Harga Asli Bobibos Jerami Pengganti Bensin Diungkap oleh Ahli IPB

cnbcindonesia.com
8 jam lalu
Cover Berita
Foto: Jerami padi. (Dok. Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bobibos belakangan sedang ramai dibahas publik sebagai terobosan bahan bakar yang ramah lingkungan.

Bobibos yang merupakan kepanjangan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!, ini digadang-gadang mampu menurunkan emisi hingga mendekati nol serta memiliki Research Octane Number (RON) mendekati 98.

Bobibos disebut berasal dari jerami, limbah sisa panen padi yang selama ini kerap dibakar atau dibiarkan terbuang.


Bahan bakar ini telah diperkenalkan beberapa waktu lalu di Bogor dan langsung memancing perhatian karena digadang-gadang sebagai inovasi energi ramah lingkungan berbasis sumber daya lokal.

Pilihan Redaksi
  • Rahasia Kain Kafan Yesus Kristus Diungkap Kentang dan Cabai
  • Bercak Hitam di Mars Merambat ke Sekitarnya, Makin Lama Makin Luas
  • Bukan Berenang, Hiu di Wilayah RI Ini 'Ketahuan' Lagi Jalan

Menanggapi hal tersebut, Dosen Teknik Mesin dan Biosistem IPB University, Dr Leopold Oscar Nelwan, memberikan penjelasan teknis mengenai potensi dan tantangan pemanfaatan jerami sebagai bahan bakar alternatif.

Menurut dia, informasi terkait isu teknologi tersebut masih sangat terbatas. Namun beberapa sumber menunjukkan bahwa jerami diperlakukan sebagai biomassa lignoselulosa dalam proses konversinya.

"Dalam konteks ini, penting untuk menegaskan bahwa yang dimaksud dengan bahan bakar adalah hidrokarbon, bukan etanol atau biodiesel, karena hanya hidrokarbon yang memenuhi standar komersial jika dipasarkan secara murni untuk engine," tulisnya dalam keterangan, dikutip dari website IPB, Selasa (28/4/2026).

Ia menjelaskan bahwa hidrokarbon terdiri dari karbon dan hidrogen yang terbagi dalam beberapa kelompok seperti paraffin, isoparaffin, olefin, dan aromatik.

Menurutnya, jumlah karbon menentukan sifat fisik dan penggunaan bahan bakar tersebut, misalnya bensin berada pada rentang C5-C12 dan solar pada C12-C20.

Lebih lanjut, Leopold menerangkan bahwa terdapat banyak jalur konversi biomassa lignoselulosa menjadi hidrokarbon, meski sebagian besar masih pada tahap penelitian.

Beberapa jalur populer yang ia sebutkan meliputi proses termokimia seperti gasifikasi yang dilanjutkan dengan sintesis Fischer-Tropsch (FT), serta pirolisis cepat yang menghasilkan bio-oil yang dilanjutkan melalui proses hydrotreating.

Selain itu, ia menjelaskan konversi melalui hidrolisis monosakarida, baik direct sugar to hydrocarbon conversion (DSHC) maupun via etanol dengan mekanisme alcohol to hydrocarbon.

"Dari seluruh proses tersebut, yang paling mendekati tahap komersialisasi adalah gasifikasi dan FT, karena prinsipnya telah diterapkan pada konversi batu bara," jelasnya.

Kemudian, ia mengurai bahwa banyak tahapan-tahapan proses konversi baik dari proses termokimia maupun melalui hidrolisis monosakarida memerlukan katalis khusus serta kondisi operasi bersuhu dan bertekanan tinggi. Biaya konversi (energi), sebutnya, masih menjadi tantangan besar.

"Beberapa literatur menyebutkan bahwa biaya menghasilkan satu liter bahan bakar melalui proses FT dari batu bara mencapai US$0,8-1,6. Bahkan biaya prosesnya bisa lebih dari empat kali harga batu baranya," terangnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa konsep konversi limbah biomassa menjadi bahan bakar merupakan bagian dari biofuel generasi kedua yang mendukung keberlanjutan. Namun, tetap saja teknologi tersebut belum luas diterapkan karena investasi dan biaya proses yang tinggi.

Leopold menilai bahwa klaim biaya produksi rendah perlu dihitung kembali, termasuk faktor energi dan investasi. Ia menyimpulkan bahwa teknologi ini berpotensi meningkat kelayakannya atau bisa bersaing apabila harga bahan bakar fosil naik atau dibatasi.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Jurus Pengembangan Pusat Data AI Jadi "Energi" Ekonomi Digital

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Daftar Identitas 15 Korban yang Meninggal dalam Tabrakan Kereta di Bekasi
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
National Governance Awards 2026: Sinergi Nusantara untuk Indonesia Emas
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kronologi Lengkap Tabrakan Maut KA Argo Bromo Vs KRL di Stasiun Bekasi Timur
• 21 jam laludetik.com
thumb
Uni Emirat Arab Tinggalkan OPEC, Apa Dampaknya bagi Pasar Minyak Dunia?
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Dipercaya Jadi Menteri LH, Jumhur Bakal Sulap Pengelolaan Sampah RI sesuai Standar Global
• 23 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.