Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan tidak puas dengan draf proposal perdamaian terbaru yang diajukan oleh Iran.
Ia mengaku kecewa lantaran proposal tersebut menunda pembahasan terkait program nuklir Teheran, meski menawarkan pembukaan kembali jalur perdagangan maritim.
Mengutip laporan sejumlah media AS pada Senin (27/4), draf tawaran Iran itu berfokus pada upaya pembukaan kembali Selat Hormuz serta penghentian blokade angkatan laut AS di berbagai pelabuhan Iran.
Namun, isu krusial mengenai program nuklir justru dikesampingkan untuk dibahas pada perundingan di kemudian hari.
Baca Juga: Soal Penembakan Trump Saat Makan Malam di Washington, China: Ini Menarik Perhatian Kami!
Trump dikabarkan telah membahas proposal ini bersama jajaran pejabat tinggi keamanan nasional AS dalam pertemuan tertutup di Situation Room Gedung Putih pada Senin sore waktu setempat.
Trump kemungkinan besar tidak akan menerima proposal yang baru diserahkan dalam beberapa hari terakhir tersebut.
Seorang pejabat AS lainnya menyampaikan kepada The New York Times bahwa menyetujui tawaran Iran saat ini akan terlihat seperti sebuah kekalahan bagi Trump.
Selama masa jabatannya, sang presiden secara konsisten bersikap keras dan berulang kali menegaskan bahwa Iran sama sekali tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, turut angkat bicara dan mengakui bahwa draf baru dari Iran tersebut sebenarnya "lebih baik daripada yang kami duga".
Meski demikian, ia menegaskan batas tegas dari Washington bahwa kesepakatan apa pun yang terjalin nantinya harus secara mutlak melarang Teheran mengembangkan senjata nuklir.
Lebih lanjut, Trump mengeklaim bahwa pemerintahannya tidak berada di bawah tekanan waktu untuk segera mengakhiri konflik AS-Israel dengan Iran, maupun terburu-buru memperpanjang gencatan senjata di tengah negosiasi yang sedang terhambat.





