Jakarta, VIVA - Keberhasilan implementasi bioetanol E20 sangat bergantung pada kekuatan pasokan bahan baku dalam negeri. Untuk mencapainya, maka bahan baku (feedstock) yang kuat dan berkelanjutan menjadi kunci.
Hal tersebut diungkapkan Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara atau PTPN III (Persero), Denaldy Mulino Mauna, penandatanganan tiga Nota Kesepahaman (MoU) bersama Pertamina Group dan Medco Group.
"Bahan baku semua ada. Tebu, ubi kayu, dan jagung adalah kekuatan kita. Tantangannya adalah bagaimana menghubungkan semua ini menjadi satu sistem. Sekarang saatnya kita mulai," ungkap dia, Selasa, 28 April 2026.
Sejalan dengan program hilirisasi Kementerian Pertanian (Kementan), PTPN Group mendapat arahan penugasan dalam hilirisasi komoditas tebu, ubi kayu, dan jagung serta pembangunan 10 unit pabrik bioetanol di Indonesia (Lampung, Jabar, Jatim, Sulsel, dan NTB).
Untuk komoditas tebu, PT SGN ditugaskan untuk perluasan lahan hingga 2031 sekitar 500 ribu hektare (ha) dan pembangunan pabrik bioetanol berbasis molases sebanyak 6 unit bekerja sama dengan Pertamina NRE (PNRE).
Untuk pengembangan ubi kayu, PTPN III ditugaskan dalam pengembangan areal sekitar 104 ribu ha dan pembangunan pabrik bioetanol berbasis ubi kayu sebanyak 2 unit bekerja sama dengan Medco Group dan PNRE.
Sedangkan, untuk komoditas jagung ditargetkan pengembangan areal PTPN I seluas 250 ribu ha dan pembangunan pabrik bioetanol berbasis jagung sebanyak 2 unit yang juga akan bekerja sama dengan mitra.
Denaldy juga menekankan pentingnya sinergi antar pelaku industri dalam membangun ekosistem bioetanol nasional. "PTPN memastikan bahan baku, Pertamina menggerakkan hilirisasi dan penyerapan energi, serta Medco memperkuat pengembangan industrinya," jelas dia.
Sebagai langkah awal, pengembangan bioetanol berbasis ubi kayu seluas 10 ribu ha akan difokuskan di wilayah Lampung melalui revitalisasi pabrik eksisting milik Medco dan pembangunan pabrik bioetanol multi feedstock (berbasis ubi kayu dan jagung) di Bone, Sulawesi Selatan.
Lalu, diperluas ke sejumlah titik lainnya guna membangun ekosistem industri yang lebih terintegrasi. “Jika ini berjalan maka dampaknya jelas. Petani memiliki kepastian pasar. Industri bioetanol memiliki pasokan lebih stabil dan Indonesia mulai mengurangi ketergantungan energi impor,” tegas Denaldy.




