Bekasi, VIVA – Tragedi tabrakan kereta di emplasemen Stasiun Bekasi Timur memunculkan sejumlah dugaan awal terkait penyebab insiden maut yang menewaskan belasan orang. Salah satu informasi yang beredar berasal dari kesaksian asisten masinis KA Argo Bromo Anggrek yang mengklaim adanya kejanggalan pada sistem sinyal sesaat sebelum kejadian.
Dalam potongan video viral di media sosial, Asisten masinis KA Argo Bromo itu mengklaim terjadi gangguan komunikasi dan kemungkinan error pada sinyal sesaat sebelum kejadian. Kondisi tersebut disebut berdampak langsung pada proses pengereman kereta yang tidak bisa dilakukan secara maksimal.
“Miss komunikasi, kayaknya tadi sinyalnya ada yang eror,” ujar asisten masinis.
Ia menambahkan, informasi dari pusat kendali belum sepenuhnya diterima ketika situasi darurat terjadi. Bahkan, perubahan sinyal menjadi merah disebut terjadi di saat yang tidak seharusnya.
“Tadi nginfoin PK (Pusat kendali) nya, cuman saya belum kopi informasinya sepenuhnya, udah keburu sinyalnya merah,” katanya.
Lebih lanjut, ia menilai perubahan sinyal tersebut tidak sesuai dengan prosedur normal perjalanan kereta.
“Harusnya itu gak bisa merah. Soalnya dari Bekasi hijau, koneksi harusnya, kalau hijau di sini maksimal kuning, tak bisa merah,” jelas asisten masinis KA Argo Bromo.
Dalam kondisi tersebut, KA Argo Bromo tetap melaju dengan kecepatan tinggi, sehingga pada saat ada perubahaan sinyal, KA tak sempat untuk berhenti sempurna.
“Kecepatan lumayan, 110 km/jam,” tambahnya.
Diketahui, insiden ini terjadi pada Senin malam, 27 April 2026 sekitar pukul 20.52 WIB di KM 28+920, tepatnya di emplasemen Stasiun Bekasi Timur. Rangkaian peristiwa bermula dari kecelakaan sebelumnya, saat sebuah KRL lain menabrak mobil taksi di perlintasan sebidang kawasan Bulak Kapal.
Akibat kejadian awal itu, perjalanan kereta Commuter Line PLB 5568A (CL KPB–CKR) terganggu hingga membuat Commuter Line terpaksa berhenti di jalur. Dalam kondisi tersebut, KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi yang melaju dari arah belakang tidak sempat menghentikan laju dan akhirnya menabrak bagian belakang KRL.
Hingga Selasa pagi, 28 April 2026 pukul 08.45 WIB, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat 14 orang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka. Proses evakuasi masih berlangsung, sementara penyebab pasti kecelakaan masih dalam penyelidikan pihak berwenang.





