Lahan vanili yang dijuluki emas hitam, ada di Pandeglang, Banten. Lahan milik PT Persaudaraan Anak Bangsa itu akan dilengkapi dengan pabrik pengolahan. Keberadaannya ikut memperkuat Indonesia sebagai salah satu produsen vanili terbesar di dunia.
Jumat (17/4/2026), Kompas berkesempatan untuk melihat langsung pusat perkebunan dan pembibitan vanili dari PT Persaudaraan Anak Bangsa (PAB) itu di Pandeglang, Banten. Perusahaan yang bergerak di sektor hulu dan hilir vanili ini merupakan kelompok bisnis dari PT Royal Agro Industri (RAI), perusahaan agribisnis terintegrasi milik JHL Group.
Selain vanili, PT RAI juga bergerak di industri kelapa. Perusahaan ini memiliki tiga pabrik pengolahan kelapa, yakni PT Dewa Agricoco Indonesia di Maluku Utara, PT Tri Mustika Cocominaesa di Sulawesi Utara, dan PT Samuda Coco Indonesia di Kalimantan Tengah.
Perkebunan vanili terletak di Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang, Pandeglang sekitar 160 kilometer dari Tangerang. Setelah melalui Tol Jakarta-Merak, kami lalu melintasi ruas Tol Serang-Panimbang. Namun, jalan tol ini belum tuntas sehingga kami harus melintasi jalur arteri.
Dari Jalan Raya Pandeglang, jarak menuju area perkebunan masih sekitar 80 kilometer. Umumnya, jalanan cukup lebar, sudah beraspal, bahkan berbahan beton. Di sepanjang perjalanan, tidak sulit menemukan minimarket. Beberapa toko bahkan baru saja beroperasi.
Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam, kami akhirnya sampai di lokasi. Kawasan perkebunan vanili yang mulai dibuka pada 2021 itu memiliki area kebun induk untuk menghasilkan benih unggul serta kebun produksi yang dikelola dalam shading house atau rumah peneduh untuk tanaman.
Saat ini, terdapat 37 rumah pembibitan untuk merawat tanaman hingga berbuah. Masing-masing rumah seluas 2.500 meter persegi dan memiliki 3.300 batang yang menjadi tempat vanili merambat. Adapun luas seluruh area kawasan, termasuk kebun induk mencapai 300 hektar.
“Rencananya, kami akan membangun 100 shading house,” ucap Anna Valentina, Chief Executive Officer PT RAI. Saat ini, tanaman vanili baru berusia sekitar 1,5 tahun. Dibutuhkan tiga hingga empat tahun agar tanaman berproduksi dengan hasil 1 - 4 kilogram vanili basah per tanaman.
Agar hasilnya maksimal, setiap rumah bibit dikelilingi paranet, yang melindungi tanaman dari terik matahari dan terpaan angin. Tanahnya dilapisi daun kering dan batang lapuk yang menjadi pupuk kompos. Bahkan, penyiramannya menggunakan pipa penyiraman otomatis yang terpasang di bagian tanaman.
Selain kebun produksi, pihaknya juga tengah membangun pabrik untuk pengolahan pasca panen vanili. Pabrik yang tidak jauh dari area perkebunan itu memiliki luas 5 hektar. Pabrik ini mampu menghasilkan 40 ton vanili kering dalam satu siklus produksi, yang berlangsung empat sampai enam bulan.
Tahapan pengolahan pasca-panen cukup panjang. Mulai dari penyeleksian vanili hijau, pembersihan, pemasakan, fermentasi sebanyak dua kali, pengeringan dengan sinar matahari, hingga pengemasan. Berat satu kilogram vanili basah pun susut jadi 200 gram saat kering.
Vanili yang tadinya berbentuk lonjong dan hijau mirip kacang buncis akan berubah menjadi hitam dan berkerut. Saat dicium, polong vanili kering beraroma harum, membuat hidung ingin menghirupnya berkali-kali. Tidak mengherankan, vanili diekspor untuk bahan baku parfum.
“Itulah kenapa, vanili ini dikatakan ‘emas hitam’ (saat kering),” ucap Anna. Ketika baru dipanen, tanaman ini juga disebut “emas hijau”. Serupa emas, penanganan tanaman ini cukup kompleks. Kelembaban udara hingga air harus dipantau ketat. Penyerbukannya pun dibantu oleh manusia.
Seperti emas, harga tanaman ini pun tidak main-main. Maklum, vanili kerap dikirim ke luar negeri sebagai bahan baku parfum hingga aneka panganan. “Harganya fluktuatif, tergantung kualitasnya. Harganya bisa Rp 1,5 juta - Rp 4 juta per kilogram untuk vanili kering,” ujarnya.
Perusahaannya, katanya, telah mengekspor vanili kering ke China hingga beberapa negara di Eropa. Bahan bakunya berasal dari petani di sejumlah daerah di Indonesia. Vanili itu lalu diolah di pabrik PT PAB di Pagedangan, Tangerang. Anna tidak menyebut detail jumlah ekspornya.
