Penulis: Fityan
TVRINews – Washington DC
Laporan intelijen menunjukkan Iran masih memiliki kekuatan militer signifikan di tengah kekhawatiran menipisnya stok rudal AS.
Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, dilaporkan telah berulang kali mempertanyakan keakuratan laporan Pentagon mengenai perkembangan perang di Iran.
Dalam serangkaian pertemuan tertutup, Vance menyampaikan kekhawatiran mendalam kepada Presiden Donald Trump terkait potensi manipulasi data dan kondisi riil persenjataan Amerika yang kian menipis.
(Militer AS bersiap memuat Joint Direct Attack Munitions (JDAM) ke dalam pesawat pengebom B-1 Lancer milik Angkatan Udara AS (Foto: AFP)
Laporan mendalam yang dirilis oleh The Atlantic pada hari Senin 27 April, mengutip sejumlah pejabat senior pemerintah, mengungkapkan bahwa penilaian intelijen menunjukkan gambaran yang sangat berbeda dari narasi kemenangan yang selama ini beredar.
Meski klaim kemenangan sering digaungkan, Iran dilaporkan masih mempertahankan dua pertiga kekuatan angkatan udaranya, sebagian besar kapasitas peluncuran rudal, serta armada kapal cepat yang mampu menebar ranjau di Selat Hormuz.
Krisis Stok Persenjataan AS
Dua pejabat senior mengonfirmasi kepada The Atlantic bahwa Vance secara spesifik menyoroti "penyusutan drastis" stok rudal AS.
Ia dilaporkan mempertanyakan validitas informasi yang disediakan Pentagon dan menanyakan ketersediaan sistem rudal tertentu langsung kepada Presiden Trump.
(Demonstrasi anti-AS dan anti-Israel, 21 April 2026, di Teheran, Iran. (Foto: AA))
Pernyataan dari lembaga pemikir Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkuat kekhawatiran tersebut.
CSIS mencatat bahwa AS kemungkinan telah menghabiskan lebih dari setengah pasokan pra-perang untuk empat amunisi utama, termasuk pencegat rudal serta senjata ofensif seperti rudal Tomahawk dan JASSM.
"Konsekuensinya bisa sangat fatal. Stok yang sama sangat dibutuhkan untuk mempertahankan Taiwan dari Tiongkok, Korea Selatan dari Korea Utara, serta Eropa dari Rusia," tulis laporan The Atlantic.
Dualisme Informasi di Kabinet
Ketegangan internal mulai terlihat di dalam kabinet perang Trump. Beberapa pihak dekat Vance meyakini bahwa gambaran positif yang diberikan oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth cenderung menyesatkan.
"Pete memiliki pengalaman televisi yang membuatnya sangat ahli dalam memahami cara bicara yang disukai Trump," ujar seorang mantan pejabat era Trump.
Sumber lain menambahkan bahwa Hegseth kerap berusaha menyampaikan informasi yang hanya ingin didengar oleh Presiden, sebuah pola yang dinilai "berbahaya" bagi strategi keamanan nasional.
Meski demikian, dalam pernyataan resminya, Vance menegaskan bahwa Hegseth "melakukan pekerjaan dengan baik." Sumber internal menyebut langkah Vance ini diambil untuk menghindari perpecahan terbuka di dalam kabinet, meskipun ia tetap mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis secara privat.
Respon Pentagon dan Gedung Putih
Menanggapi laporan ini, juru bicara Pentagon Sean Parnell menegaskan bahwa kepemimpinan militer selalu memberikan gambaran yang "lengkap dan jujur" kepada Presiden.
Senada dengan itu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt membela pencapaian pemerintah.
"Di bawah kepemimpinan Presiden Trump, militer AS telah melumpuhkan kemampuan rezim Iran hanya dalam waktu 38 hari," tegas Leavitt.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan tantangan yang belum usai. Pada bulan Maret, Hegseth sempat membanggakan "kendali penuh" atas langit Iran, namun pada bulan April, pasukan Iran berhasil menembak jatuh sebuah jet tempur AS.
Saat ini, peluncur rudal Teheran dilaporkan telah pulih sekitar 50% sejak gencatan senjata dan kapasitasnya terus meningkat setiap hari.
Editor: Redaksi TVRINews





