Setiap tanggal 21 April selalu diperingati sebagai Hari Kartini. Peringatan ini tidak terbatas mengenang jasa Ibu Kartini dalam penciptaan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan Indonesia, tetapi juga sebagai bukti bahwa perempuan tidak saja menjadi agen perubahan, tetapi juga menjadi agen perlawanan yang sudah punya sepak terjang sejak masa lampau.
Dewasa ini peran perempuan dalam perlawanan atas penindasan dan ketidakadilan yang diciptakan oleh kelompok pemilik kekuasaan kepada masyarakat semakin beragam.
Ketimpangan relasi kuasa menjadikan pemilik kuasa cenderung melakukan aksi sewenang-wenang dalam mempertaruhkan hajat hidup masyarakat kecil. Banyak contoh perempuan yang melawan ketidakadilan pihak yang berkuasa atas kebijakan yang punya potensi besar dalam menghancurkan ekosistem.
Pertama, Mama Aleta Baun, seorang perempuan Asal Mollo, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Mama Aleta di awal tahun 2000an berdiri paling depan mengajak ibu-ibu di Mollo untuk melakukan aksi protes nir kekerasan dengan cara menenun kain tradisional Mollo di tempat pertambangan.
Konsistensi aksi ini berjalan kurang lebih satu tahun. Dengan kesabaran dan keyakinan, perempuan-perempuan Mollo berhasil memukul mundur arogansi perusahaan tambang.
Kedua, Aksi perempuan Samin di Kendeng, Jawa Tengah dengan berani melakukan perlawanan atas arogansi Perusahaan Semen Indonesia yang punya potensi besar menghancurkan hajat hidup masyarakat Kendeng.
Perusahaan hanya melihat alam sebagai objek yang bisa dieksploitasi sumber daya sedangkan perempuan Samin percaya bahwa alam adalah Ibu Bumi yang memberikan kehidupan. Kacamata eksploitatif dan oportunis yang dipakai oleh perusahaan dilawan dengan aksi menyemen kaki ibu-ibu hingga di Istana Negara. Protes ini menunjukkan bahwa negara sekejap hilang dalam menjalankan kewajibannya untuk memenuhi keamanan warga negara.
Ibu-ibu menunjukkan keresahannya melalui aksi pukul panci yang dilaksanakan di sekitar Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM). Aksi ini datang dari ibu-ibu dengan berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan pendidikan. Ibu-ibu ini memiliki harapan agar Pemerintah mampu lebih bijaksana dalam menyikapi program MBG ini.
Aksi perempuan-perempuan ini menunjukkan bahwa Perempuan yang terus berani dan melawan tetap asri dan tumbuh di Indonesia sebagai sebuah bentuk warisan semangat yang ditinggalkan oleh Ibu Kartini. Dengan Pendekatan Social-Political Resistance dan Postmodernisme terdapat keunikan yang terjadi pada gaya perlawanan perempuan Indonesia.
Perempuan Indonesia melawan dengan tubuhnya, hatinya, dan semangatnya. Perempuan Indonesia kuat karena bersatu. Perempuan Indonesia pasti akan mendapatkan kemenangan atas perlawanan yang diperjuangkan. Seperti nasihat Gandhi bahwa kebenaran akan menemukan jalannya.
Semoga peringatan hari Kartini tahun ini tidak hanya dijadikan sebagai momentum untuk mengingat sosok R.A Kartini tapi lebih dari itu menjadi titik awal baru dalam manifestasi perlawanan perempuan Indonesia sesuai dengan medan perjuangan dan latar belakang masing-masing.
Resistensi perjuangan dan perlawanan perempuan Indonesia dewasa ini mengajarkan kita bahwa sekecil-kecilnya perlawanan, perlawanan tetaplah perlawanan. Selamat merayakan perlawanan dalam bentuk yang sebaik-baiknya seluruh perempuan Indonesia.