Namun, ia yakin, perkebunan vanili seluas 300 hektar yang dilengkapi dengan pabrik pengolahannya, bakal menghasilkan puluhan ton vanili kering siap ekspor. Adapun tanaman di kebun itu mulai panen tahun 2027. “Kami juga akan tetap menyerap panen dari petani,” ujarnya.
Selama ini vanili menjadi komoditas penting Indonesia. Mengutip Buku Outlook Komoditas Perkebunan Vanili 2024 yang diterbitkan Kementerian Pertanian, Indonesia tercatat sebagai produsen vanili nomor dua terbesar di dunia di bawah Madagaskar.
Produksi vanili polong kering di Indonesia pada 2024 diperkirakan 1.560 ton. Bahkan pada 2015 jumlah produksinya mencapai 1.740 ton. Dengan jumlah ini, Indonesia menguasai sekitar 20 persen produksi vanili dunia. Indonesia juga jadi eksportir vanili di kancah global dengan 173 ton pada 2023. Nilainya mencapai 15,16 juta dollar AS.
Masih mengutip Buku Outlook Komoditas Perkebunan Vanili 2024 Kadar vanili di Tanah Air tergolong tinggi, sekitar 2,75 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kadar vanili Meksiko (1,88 persen) dan Tahiti (1,55 persen - 2,2 persen).
Saat ini sentra vanili tersebar di Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Jawa Barat, hingga Sulawesi Utara dengan luas total 10.000 hektar. Keberadaan lahan vanili di Pandeglang akan memperkuat produksi vanili nasional.
Kehadiran kebun hingga pabrik vanili di Pandeglang tidak hanya mengembangkan sektor hulu dan hilir komoditas itu, tetapi juga memberdayakan warga lokal. Di area perkebunan saja, setidaknya terdapat 67 warga yang bekerja. Sebagian besar adalah warga daerah Panimbang dan sekitarnya.
Ade Hidayat (42), warga Desa Citeureup, misalnya, sudah tiga tahun mengurus vanili. Sebelumnya, ia adalah nelayan dengan penghasilan tak menentu. “Kadang satu malam dapat Rp 1 juta, Rp 500.000, bahkan Rp 100.000. Kadang tiga minggu enggak ada penghasilan,” ujarnya.
Apalagi, saat cuaca buruk, nelayan akan lebih terpuruk. Itu sebabnya, banyak warga lokal memilih merantau ke kota sebagai buruh serabutan. Ade, misalnya, pernah ke Sulawesi, Kalimantan, bahkan Malaysia. Meski mendapat penghasilan, ia tetap harus merogoh kantong untuk biaya hidup dan jauh dari keluarga.
Ketika perkebunan dibangun, Ade, yang mengaku belum pernah melihat vanili, pun mencoba peruntungan. Setelah diterima, ia banting setir dari kelautan ke pertanian. Kini, ia bekerja di area perkebunan. “Nanti, targetnya yang kerja bisa 500 orang,” katanya.
Ia pun bersyukur bisa bekerja di kebun vanili dengan penghasilan tetap setiap bulan. “Orang yang dari Jakarta sudah berani membangun, memberdayakan masyarakat. Kenapa kita orang lokal masih berpangku tangan? Seharusnya ikut andil. Mumpung dikasih kepercayaan,” ujarnya.
Belum ada catatan pasti masuknya vanili di Banten. Namun, laman Kementerian Pertanian menyebut vanili mulai diintroduksi ke Indonesia pada 1819, sebagai salah satu tanaman koleksi di Kebun Raya Bogor.
Pada 1864, tanaman asal Meksiko ini menyebar ke wilayah, seperti Sumatera, Jawa, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, hingga Papua. Pada 1960-an, tanaman yang masih keluarga anggrek ini berkembang pesat di pulau Jawa sehingga disebut “Java Vanilla Beans”.
Jejak vanili di Banten masih tampak, terutama di Kecamatan Ciomas dan Padarincang, Kabupaten Serang.
Tatan Spartan, Anggota Dewan Pembina Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Banten, mengatakan, usaha yang tumbuh di Pandeglang meliputi sektor pertanian, kelautan, dan pariwisata. Ini berbeda dengan dengan daerah, seperti Tangerang dan Serang yang telah dipadati industri.
“Kehadiran kebun dan pabrik vanili di Pandeglang diharapkan bisa memajukan daerah. Apalagi, hampir semua pekerjanya adalah warga lokal. Kami juga berharap Jalan Tol Serang-Panimbang (sepanjang 83,6 kilometer) segera selesai agar akses ke Banten selatan lebih cepat,” ujar Tatan.
Pengembangan vanili di Pandeglang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Dengan begitu, “emas hitam” ini dapat menumbuhkan perekonomian daerah serta memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen vanili di dunia.





