Bisnis.com, JAKARTA - Implementasi strategi yang adaptif dalam membaca perubahan perilaku nasabah di tengah dinamika makro yang semakin kompleks menjadi kunci bagi perbankan dalam menjaga fundamental .
Hal ini salah satunya ditunjukkan PT Bank Central Asia Tbk (BCA), dengan penerapan strategi bisnis yang secara konsisten dibangun di atas kepercayaan nasabah dan kekuatan ekosistem internal.
Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, menyebut fondasi utama BCA terletak pada dominasi dana murah atau CASA (Current Account Saving Account) yang selama ini menjadi tulang punggung efisiensi dan stabilitas likuiditas bank.
“ Dalam lanskap perbankan Indonesia, instrumen CASA ini menjadi indikator penting karena mencerminkan stabilitas likuiditas sekaligus efisiensi biaya dana,” ujar Yanuar.
Yang menarik, di tengah meningkatnya kekhawatiran atas pelemahan rupiah, BCA menghadirkan fitur poket valas yang memungkinkan nasabah mengkonversi sebagian tabungan rupiah ke valuta asing langsung di dalam ekosistem BCA, tanpa harus keluar dari sistem.
Langkah ini, menurut Yanuar, mencerminkan kepekaan BCA dalam membaca perubahan kebutuhan nasabah. Bank tidak lagi sekadar menjadi tempat menyimpan uang, tetapi berevolusi menjadi platform manajemen risiko yang relevan bagi berbagai profil nasabah.
“Kemampuan BCA mempertahankan likuiditas DPK dengan memberi ruang nasabah tetap menahan dananya melalui penyediaan poket valas merupakan strategi yang kuat,” kata Yanuar.
Ia menambahkan, kondisi nilai tukar yang berfluktuasi justru secara tidak langsung turut memperkuat nilai CASA BCA dalam denominasi rupiah.
Kekuatan BCA tidak hanya terlihat dari sisi produk, tetapi juga dari infrastruktur pembayaran yang telah mengakar kuat. Yanuar menyoroti bagaimana payment gateway BCA yang terintegrasi luas menciptakan hubungan organik antara penghimpunan dana dan penyaluran kredit, khususnya kredit konsumsi. Model ini, menurutnya, menjadi penyangga kualitas aset sekaligus penjaga stabilitas rasio kredit bermasalah (NPL) di tengah tekanan eksternal.
Pada saat yang sama, tren perilaku deposan turut mempertegas relevansi strategi BCA. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat bahwa simpanan dari kelompok deposan besar justru tumbuh di tengah ketidakpastian, yang mencerminkan kepercayaan segmen tersebut terhadap institusi perbankan yang dianggap mampu menjadi tempat berlabuh yang aman dan fleksibel.
Kondisi ini membuat program nasabah Prioritas dan Solitaire BCA makin relevan karena menempatkan BCA sebagai mitra pengelolaan keuangan bagi pemilik dana besar yang membutuhkan fleksibilitas lindung nilai, bukan sekadar imbal hasil.
“Nasabah prioritas dan solitaire memang bagian dari strategi agar pemilik dana besar tetap merasa bank menjadi tempat untuk menjaga lindung nilai,” ujar Yanuar.
Dari sudut pandang investasi, Yanuar memandang saham BBCA sebagai kandidat menarik untuk strategi akumulasi jangka panjang, terutama pada saat koreksi harga dan ketika volatilitas pasar mulai melandai. Penilaian ini berpijak pada keyakinan bahwa bisnis BCA yang adaptif menjadikannya lebih tahan terhadap tekanan siklus dibanding rata-rata industri.





