Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (28/4/2026). Tekanan datang seiring penguatan indeks dolar AS atau DXY menjelang agenda penting bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, rupiah melemah 0,29% ke level Rp17.235/US$. Pelemahan ini membuat rupiah menjadi salah satu mata uang Asia dengan tekanan cukup besar pagi ini.
Baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah turun 0,31% ke level THB 32,42/US$. Setelah itu ada peso Filipina yang melemah 0,14% ke PHP 60,79/US$, dolar Taiwan turun 0,11% ke TWD 31,49/US$, dan yuan China melemah 0,09% ke CNY 6,82/US$.
Won Korea juga terkoreksi 0,04% ke level KRW 1.474,62/US$, dolar Singapura melemah tipis 0,02% ke SGD 1,274/US$, sementara yen Jepang turun 0,05% ke JPY 159,5/US$.
Di sisi lain, hanya sebagian kecil mata uang Asia yang mampu bertahan di zona hijau. Dong Vietnam menguat 0,09% ke level VND 26.326/US$, sementara ringgit Malaysia naik tipis 0,03% ke MYR 3,94/US$.
Tekanan terhadap mata uang Asia terjadi ketika dolar AS kembali menguat di pasar global. Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.15 WIB terpantau naik 0,07% ke level 98,562.
Pergerakan dolar AS hari ini banyak dipengaruhi oleh sikap pelaku pasar yang menunggu hasil rapat The Fed. Komite pembuat kebijakan The Fed atau Federal Open Market Committee (FOMC) akan menggelar pertemuan pada Rabu waktu setempat dan diperkirakan masih akan menahan suku bunga.
Meski keputusan suku bunga diperkirakan belum berubah, perhatian pasar akan tertuju pada pernyataan The Fed terkait kondisi ekonomi AS. Investor ingin melihat apakah bank sentral AS mulai lebih optimistis terhadap ekonomi, atau justru masih khawatir terhadap inflasi yang belum turun cepat.
Dikutip dari Reuters, Steve Englander, global head of G10 FX research Standard Chartered di New York, menilai rapat kali ini bukan pertemuan yang fokus utamanya ada pada perubahan suku bunga. Namun, penilaian The Fed terhadap ekonomi bisa saja membaik.
Dia juga menilai inflasi masih membaik sangat lambat dan bisa menjadi isu penting bagi Kevin Warsh ketika nantinya menjabat.
Agenda The Fed pekan ini juga menjadi perhatian karena pertemuan tersebut kemungkinan menjadi rapat terakhir Jerome Powell sebagai ketua The Fed. Hal ini terjadi setelah Senator Republik Thom Tillis mencabut hambatannya terhadap proses konfirmasi Kevin Warsh pada Minggu.
Komite Perbankan Senat AS juga diperkirakan akan meneruskan nominasi Warsh sebagai Ketua The Fed ke sidang penuh Senat. Pemungutan suara dijadwalkan berlangsung pada Rabu pagi waktu AS.
Selain faktor The Fed, pasar juga masih mencermati perkembangan perang Iran.
Mayoritas mata uang global cenderung bergerak terbatas karena investor menunggu tanda-tanda baru terkait peluang berakhirnya perang tersebut.
Presiden AS Donald Trump pada Senin telah membahas proposal baru Iran untuk menyelesaikan perang bersama para penasihat keamanan nasionalnya.
Namun, seorang pejabat AS kemudian menyebut Trump belum puas dengan proposal itu karena tidak membahas program nuklir Iran.
Kondisi ini membuat pasar masih berhati-hati. Selama arah kebijakan The Fed belum jelas dan perang Iran belum menunjukkan titik terang, dolar AS masih berpeluang menjadi penentu utama pergerakan mata uang Asia, termasuk rupiah.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw/evw) Add as a preferredsource on Google




