Investigasi “Buzzer” Harian Kompas Raih Penghargaan Emas di WAN-IFRA Asia 2026

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

MANILA, KOMPAS - Harian Kompas (Kompas.id) meraih penghargaan emas dalam ajang ”. Artikel investigasi berjudul “Anatomi Jaringan Buzzer” masuk dalam kategori artikel ”Best in Countering Disinformation”. Karya ini dianggap terbaik dari 17 finalis yang mewakili 11 negara.

Artikel tersebut disusun oleh Tim Investigasi Harian Kompas yang beranggotakan Irene Sarwindaningrum, Insan Alfajri, Fajar Ramadhan dan Melati Mewangi. Fajar Ramadhan mewakili tim untuk hadir menerima penghargaan di Manila, Filipina pada Selasa (28/4/2026) malam.

Secretary of The Presidential Communication Office (PCO) Filipina Dave Gomez mengatakan, disinformasi dan berita palsu saat ini berkembang sangat cepat berkat amplifikasi dari akal imitasi (AI). Peran media sangat dibutuhkan untuk memerangi disinformasi dan berita palsu tersebut.

”Kebebasan pers dan kode etik jurnalistik sangat krusial untuk menciptakan ekosistem media yang sehat,” kata Gomez saat membuka acara Digital Media Awards Asia 2026, Selasa (28/4/2026).

Artikel “Anatomi Jaringan Buzzer” merupakan salah satu artikel dalam seri investigasi Kompas tentang “buzzer” yang terbit melalui pelantar Kompas.id pada Juni 2025. Artikel ini membedah secara mendalam jaringan pendengung atau "buzzer” yang mempunyai sistem koordinasi berlapis dan terstruktur dalam melancarkan operasi.

Operasi buzzer dimulai dari komunikasi antara klien ke agensi atau koordinator ”buzzer”. Agensi atau koordinator ini kemudian akan menggerakkan pasukan ”buzzer” yang jumlahnya mencapai puluhan ribu orang.

Penggunaan ”buzzer” di tingkat elit umumnya berkaitan dengan isu-isu serius. Bisa terkait dengan isu politik, promosi produk, hingga isu kontroversial. Kelompok elit ini terdiri dari kalangan tokoh politik, tokoh masyarakat, hingga pengusaha. Tujuannya untuk memoles citra atau membangun opini publik.

Tim investigasi Kompas menggambarkan struktur jaringan ”buzzer” seperti sebuah piramida. Pemuncak dalam struktur tersebut adalah pemodal atau klien. Mereka adalah pihak yang mendanai operasi ”buzzer”. Identitas mereka dijaga ketat melalui berbagai lapisan perantara.

Di bawahnya, terdapat perancang strategi yang bertugas menganalisis isu, menentukan target, merancang narasi, serta memilih platform distribusi. Rancangan ini kemudian dijalankan oleh koordinator dan agensi ”buzzer” yang mengelola ribuan hingga puluhan ribu akun.

Baca JugaAnatomi Jaringan ”Buzzer”

Lapisan paling bawah adalah para operator ”buzzer” . Mereka adalah pengelola akun media sosial yang bertugas menyebarkan narasi, menggiring opini, hingga menyerang pihak tertentu. Banyak diantaranya menggunakan identitas anonim atau akun palsu.

Informasi yang menyebar ke media sosial semakin keruh. Pengguna media sosial semakin sulit membedakan mana informasi yang benar dan salah. Semula kekeruhan terjadi pada isu-isu politik, lalu merebak ke semua lini, termasuk informasi yang menyangkut barang kebutuhan sehari-hari warga.

Baca Juga"Buzzer" Mengepung Warga

Investigasi Kompas tentang anatomi ”buzzer” di Indonesia mengungkap aktor di balik kekeruhan itu. Ada perputaran uang dan orang-orang yang berkepentingan untuk mengaburkan dan membelokkan informasi. Investigasi ini membantu pembaca untuk skeptis pada setiap informasi yang beredar di media sosial, terutama dari sumber informasi yang tidak jelas. 

Capaian ini turut melengkapi penghargaan emas yang diterima oleh Tim Jurnalisme Data Harian Kompas pada ajang Asian Media Award 2025. Artikel berjudul “The Lord of The Rings dan Penyakit Jantung Anak Muda” yang tayang pada Oktober 2024 ini menyandang predikat sebagai Best Health News Story.

Baca JugaJurnalisme Data Jantung ”Kompas” Raih Penghargaan Emas Asian Media Awards 2025

Dalam ajang Asian Media Award 2024, Harian Kompas juga mendapatkan penghargaan perak dalam kategori infografik kesehatan. Penghargaan itu diraih lewat infografik berjudul “Mengakhiri Kematian Akibat Rabies” yang tayang di rubrik jendela e-paper Harian Kompas pada September 2023.

Menurut Chief Marketing Officer KG Media Dian Gemiano, penghargaan ini tidak hanya menjadi pencapaian profesional bagi sebuah perusahaan media. Capaian ini menjadi pengakuan penting bagi kerja-kerja jurnalistik dalam memerangi misinformasi yang seringkali merusak tatanan sosial masyarakat.

"Semoga penghargaan ini memberikan semangat lebih agar kami tetap konsisten memerangi misinformasi dan hoaks di era AI sekarang ini,” ujarnya.

Penghargaan dari WAN-IFRA ini menjadi pengakuan internasional atas keberanian Harian Kompas membongkar praktik yang selama ini tersembunyi. Liputan “Anatomi Jaringan Buzzer” memberikan gambaran tentang bagaimana opini publik dapat direkayasa melalui sistem yang terorganisasi. Di tengah derasnya arus informasi digital, karya ini menjadi pengingat pentingnya jurnalisme independen dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas.



Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Berpengalaman Bisnis Katering, Wapres Gibran Beri Arahan soal Keamanan Pangan MBG
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
14 Korban Meninggal Dunia Tabrakan Kereta Api di Bekasi Timur Dibawa ke RS Polri Kramat Jati
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Kakak Rizky Nazar Bongkar Wedding Dream Syifa Hadju, Terkabul?
• 15 jam laluviva.co.id
thumb
Sopir Taksi Green SM ke Mana Saat Kecelakaan Kereta Bekasi? Ini Kesaksian Warga
• 7 jam lalukompas.com
thumb
AHY Beberkan Kondisi Terkini Korban Selamat Kecelakaan Kereta di Bekasi
• 6 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.