Grid.ID - Aktor senior Mathias Muchus membagikan pandangannya mengenai perubahan karakter di dunia perfilman Indonesia. Ia menilai perjalanan industri ini telah mengalami banyak transformasi seiring perkembangan zaman.
Mathias diketahui telah hampir 45 tahun berkarya di dunia hiburan. Pengalaman panjang itu membuatnya menyaksikan langsung berbagai fase penting dalam perfilman Tanah Air.
Ia pun mengungkapkan bahwa perubahan yang terjadi sangat beragam dan terasa signifikan. Hal itu mencakup banyak aspek, mulai dari teknis hingga sikap para pelaku industri.
"Banyak, dari manual sampai digital. Dari sopan sampai nggak sopan, dari rajin sampai malas, banyak perbedaannya," ujarnya saat berada di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada Senin (27/4/2026).
Menurutnya, perkembangan perfilman Indonesia tidak hanya terlihat dari teknologi yang digunakan. Namun juga dari cara kerja dan karakter orang-orang yang terlibat di dalamnya.
"Puluhan tahun itu membuat pergerakan perfilman kita itu sangat signifikan. Produksinya, ceritanya juga, orang-orangnya juga," tuturnya.
Pria berusia 69 tahun ini juga menyoroti perubahan dalam latar belakang para pelaku industri film. Kini, banyak talenta baru yang datang dari jalur pendidikan formal seperti sekolah dan akademi.
"Dari yang tadinya notabene rata-rata orangnya itu yang pengalaman aja, tiba-tiba ke sekolahan, ke akademi, ke segala macam. Jadi perubahan itu sangat drastis di produksi. Juga perubahannya gila-gilaan," katanya.
Selain itu, Mathias melihat adanya perubahan dalam kebersamaan antar pemain. Dulu, hubungan antar aktor terasa lebih dekat karena jumlahnya tidak sebanyak sekarang.
"Kalau dulu itu kita pemain-pemain itu bisa guyub gitu ya, karena memang sedikit. Sekarang tuh udah menyebar banyak sekali. Entah dari mana-mana mereka datangnya, tiba-tiba banyak sekali," ungkapnya.
Ia juga menyinggung perbedaan kondisi generasi dulu dan sekarang. Menurutnya, generasi saat ini memiliki keunggulan dari segi pemenuhan gizi yang berdampak pada kualitas mereka.
"Dan pinter-pinter anak sekarang itu. Karena gizinya cukup. Kalau dulu kita cuma makan singkong. Sekarang mereka udah makan segala macam, dimakan semua, jadi banyak sekali perubahannyan," ucapnya.
Meski banyak perubahan terjadi, Mathias menilai arah perkembangan perfilman Indonesia cukup positif. Ia melihat adanya fondasi yang kuat dalam industri saat ini.
"Tapi perubahannya itu ke arah yang sebetulnya lumayan punya landasan yang kuat. Bisa kita lihat sekarang produksi perfilman nasional itu menjadi barometer buat kemajuan film di Asia Tenggara," pungkasnya. (*)
Artikel Asli




