Liputan6.com, Jakarta - Ayahanda Nur Ainia Eka Rahmadhyna Hary Marwata mengungkapkan komunikasi terakhir dengan Ain terjadi pada Senin sore. Ia sempat mengirim pesan kepada sang putri, meminta dijemput seperti kebiasaan pulang kerja.
“Biasanya memang minta dijemput sekitar setengah sembilan malam. Itu sudah rutin,” katanya saat ditemui di rumah duka, Tambun, Bekasi, Selasa (28/4/2026).
Advertisement
Namun malam itu, Ain-demikian ia akrab disapa tak kunjung kembali. Bahkan, keluarganya sempat kesulitan melacak keberadaannya karena ponsel miliknya tertinggal di lokasi kecelakaan.
Selama bekerja, Ain dikenal menggunakan KRL sebagai moda transportasi utama. Ia disebut lebih memilih berada di gerbong khusus perempuan.
“Dia memang selalu di gerbong wanita. Sudah kebiasaannya begitu,” tuturnya.
Di mata orang tua, Ain adalah sosok anak yang sederhana dan penurut. Sehari-hari, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sepulang kerja dan jarang bepergian.
“Anaknya nurut, enggak banyak tingkah. Pulang kerja ya di rumah. Jarang keluar,” kenang ayahnya.




