Tak Sembarang Orang Bisa Pakai! Ustaz Maulana Ungkap Makna Lipatan dan Warna Sorban

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Penampilan khas Ustaz Maulana selalu mencuri perhatian. Gaya dakwahnya yang humoris dipadukan dengan penggunaan selendang yang kerap dimainkan di sela ceramah membuat suasana menjadi hidup dan penuh tawa. Ia bahkan sering menirukan berbagai sosok, mulai dari Puteri Indonesia hingga penjual jamu, sebagai bagian dari pendekatan dakwah yang ringan.

Penggunaan selendang yang dikenakannya bukan sekadar gimmick. Ustaz Maulana menegaskan bahwa hal itu merupakan bagian dari menjalankan sunnah Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga :
Hari Kartini Bukan Sekadar Kebaya, Ini Makna Emansipasi yang Sering Dilupakan
Ustaz Maulana Ogah Nikah Lagi, Pilih Puasa Nabi Idris Usai Istri Meninggal

"Jadi Nabi menganjurkan tidak boleh kosong pundaknya. Jadi memang disunnahkan untuk ada sesuatu di atas pundak kita," ujar Ustaz Maulana dikutip dari YouTube HAS Creative pada Selasa, 28 April 2026.

Ia menjelaskan, penggunaan selendang memiliki makna tersendiri tergantung pada cara memakainya. Jika selendang diletakkan di pundak sebelah kiri, hal itu melambangkan seseorang yang merupakan penghafal Al-Qur’an atau guru ngaji dan jika dikenakan di kedua pundak, itu menandakan seseorang yang menguasai Al-Qur’an dan hadis atau seorang kiai.

Ustaz Maulana
Photo :
  • Instagram @m_nur_maulana

Sementara itu, Ustaz Maulana menunggunakan selendang membentuk huruf Mim. "Kalau saya gini, (membentuk) mim, cinta Nabi Muhammad," katanya.

Tak hanya selendang, penggunaan sorban atau imamah juga memiliki aturan tersendiri sehingga tidak semua orang bisa memakainya. Kata Ustaz Maulana, jumlah lipatan sorban tidak bisa sembarangan karena mencerminkan tingkat keilmuan seseorang.

"Yang pakai imamah itu kan berapa lipatannya itu sejumlah ilmu yang dia kuasai. Jadi tidak sembarangan orang pakai imamah. Itu kalau perlu diijazahin sama gurunya. Tiba-tiba mau pakai itu nggak bisa," ucap Ustaz Maulana.

Selain lipatan, warna sorban juga mengandung makna khusus. Warna hijau, misalnya, identik dengan keturunan Nabi Muhammad SAW sehingga tidak boleh digunakan sembarangan. Sementara warna putih melambangkan kesucian, dan warna hitam menggambarkan kekhusyukan dalam beribadah.

Melalui penjelasan ini, Ustaz Maulana mengingatkan bahwa atribut dalam dakwah bukan sekadar penampilan, melainkan sarat nilai dan makna. Penggunaannya pun sebaiknya disesuaikan dengan pemahaman dan adab, agar tidak melenceng dari tujuan utama dalam meneladani ajaran Rasulullah SAW.

Baca Juga :
Ustaz Maulana Membolehkan Bohong dalam Rumah Tangga, Begini Penjelasannya
Ustaz Maulana Ungkap 3 Kunci Sederhana Menjaga Kesehatan
Sedekah dari Hasil Korupsi, Sah atau Tidak? Begini Penjelasan Ustaz Maulana

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ramadhipa banyak belajar dari Veda dan Mario Aji
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Green SM Ngebut Masuk RI, Izin Operasional Bak Sulap dalam Hitungan Bulan
• 3 jam laludisway.id
thumb
Menteri Imipas Agus Andrianto berdiskusi usai meninjau kandang baterai karya warga binaan Lapas Narkotika Kelas IIA Gunu
• 12 jam lalurealita.co
thumb
10 Negara dengan Kenaikan Harga BBM Paling Parah
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Hadapi Ancaman El Nino, Pemkab Pinrang Siapkan Strategi Jaga Produksi Pertanian
• 16 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.