Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Gandeng sektor swasta melalui Konsorsium 1000 HPK, Pemerintah targetkan angka stunting turun hingga di bawah 7 persen.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak rendah diri dalam mengakui kekurangan pelayanan kesehatan di Indonesia.
Hal ini disampaikan Budi sebagai pemantik semangat untuk melakukan perubahan besar dalam penanganan stunting dan kesehatan ibu-anak.
Budi menyebutkan bahwa prevalensi stunting Indonesia yang berada di angka 19 persen masih tertinggal jauh dari Malaysia (7%) dan Vietnam (di bawah 10%). Ia mengingatkan bahwa stunting bukan sekadar masalah fisik, melainkan masa depan intelektual bangsa.
"Dari 4,8 juta bayi, kalau 10 persen saja stunting, artinya ada 480.000 anak yang IQ-nya di bawah rata-rata setiap tahun. Kita tidak bisa kerja biasa-biasa saja. Kita harus rendah hati mengakui bahwa apa yang kita lakukan selama ini masih 'jelek' (ugly)," kata Budi dalam acara Peluncuran Konsorsium 1000 Hari Pertama Kehidupan di Gedung Sujudi Kemenkes, Jakarta, Selasa, 28 April 2026.
Berkaca dari pengalaman menangani pandemi Covid-19, Budi menegaskan bahwa intervensi kesehatan tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan program pemerintah. Ia menekankan perlunya transformasi dari "Program" menjadi "Gerakan" (Movement).
"Kesehatan adalah tanggung jawab individu. Masyarakat, terutama para ibu, harus merasa memiliki tanggung jawab ini. Kita harus mengedukasi mereka agar ini menjadi sebuah gerakan nasional," imbuhnya.
Menkes berharap, dengan keterlibatan konsorsium dan sektor swasta, Indonesia bisa menurunkan angka stunting ke bawah 7 persen dalam dekade mendatang.
"Itu akan menjamin kemajuan Indonesia dan menjadi kado terbaik bagi generasi mendatang," pungkasnya.
Editor: Redaktur TVRINews





