REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL— Dunia saat ini berada dalam fase transformasi besar, di mana teknologi telah mengubah cara manusia berpikir, berkomunikasi, dan berkreasi.
Namun, menurut Wakil Ketua MPR RI dari Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono, kekuatan utama masa depan bukan hanya terletak pada teknologi, melainkan pada manusia—khususnya generasi muda.
Baca Juga
Iran Netralkan Bom ‘Busuk AS’ dari Besar Hingga Kecil, Diteliti dan Dimodifikasi Ulang
Adegan Penyergapan Drone Hizbullah Mengguncang Israel, Publik Terus Meragukan Kemampuan Militer
Penasihat Jerman: Iran Lebih Kuat dari Dugaan Semua Orang, Sedangkan AS Menuju Jurang Kehinaan
“Generasi muda bukan sekadar pewaris masa depan, tetapi perancang masa depan itu sendiri,” ujar Ibas, begitu akrab disapa saat memberikan kuliah umum di Seoul National University (SNU) salah satu institusi pendidikan paling prestisius di dunia.
Kegiatan yang berlangsung pada 23 April lalu ini dihadiri oleh Dean Graduate School of International Studies (GSIS), para profesor, dosen, serta mahasiswa S1 dan S2, termasuk mahasiswa Indonesia dan Korea Selatan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI ini menyoroti besarnya potensi generasi Z dan Alpha sebagai kekuatan global baru, yang didukung oleh kreativitas, inovasi, dan kemampuan memanfaatkan teknologi digital.
Dalam konteks ini, Ibas menyebut munculnya creator economy sebagai era baru, di mana ide dan kreativitas menjadi modal utama menggantikan sumber daya tradisional.
Lulusan Curtin University Finance and E-Commerce Australia ini juga mengangkat keberhasilan Korea Selatan dalam memanfaatkan budaya sebagai soft power global, melalui fenomena seperti Squid Game, Blackpink, serta film Parasite.
Dia menilai Indonesia memiliki potensi serupa melalui kekayaan budaya dan kreativitas generasi mudanya.
Dalam paparannya, Ibas yang merupakan lulusan NTU International Political Economy Singapura tersebut menegaskan pentingnya menjaga identitas nasional di tengah dunia yang semakin tanpa batas.