Perkuat Tata Kelola Risiko Iklim, IIF Gandeng CPI dalam Upaya Implementasi CRMS

idxchannel.com
4 jam lalu
Cover Berita

IIF juga telah mewajibkan Climate Risk Assessment pada setiap penilaian proyek baru.

Perkuat Tata Kelola Risiko Iklim, IIF Gandeng CPI dalam Upaya Implementasi CRMS (foto: iNews Media Group)

IDXChannel - PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menegaskan komitmennya dalam memperkuat tata kelola risiko iklim sebagai bagian dari strategi Perseroan sebagai katalisator pembangunan infrastruktur berkelanjutan.

Upaya penguatan tersebut, di antaranya, dilakukan melalui sinergi bersama Climate Policy Initiative (CPI), sebagai bagian dari persiapan implementasi Climate Risk Management & Scenario Analysis (CRMS).

Baca Juga:
Dukung Pengembangan RS Jantung di Bogor, IIF Kucurkan Pembiayaan Rp485,5 Miliar

"Bagi kami, pengelolaan risiko iklim merupakan fondasi keberlanjutan bisnis IIF ke depan. Sebagai lembaga pembiayaan infrastruktur, kami memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang kami salurkan tidak hanya layak secara finansial, tapi juga tangguh terhadap risiko iklim," ujar Presiden Direktur sekaligus CHief Executive Officer IIF, Rizki Pribadi Hasan, dalam keterangan resminya, Senin (28/4/2026).

Menurut Rizki, komitmen tersebut telah juga disampaikannya dalam Climate Risk Forum and Workshop, yang diselenggarakan oleh pihak CPI, Selasa (22/4/2026) pekan lalu.

Baca Juga:
Akselerasi Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan, IIF Kantongi Pendanaan Rp1,3 Triliun

Forum tersebut merupakan platform knowledge-sharing yang bertujuan memperdalam pemahaman dampak risiko iklim terhadap sektor jasa keuangan sekaligus memperkuat strategi pengelolaan risiko secara praktis.

Peserta forum meliputi perbankan, lembaga keuangan non-bank, pengembang proyek, lembaga penelitian, serta pemangku kepentingan terkait lainnya yang memiliki perhatian terhadap isu risiko iklim dan keuangan berkelanjutan.

Baca Juga:
IIF Dukung Inisiatif Pemerintah Genjot Investasi Infrastruktur

Penegasan komitmen sekaligus keterlibatan IIF dalam forum tersebut, menurut Rizki, merupakan bagian dari langkah IIF sebagai katalisator pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia.

"Melalui dukungan Technical Assistance dari CPI, IIF telah mengintegrasikan pengelolaan risiko iklim ke dalam tata kelola, strategi, manajemen risiko, dan proses bisnis," ujar Rizki.

Implementasi tersebut, Rizki menjelaskan, telah diwujudkan melalui Climate Risk Management Policy yang disusun bersama CPI pada 2025 lalu. Sejak September 2025, IIF juga telah mewajibkan Climate Risk Assessment pada setiap penilaian proyek baru dan peninjauan tahunan portofolio sebelum diajukan kepada Komite Investasi.

Hasil penilaian direkapitulasi secara berkala dan dilaporkan kepada Komite Manajemen Risiko dan Komite Pemantau Risiko.

Setelah satu tahun penerapan, IIF menargetkan telah memiliki pemetaan komprehensif terhadap eksposur risiko iklim di seluruh portofolio, termasuk estimasi potensi dampak kerugian aktual, sesuai dengan praktik terbaik pengungkapan risiko iklim.

"Integrasi risiko iklim bukan sekadar pemenuhan regulasi, tapi bagian dari proses pengambilan keputusan investasi. Dengan Climate Risk Assessment, kami dapat mengidentifikasi, mengukur, dan memitigasi risiko fisik maupun transisi sejak awal," ujar Rizki.

Langkah ini disebut Rizki sangat penting untuk melindungi Perseroan, sekaligus memastikan proyek yang dibiayai IIF selama ini, telah sepenuhnya siap dalam menghadapi skenario iklim masa depan.

Sejalan dengan persiapan implementasi Climate Risk Management & Scenario Analysis (CRMS), IIF telah memulai pengungkapan keberlanjutan baik secara kualitatif maupun kuantitatif, meski kewajiban pelaporan baru akan berlaku pada 2028, berdasarkan ketentuan regulasi terbaru. 
Pengungkapan kualitatif mencakup prinsip tata kelola dan manajemen risiko, sementara pengungkapan kuantitatif meliputi data emisi Scope 1, 2, dan 3. Sebagian pengungkapan ini telah dipublikasikan dalam Sustainability Report IIF tahun 2025.

"Untuk mendukung hal tersebut, kami telah membangun kapabilitas internal dalam menyusun metodologi perhitungan emisi Scope 1, 2, dan 3 yang telah diverifikasi oleh Carbon Trust, perusahaan konsultan iklim global. Kemampuan ini juga telah menjadi bagian dari layanan ESG Advisory IIF kepada klien untuk membantu memenuhi standar keberlanjutan," ujar Rizki.

(taufan sukma)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Operasional KA dari Stasiun Gambir dan Pasar Senen Kembali Normal
• 13 jam lalutvrinews.com
thumb
Dudung Usai Sertijab: Mari Kerja Keras, Peran KSP Luar Biasa
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
14 Korban Meninggal Dunia Tabrakan Kereta Api di Bekasi Timur Dibawa ke RS Polri Kramat Jati
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Daftar Rumah Sakit Korban Kecelakaan KRL dan Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Dievakuasi
• 18 jam laludisway.id
thumb
Bangunan Liar Menjamur, DPRD Kota Malang Desak Pemkot Percepat Penertiban
• 7 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.