Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan komitmennya menghadirkan sumber daya manusia (SDM) industri yang unggul, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan dunia usaha.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kolaborasi strategis antara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin denganLiuzhou Polytechnic University, perguruan tinggi negeri di Liuzhou, Tiongkok, yang berada di bawah Kementerian Pendidikan Republik Rakyat Tiongkok dan berfokus pada industri otomotif, mesin, serta teknologi informasi generasi baru.
Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) terkait pengembangan pendidikan dan pelatihan vokasi, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat pada Senin (27/4/2026) di Universitas Gadjah Mada.
Kepala BPSDMI Doddy Rahadi menyampaikan, dalam lima tahun terakhir realisasi investasi Tiongkok di sektor industri strategis seperti hilirisasi mineral, manufaktur, tekstil, hingga teknologi di Indonesia terus meningkat dengan nilai mencapai puluhan miliar dolar AS.
Menurut Doddy, investasi tersebut perlu dibarengi kesiapan SDM industri yang kuat dan kompeten, selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Oleh karena itu, dunia pendidikan harus mampu menciptakan link and match yang nyata dengan sektor industri.
“Kolaborasi pendidikan dan industri antara Indonesia dan Tiongkok perlu terus diperluas. Kehadiran China-Indonesia TVET Industry-Education Alliance (CITIEA) yang belum lama diresmikan merupakan langkah sangat baik dan perlu dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya, dikutip dari siaran pers Kemenperin, Selasa (28/4).
Wakil Presiden Liuzhou Polytechnic University, Qiu Fuming juga menyampaikan apresiasi kepada Kemenperin atas dukungan dalam pembentukan CITIEA dan keikutsertaan sebagai anggota aliansi.
“Kerja sama ini sangat penting bagi Tiongkok dan Indonesia untuk melaksanakan integrasi industri dan pendidikan, seperti pertukaran mahasiswa dan dosen, beasiswa pendidikan, penelitian akademik, kuliah umum, seminar, pengembangan program pendidikan, hingga dukungan terhadap sekolah dan politeknik Kemenperin sebagai anggota CITIEA,” ujarnya.
Sebelumnya, BPSDMI telah melaksanakan kunjungan kerja ke sejumlah kampus dan perusahaan industri di Tiongkok guna melihat secara langsung penerapan pendidikan vokasi, perkembangan teknologi industri, serta keselarasan antara teknologi yang digunakan di industri dengan proses pembelajaran di kampus.
Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI) Wulan Aprilianti Permatasari menyatakan, kerja sama dengan kampus-kampus Tiongkok merupakan langkah strategis agar Kemenperin mampu menyiapkan SDM yang dapat menjawab kebutuhan investor industri Tiongkok di Indonesia.
Baca Juga: Prabowo Dorong KEK Jadi Senjata Baru Ekonomi RI
Baca Juga: Pasar Modal RI Punya Shock Absorber Baru, Apa Itu PINTAR?
“Kami berharap, dengan bergabung dalam CITIEA, jejaring kerja sama semakin luas dan memberikan manfaat lebih besar bagi pengembangan SDM industri di Indonesia. Sinergi antara dunia pendidikan dan industri juga semakin erat sehingga mampu mendorong kemajuan industri nasional serta memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global,” tuturnya.
Guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja nasional, saat ini Kemenperin tengah membuka pendaftaran siswa dan mahasiswa baru pada unit pendidikan vokasi melalui Jalur Penerimaan Vokasi Industri (JARVIS) Bersama 2026 yang dapat diakses hingga Mei 2026 melalui laman jarvis.kemenperin.go.id.





