BEKASI, KOMPAS.com - Tragedi tabrakan antara Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur menjadi perhatian penuh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Kecelakaan yang terjadi pada Senin (27/4/2026) malam itu mengakibatkan 15 orang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka.
Peristiwa bermula dari sebuah taksi listrik yang menerobos palang pintu di pelintasan sebidang kawasan Bulak Kapal, Ampera, Kota Bekasi. Taksi tersebut kemudian tertemper KRL Cikarang Line tujuan Jakarta.
Baca juga: Efek Domino Tabrakan Kereta di Bekasi: Perjalanan KA Terlambat Berjam-jam hingga Dibatalkan
Akibat insiden itu, KRL yang sedang berhenti di Stasiun Bekasi Timur sempat tertahan untuk memastikan jalur aman dilalui.
Namun, gangguan diduga terjadi pada sistem persinyalan, sehingga KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi tetap melaju dan akhirnya menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur hingga ringsek.
Pelintasan tempat awal kejadian diketahui tidak memiliki palang pintu otomatis. Area tersebut hanya ditutup secara manual menggunakan bambu dan dijaga warga sekitar sambil mengumpulkan uang dari pengendara yang melintas.
Prabowo menyoroti buruknya kondisi pelintasan sebidang tersebut yang pada akhirnya menyebabkan tragedi maut ini.
Jenguk Korban dan Instruksikan Investigasi MenyeluruhPrabowo langsung menjenguk para korban kecelakaan yang dirawat di RSUD Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Selasa (28/4/2026) pagi.
Usai menjenguk para korban, ia memerintahkan investigasi menyeluruh atas insiden tersebut.
"Tentunya kita semua prihatin, kaget dengan kecelakaan yang telah terjadi. Saya ucapkan belasungkawa atas nama pribadi, atas nama pemerintah. Dan kita segera akan mengadakan investigasi, kejadiannya bagaimana," kata Prabowo di depan lobi RSUD Kota Bekasi, Selasa.
Prabowo secara khusus menyoroti kerawanan pelintasan sebidang di area Bulak Kapal, Ampera.
Baca juga: Tragedi Kereta Api Bekasi Timur: Malam yang Terlambat Diselamatkan
Menurut dia, perlintasan sebidang yang tidak dijaga dan minim fasilitas pengamanan tersebut harus segera dievaluasi.
Soroti 1.800 Pelintasan dan Siapkan Rp 4 TriliunPrabowo mengungkapkan, banyaknya kondisi pelintasan tanpa palang pintu merupakan masalah klasik yang sudah dibiarkan sejak lama.
"Secara garis besar memang kita perhatikan di lintasan-lintasan kereta api ini banyak yang tidak terjaga ya. Kemudian di Jawa ada 1.800 titik yang juga lintasan seperti ini," ujar Prabowo.
Pemerintah Pusat pun akan menyiapkan anggaran total sekitar Rp 4 triliun untuk mengakomodasi peningkatan keamanan di ribuan pelintasan sebidang tersebut.





