Jakarta, VIVA – Penampilan khas Ustaz Maulana selalu mencuri perhatian. Gaya dakwahnya yang humoris dipadukan dengan penggunaan selendang yang kerap dimainkan di sela ceramah membuat suasana menjadi hidup dan penuh tawa. Ia bahkan sering menirukan berbagai sosok, mulai dari Puteri Indonesia hingga penjual jamu, sebagai bagian dari pendekatan dakwah yang ringan.
Penggunaan selendang yang dikenakannya bukan sekadar gimmick. Ustaz Maulana menegaskan bahwa hal itu merupakan bagian dari menjalankan sunnah Nabi Muhammad SAW.
"Jadi Nabi menganjurkan tidak boleh kosong pundaknya. Jadi memang disunnahkan untuk ada sesuatu di atas pundak kita," ujar Ustaz Maulana dikutip dari YouTube HAS Creative pada Selasa, 28 April 2026.
Ia menjelaskan, penggunaan selendang memiliki makna tersendiri tergantung pada cara memakainya. Jika selendang diletakkan di pundak sebelah kiri, hal itu melambangkan seseorang yang merupakan penghafal Al-Qur’an atau guru ngaji dan jika dikenakan di kedua pundak, itu menandakan seseorang yang menguasai Al-Qur’an dan hadis atau seorang kiai.
- Instagram @m_nur_maulana
Sementara itu, Ustaz Maulana menunggunakan selendang membentuk huruf Mim. "Kalau saya gini, (membentuk) mim, cinta Nabi Muhammad," katanya.
Tak hanya selendang, penggunaan sorban atau imamah juga memiliki aturan tersendiri sehingga tidak semua orang bisa memakainya. Kata Ustaz Maulana, jumlah lipatan sorban tidak bisa sembarangan karena mencerminkan tingkat keilmuan seseorang.
"Yang pakai imamah itu kan berapa lipatannya itu sejumlah ilmu yang dia kuasai. Jadi tidak sembarangan orang pakai imamah. Itu kalau perlu diijazahin sama gurunya. Tiba-tiba mau pakai itu nggak bisa," ucap Ustaz Maulana.
Selain lipatan, warna sorban juga mengandung makna khusus. Warna hijau, misalnya, identik dengan keturunan Nabi Muhammad SAW sehingga tidak boleh digunakan sembarangan. Sementara warna putih melambangkan kesucian, dan warna hitam menggambarkan kekhusyukan dalam beribadah.
Melalui penjelasan ini, Ustaz Maulana mengingatkan bahwa atribut dalam dakwah bukan sekadar penampilan, melainkan sarat nilai dan makna. Penggunaannya pun sebaiknya disesuaikan dengan pemahaman dan adab, agar tidak melenceng dari tujuan utama dalam meneladani ajaran Rasulullah SAW.





