Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Budi Gunadi mematok target aspirasional: Angka kematian ibu harus turun dari 4.000 menjadi di bawah 400 kasus per tahun.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menginstruksikan jajaran Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk memasang target yang lebih agresif dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia.
Budi menekankan bahwa pendekatan target selama ini dinilai tidak ambisius karena hanya sekadar angka di atas kertas.
Hal tersebut ditegaskan Menkes dalam acara Peluncuran Konsorsium 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) di Gedung Sujudi Kemenkes RI, Jakarta, Selasa, 28 April 2026.
Menkes Budi mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap rasio target penurunan kematian yang sering kali menggunakan persentase atau rasio per 100.000 kelahiran. Ia lebih memilih menggunakan angka nyata (real numbers) untuk menunjukkan urgensi masalah tersebut.
"Saya bilang ke Ibu Endang (Dirjen Kesmas), di Indonesia ini kematian ibu itu sekitar 4.000 ibu hamil per tahun. Kematian bayi itu 30.000 per tahun. Kenapa target kita sangat tidak ambisius, padahal ini berkaitan dengan nyawa?" ujar Menkes.
Budi membandingkan kondisi Indonesia dengan Singapura yang memiliki angka kematian ibu hanya 7 kasus, serta negara lain yang mampu menekan kematian anak di bawah angka 5. Ia pun mematok target "aspirasional" yang jauh lebih tinggi dari rencana sebelumnya.
"Harusnya dari 4.000 kematian ibu hamil, itu harus berkurang di bawah 400 kalau bisa, 10 kali lebih baik. Kalau 30.000 bayi meninggal, kita harus turunkan di bawah 3.000. Potong 10 kali lebih baik. Kalau tidak, ya ini ngomong mengenai nyawa," tegasnya.
Strategi Fokus: Eklampsia dan Pendarahan
Untuk mencapai target tersebut, Menkes meminta jajarannya tidak terjebak dalam terlalu banyak program yang tidak fokus. Ia memerintahkan agar intervensi difokuskan pada dua penyebab utama kematian ibu: eklampsia (hipertensi dalam kehamilan) dan pendarahan.
"Dua ini mungkin menyelesaikan 80 persen masalah. Mari fokus pada dua hal terbesar. Itulah sebabnya kita bagi USG ke 10.000 Puskesmas untuk identifikasi dini," kata Budi.
Selain itu, Menkes berencana meningkatkan standar pemeriksaan kehamilan (Antenatal Care/ANC) dari 6 kali menjadi 8 kali kunjungan guna memantau gizi, infeksi, dan tekanan darah ibu secara berkala hampir setiap bulan.
Sentil Budaya Seremonial
Dalam kesempatan tersebut, Menkes juga melontarkan kritik pedas terhadap budaya birokrasi yang lebih sering mengadakan acara seremonial dibandingkan bekerja di lapangan.
Ia meminta agar acara-acara kementerian dilakukan secara sederhana di kantor sendiri hingga target penurunan kematian tercapai.
"Kalau mau di hotel, nanti saja kalau sudah turun ke 400 (kematian ibu) baru kita bikin di hotel. Kalau tidak, kita sibuk bikin event tapi kurang bekerja. Harus lebih banyak bekerjanya daripada bikin acara," tuturnya.
Perbaikan Kualitas Rumah Sakit
Terkait kematian bayi, Menkes menyoroti tingginya kasus asfiksia dan sepsis. Ia menekankan pentingnya mencegah kelahiran prematur melalui pemenuhan gizi ibu serta memperbaiki kontrol infeksi di rumah sakit dan Puskesmas yang selama ini dinilai masih lemah.
"Saya pernah undang orang dari luar negeri untuk lihat rumah sakit kita, mereka geleng-geleng kepala. Infection control-nya sangat lemah. Saya minta Dokter Dante urus Antimicrobial Resistance (AMR) di rumah sakit. Itu yang mesti dibereskan," pungkas Menkes.
Melalui Konsorsium 1000 HPK ini, pemerintah berharap adanya sinergi yang lebih nyata dan berbasis data untuk menjamin kualitas hidup manusia Indonesia sejak dalam kandungan hingga dua tahun pertama kelahiran.
Editor: Redaktur TVRINews





