jpnn.com, JAKARTA - Menghabiskan hari-hari dengan cucuran keringat saat menempa kondisi fisik dan latihan untuk meningkatkan performa di arena, menjadi menu yang dilahap oleh para atlet dalam kesehariannya.
Porsi itu makin bertambah secara intensitas dan kuantitas, ketika para atlet akan berangkat berlaga membawa nama Indonesia ke sebuah ajang internasional.
BACA JUGA: Bertemu Prabowo, Menpora Laporkan Rencana Akademi Olahraga hingga Pusat Pelatnas
Sayangnya profesi atlet selama ini masih dipandang sebelah mata, karena masyarakat menilai apa yang mereka korbankan tak sepadan dengan yang mereka dapatkan.
Publik beranggapan nama harum mereka hanya tercium saat atlet masih bisa berlaga di lintasan dan naik podium, sedangkan saat cedera mendera atau usia tak lagi muda yang membuat mereka harus pensiun, tak kan ada jaminan mereka dapat hidup sejahtera.
BACA JUGA: Menpora Erick Genjot Diplomasi Olahraga Lewat Kolaborasi Sepak Bola Wanita RIâPrancis
Tetapi cerita para atlet yang terdengar belakangan ini meyakinkan kita bahwa tak ada lagi atlet bermasa depan suram.
Cerita sudah berbeda, masa depan cerah menanti mereka. Guyuran bonus dari pemerintah dengan nilai fantastis bagi mereka yang sukses meraih medali di berbagai ajang mulai dari level SEA Games, Asian Games sampai Olimpiade, menjadi bekal para atlet untuk menata dan mempersiapkan kehidupan mereka setelah gantung sepatu.
Mereka bisa menabung, berinvestasi, membeli aset sampai membuka usaha.
Bahkan, bukan hanya sang peraih medali saja yang merasakan manisnya perhatian pemerintah, keluarga mereka juga terangkat derajatnya.
Sang atlet bisa membelikan rumah, tanah dan kendaraan untuk orang tua, serta menciptakan lapangan pekerjaan untuk keluarga dan masyarakat sekitar.
Kisah sukses lifter Eko Yulianto adalah salah satunya. Mempersembahkan medali untuk Indonesia mulai dari SEA Games sampai Olimpiade membuat Eko bergelimang bonus.
Hasilnya, Eko membelikan sawah untuk ayahnya, Saman. Sang ayah yang tadinya menarik becak untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari kini menjadi petani mengolah sawah miliknya. Eko juga mendirikan tempat latihan angkat besi sebagai bukti kontribusinya untuk regenerasi mencari penerus dirinya.
Mimpi manis karateka Leica Al Humaira Lubis untuk membahagiakan keluarga juga terwujud dengan membeli rumah hasil bonus raihan emas di SEA Games Thailand 2025.
Sama seperti perubahan nasib yang dirasakan atlet timnas hoki putra, Revo Prilianto, yang memanfaatkan bonus SEA Games 2023 dan 2025 untuk investasi emas dan mempersiapkan dana pendidikan bagi buah hati.
Kesaksian para atlet akan peningkatan taraf hidup mereka adalah bukti komitmen pemerintah sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, untuk memprioritaskan kesejahteraan para atlet sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem olahraga berprestasi dan berkelanjutan.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menyampaikan pemerintah menyadari betul pengorbanan yang dilakukan para atlet dalam mempersiapkan diri dan berjuang di pertandingan demi membanggakan bangsa.
“Para atlet adalah putra-putri terbaik yang pada saat pertandingan bukan hanya berjuang habis-habisan untuk mendapatkan gelar juara, tetapi juga bertekad mengangkat nama bangsa di panggung internasional, menunjukkan kedigdayaan Indonesia di mata dunia,” ujar Menpora Erick.
Erick mengingatkan seperti yang selalu dikatakan oleh Presiden Prabowo, bahwa atlet adalah aset bangsa yang harus kita hargai dan apresiasi pengorbanannya.
“Negara akan selalu hadir dalam kehidupan para atlet,” jata dia.
Oleh karena itu, bukan hanya saat seremoni pemberangkatan kontingen atau saat pengalungan medali saja.
Pemerintah selalu di belakang atlet untuk mendukung, membina dan mengupayakan kesejahteraan hidup mereka.
Bonus yang diberikan pemerintah bukan hanya sekedar simbol melainkan bukti nyata penghormatan negara kepada jasa dan jerih payah mereka.
“Kami memastikan bahwa keringat yang mereka keluarkan akan mengantarkan para atlet kepada masa depan yang lebih baik,” imbuh Menpora Erick.
Bonus yang sama juga dirasakan oleh atlet disabilitas Ni Nengah Widiasih.
Atlet para-powerlifting asal Bali ini menggunakan bonus dari ajang Paralimpiadenya untuk membuka usaha kuliner di daerah asalnya, yang berarti bukan hanya meningkatkan pendapatan pribadi tapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat.
Sejalan dengan keinginan Presiden Prabowo Subianto mengenai pemanfaatan bonus, Menpora Erick pun berpesan agar para atlet bisa menggunakan apresiasi yang diberikan negara untuk kebutuhan jangka panjang termasuk pendidikan, pengembangan kapabilitas diri, tabungan dan investasi sehingga tak ada lagi masa surut bagi mereka ketika tiba saatnya untuk pensiun.
“Alhamdulillah puji syukur tak terkira saat mendengar cerita dari Eko Yuli, Leica, Revo ataupun Ni Nengah Widiasih, kehidupan mereka membaik berkat kerja keras yang tak pernah henti. Mereka juga memberikan contoh bagaimana pemanfaatan bonus dengan bijak dan berorientasi pada masa depan, bukan hanya memuaskan kesenangan sesaat. Apa yang mereka lakukan bisa menjadi inspirasi atlet lainnya dalam mempersiapkan masa depan,” pungkas Menpora Erick. (mrk/jpnn)
Redaktur : Elvi Robiatul
Reporter : Elvi Robiatul, Elvi Robiatul




