Direktur Operasional Danantara, Dony Oskaria, mengatakan timeline pelaksanaan merger BUMN Karya mengalami penyesuaian, namun proses penggabungan tujuh perusahaan pelat merah sektor konstruksi itu dipastikan selesai tahun ini.
Baca juga: Integrasi BUMN Karya Harus Logis dari Sisi Bisnis
“Kemungkinan besar merger BUMN karya itu mundur setelah saya lihat timeline-nya. Tapi yang pasti tahun ini selesai,” ujar Dony dikutip dari Antara.
Menurut Dony, sebelum memasuki tahap merger BUMN Karya, pemerintah dan Danantara terlebih dahulu akan menyelesaikan proses divestasi aset-aset non-inti yang dimiliki perusahaan-perusahaan tersebut.
Tahap awal restrukturisasi mencakup pelepasan bisnis di luar lini utama konstruksi, seperti fiber optik, bisnis SPAM (sistem penyediaan air minum), hingga aset jalan tol.
Langkah divestasi ini dinilai penting untuk menurunkan beban utang BUMN sebelum masuk ke fase konsolidasi dalam skema merger BUMN Karya.
“Ini akan kami divestasikan dulu, sehingga itu untuk menurunkan utang-utang mereka,” kata Dony.
Ia menegaskan proses divestasi tidak bisa dilakukan terburu-buru karena setiap aset harus dikaji satu per satu agar tetap memberi nilai optimal.
“Kita tidak boleh melakukan divestasi yang tidak menguntungkan. Kita harus memastikan apa yang kita divestasi memberikan manfaat dan keuntungan, terutama menurunkan kewajiban BUMN Karya sebelum mereka dikonsolidasikan,” ujarnya. Tujuh Emiten Masuk Skema Merger BUMN Karya Setelah proses divestasi rampung, pemerintah akan melanjutkan tahap konsolidasi dalam program merger BUMN Karya.
Tujuh perusahaan yang masuk dalam rencana penggabungan tersebut meliputi PT Hutama Karya, PT Waskita Karya, PT PP, PT Wijaya Karya, PT Brantas Abipraya, PT Adhi Karya
dan PT Nindya Karya.
Melalui merger BUMN Karya, pemerintah menargetkan struktur industri konstruksi BUMN menjadi lebih efisien, sehat secara finansial, dan fokus mendukung pembangunan infrastruktur nasional.
BP BUMN bersama Danantara menargetkan restrukturisasi dilakukan lebih terarah dan terukur agar BUMN Karya bisa kembali menjadi pilar utama pembangunan berkelanjutan.
Selain memperbaiki kinerja perusahaan, merger BUMN Karya juga diharapkan memperkuat kontribusi sektor konstruksi negara terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat.
Program konsolidasi ini dipandang sebagai bagian dari transformasi besar BUMN, terutama setelah tekanan utang dan tantangan proyek infrastruktur dalam beberapa tahun terakhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)





