kisaran 5 persen. Kolaborasi pemerintah dan dunia usaha menjadi faktor penentu masa depan bisnis padel di Indonesia, apakah akan konsisten berkembang atau berhenti di tengah jalan. (LITBANG KOMPAS)





