Tanggal 24 April diperingati sebagai Hari Transportasi Nasional, sebuah momen yang menjadi penanda pentingnya peran transportasi bagi masyarakat. Sebagai bentuk apresiasi, Pemerintah Provinsi Jakarta memberlakukan tarif khusus sebesar Rp 1 bagi penumpang moda transportasi umum—seperti Transjakarta, LRT, dan MRT—tepat pada hari tersebut. Momentum ini tentu saja disambut dengan sukacita oleh para penggunanya. Kebijakan tersebut sangat membantu menghemat pengeluaran, terutama bagi mereka yang sehari-hari sangat mengandalkan moda transportasi massal.
Moda raya terpadu (MRT) telah menjadi salah satu transportasi massal utama di Jakarta sejak beroperasi perdana pada 24 Maret 2019. Awalnya, proyek MRT ini dipersiapkan untuk mendukung perhelatan pesta olahraga Asian Games XVIII pada 2018. Kini, MRT Fase 1 telah bertransformasi menjadi transportasi andalan warga Jakarta untuk menghindari kemacetan, melayani mobilitas dari arah Lebak Bulus di Jakarta Selatan menuju pusat kota ataupun sebaliknya.
Pembangunan MRT Fase 1, yang mengubah wajah transportasi massal di Jakarta, resmi dimulai pada 10 Oktober 2013. Momentum bersejarah ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Joko Widodo, yang kala itu masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Proyek ini terbilang sangat kompleks. Secara garis besar, pembangunannya meliputi pendirian depo di area Stadion dan Terminal Lebak Bulus, pembuatan jalur layang sepanjang 9,8 kilometer dari Lebak Bulus hingga Bundaran Senayan, serta pembangunan jalur bawah tanah melalui terowongan sepanjang 9,7 kilometer dari Bundaran Senayan hingga Bundaran Hotel Indonesia.
Perjalanan pengerjaan proyek MRT ini pun tidak luput dari berbagai dinamika dan penolakan. Salah satu protes terbesar terjadi saat alih fungsi lahan stadion dan terminal menjadi depo. Para awak bus dan pedagang, yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup di kawasan tersebut, menggelar unjuk rasa. Keberatan juga datang dari kalangan pencinta sepak bola—terutama suporter Persija—mengingat kuatnya nilai nostalgia yang melekat pada Stadion Lebak Bulus. Di luar dinamika sosial tersebut, kendala teknis dan birokrasi seperti persoalan ganti rugi lahan hingga kemacetan parah akibat penyempitan ruas jalan turut mewarnai seluruh proses pengerjaan jalur MRT.
Bagi masyarakat umum, mungkin sulit membayangkan bagaimana moda transportasi seperti MRT bisa beroperasi di jalur layang yang kemudian bertransisi masuk ke dalam terowongan bawah tanah. Namun, hal itu berhasil diwujudkan di Jakarta. Kawasan Bundaran Senayan, tepat di bawah Patung Api Nan Tak Kunjung Padam, menjadi simpul penting dari transisi tersebut. Pengerjaan jalur bawah tanah ini menjadi sangat menarik karena merupakan sejarah baru yang pertama kali dilakukan di Jakarta.
Proses pembuatan terowongan dikerjakan menggunakan mesin bor raksasa yang didatangkan langsung dari Jepang. Mesin yang dikenal sebagai tunnel boring machine (TBM) tersebut dikirim melalui jalur laut menuju Pelabuhan Tanjung Priok, untuk kemudian dirakit bagian demi bagian langsung di dalam lokasi terowongan. Mesin bor pertama yang dioperasikan ini diberi nama Antareja. Berbekal kecepatan penggalian hingga 8 meter per hari, tahap pengeboran bawah tanah proyek MRT ini berhasil dilaksanakan sejak September hingga Desember 2016.
Bagian dari mesin bor terowongan (tunnel boring machine) untuk pengeboran jalur kereta transportasi massal cepat (MRT) yang sudah tiba di lokasi proyek pembangunan kereta massal cepat di Bundaran Senayan, Jakarta, 6 Agustus 201 5.
Proses pengeboran terowongan untuk angkutan massal cepat (mass Rapid Transit/MRT) di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2015).
Wujud terowongan kereta massal cepat (MRT) di Stasiun bawah tanah Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (17/3/2016).
Proyek pengeboran terowongan MRT dari Bundaran Senayan hingga Bundaran HI menggunakan empat unit TBM dengan teknologi earth pressure balance pertama di Indonesia. Proses pengerjaan bawah tanah ini diklaim sangat aman, serta tidak menimbulkan getaran ataupun potensi longsor. Hebatnya lagi, terowongan ini mampu melintas tepat di bawah aliran Kanal Banjir Barat yang membelah Jalan Jenderal Sudirman.
Secara keseluruhan, MRT Fase 1 beroperasi melalui 13 stasiun. Jalur ini terdiri dari tujuh stasiun layang (Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja), serta enam stasiun bawah tanah (Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran Hotel Indonesia). Kini, masyarakat Jakarta telah merasakan langsung manfaat dari kehadiran MRT. Bahkan, moda transportasi ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi warga dari berbagai daerah yang ingin menjajalnya saat berkunjung ke Jakarta.
Pada Juni 2025 lalu, pembangunan konstruksi MRT Jakarta Fase 2 sepanjang 11,8 kilometer resmi dimulai. Proyek yang membentang dari kawasan Bundaran HI hingga Ancol Barat ini ditargetkan dapat beroperasi penuh pada tahun 2029.
Kehadiran MRT tidak semata-mata berfungsi sebagai transportasi massal untuk mengurai kemacetan Jakarta. Lebih dari itu, moda transportasi ini turut membentuk karakter kaum urban menjadi lebih tertib dan beradab. Tak heran jika MRT kini digunakan oleh berbagai kalangan, tak terkecuali para selebritas. Rangkaian hal positif inilah yang membuat MRT konsisten menjadi primadona selama tujuh tahun terakhir. Teruslah melaju melayani masyarakat, MRT Jakarta!





