Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Papua
Pasukan TNI yang tergabung dalam Komando Operasi (Koops) TNI Habema berhasil menetralisir Jeki Murib, Komandan Operasi (Danops) Kepala Air OPM Kodap 18 Ilaga. Tokoh kelompok separatis bersenjata tersebut dilumpuhkan dalam sebuah operasi di Kampung Pinapa, Distrik Omukia, Kabupaten Puncak.
Jeki Murib merupakan sosok sentral di balik rangkaian aksi kekerasan yang meresahkan masyarakat di wilayah Puncak dan Mimika. Selain menyasar warga sipil, aktivitas kelompoknya juga kerap mengganggu operasional PT Freeport Indonesia, yang merupakan salah satu Objek Vital Nasional.
Dalam keterangan yang diperoleh, Selasa, 28 April 2026, Kapen Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna mengungkapkan bahwa Jeki Murib memiliki rekam jejak kriminal yang panjang dan sangat merugikan masyarakat, di antaranya:
1. Teror Infrastruktur: Melakukan pembakaran kompleks tower di Kampung Kago, Distrik Ilaga (15 Agustus 2023).
2. Kekerasan Terhadap Pekerja: Terlibat dalam pembunuhan dan penganiayaan pekerja pembangunan Puskesmas di Kampung Eromaga (19 Oktober 2023).
3. Gangguan Transportasi: Melakukan penembakan di Bandara Aminggaru (18 Juni 2025).
4. Penyanderaan Massal: Menyandera 18 karyawan PT Freeport Indonesia di Tower 270, Tembagapura (8 Januari 2026).
5. Serangan Aparat & Sipil: Menyerang anggota Koramil Tembagapura, merampas senjata, dan melukai warga sipil di jalur tambang MP 50 (11 Februari 2026).
6. Penembakan di Area Tambang: Menembak dua karyawan PT Freeport di area Grasberg serta menyerang aparat Polri yang sedang mengevakuasi korban (11 Maret 2026).
Letkol Inf M. Wirya menjelaskan bahwa penindakan ini dilakukan dalam kerangka Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Hal ini didasarkan pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 Pasal 7 ayat (2) Huruf B, yang memberikan mandat kepada TNI untuk mengatasi gerakan separatis dan pemberontakan bersenjata.
Langkah tegas ini juga merupakan implementasi dari Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2020 yang menekankan pendekatan terintegrasi antara keamanan dan kesejahteraan. Prioritas utamanya adalah memberikan perlindungan kepada masyarakat serta memastikan percepatan pembangunan di Papua tidak terhambat oleh aksi teror.
Dalam pelaksanaannya, TNI menegaskan bahwa operasi dilakukan secara terukur dan profesional dengan tetap mengedepankan aspek humanis untuk menjaga keselamatan warga sipil. Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari tokoh adat, tokoh agama, hingga pemerintah daerah, menjadi kunci kelancaran operasi ini.
Sebagai penutup, TNI memberikan seruan kepada anggota kelompok bersenjata lainnya yang masih bertahan di hutan untuk segera meletakkan senjata.
"Kepada saudara-saudara kita yang masih berada di hutan, mari hentikan kekerasan. Kembalilah ke tengah masyarakat, tinggalkan jalan separatisme, dan bersama-sama membangun Papua yang aman, damai, dan sejahtera," pungkas Letkol Wirya.
Editor: Redaksi TVRINews





