Pesta 5 Hari Usai, Harga Batu Bara Turun Meski Banyak Kabar Baik

cnbcindonesia.com
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara mendingin setelah terbang lima hari. Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di US$ 133,8 per ton atau melemah 0,22%.

Pelemahan ini memutus tren positif harga batu bara yang menguat lima hari beruntun sebesar 11,4%.
Harga batu bara melandai meski ada lonjakan harga minyak dan banyak kabar positif lainnya.

Pada perdagangan Selasa (28/4/2024), harga minyak mentah kembali naik pada Selasa. West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 3% dan ditutup di US$99,93 per barel, sementara Brent naik 2,8% ke US$111,26 per barel.

Dari India dilaporkan mereka meningkatkan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dan gas pekan lalu setelah permintaan listrik puncak mencapai rekor 256,1 gigawatt (GW) selama akhir pekan di tengah gelombang panas, menurut data resmi.

Baca: Dunia Mesti Bersiap, Badai El Nino Bakal Kirim Krisis Energi Baru

 

Permintaan listrik puncak India naik ke rekor 256,1 GW pada 25 April, dari rekor sebelumnya 252,08 GW sehari sebelumnya, menurut data jaringan listrik federal.

India mengoperasikan sekitar 9,6 GW kapasitas pembangkit berbahan bakar gas dan menaikkan produksi listrik batu bara menjadi sekitar 187 GW, menurut data Grid-India.

NTPC, produsen listrik termal terbesar India, sedang membeli gas melalui Indian Gas Exchange dan mengoperasikan pembangkit sesuai arahan Grid-India, kata seorang pejabat.

Perkiraan fenomena cuaca El Nino terkuat dalam satu dekade diperkirakan akan mendorong cuaca lebih panas dan kering di seluruh Asia.

India memperkirakan permintaan listrik puncak akan mencapai sekitar 270 GW tahun ini dan yakin dapat memenuhinya.

India juga kemungkinan akan semakin bergantung pada batu bara dan telah menunda pemeliharaan hampir 10.000 megawatt kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara hingga Juli.

Baca: Breaking! Harga Emas Ambruk ke Level US$ 4500, Terendah Sebulan!

 

Thailand mengimpor 5,5 juta ton batu bara termal pada kuartal I-2026, naik 20% secara tahunan (yoy) menurut data bea cukai. Impor Maret tercatat 1,8 juta ton, stabil dibanding bulan sebelumnya, namun jauh di atas 1,2 juta ton pada Maret 2025 dan lebih tinggi dari proyeksi 1,5 juta ton.

Pasokan dari Indonesia mencapai 4 juta ton pada kuartal I-2026, naik 410 ribu ton atau 11% yoy. Sementara impor dari Australia melonjak menjadi 1,3 juta ton, naik 49% dari 870 ribu ton pada periode yang sama tahun lalu.

Proyeksi impor setahun penuh direvisi naik, dengan impor semester I-2026 kini diperkirakan mencapai 10,7 juta ton, atau naik 1,4 juta ton dibanding tahun lalu. Secara keseluruhan, proyeksi semester I menunjukkan pertumbuhan 15% yoy.

Kinerja impor Thailand yang lebih tinggi dari perkiraan mencerminkan kuatnya permintaan listrik dan industri domestik. Thailand juga memperluas sumber pasokan, ditandai lonjakan pengiriman dari Australia di tengah stabilnya volume dari Indonesia.

Impor Maret jauh di atas level tahun lalu dan proyeksi pasar, menunjukkan pembeli tetap mengamankan kargo meski harga batu bara global masih tinggi.

Baca: Ada Kisruh OPEC, Purbaya Beri Pengumuman Penting Jelang Rapat The Fed

 

Kuatnya impor Thailand menjadi sinyal positif bagi pasar batu bara laut (seaborne thermal coal), menunjukkan permintaan Asia Tenggara tetap solid meski harga global bergejolak. Pemasok utama yang diuntungkan dari tren ini adalah Indonesia dan Australia.

Revisi naik proyeksi semester I-2026 juga menandakan impor tetap kuat hingga kuartal II, sehingga berpotensi menjadi penopang harga regional.

Permintaan Batu Bara Tak Stabil?

Fenomena "kembalinya batu bara" pasca perang Iran diperkirakan jauh lebih kecil dari yang ramai dibicarakan. Analisis lembaga Ember menyebut kenaikan listrik berbasis batu bara global pada 2026 maksimal hanya 1,8%, bahkan bisa lebih rendah.

Gangguan pasokan gas akibat penutupan Selat Hormuz memang mendorong sejumlah negara seperti Jepang, Pakistan, Filipina, Jerman, dan Italia meninjau ulang kebijakan energi serta meningkatkan penggunaan batu bara. Namun dampaknya dinilai terbatas.

Ember memperkirakan tambahan konsumsi batu bara hanya sekitar 175 TWh, dengan mayoritas berasal dari potensi perpindahan gas ke batu bara di China dan Uni Eropa. Negara lain seperti India dan Indonesia juga berpotensi naik, tetapi tidak signifikan.

Para analis menilai cerita utamanya bukan kebangkitan batu bara, melainkan tren penurunan jangka panjang yang masih berlangsung. Bahkan, energi surya dan angin disebut lebih banyak menggantikan pembangkit gas dibanding batu bara.

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kepercayaan Diberi, Kehormatan Dijaga
• 22 jam laludetik.com
thumb
Dishub Jaksel Tindak 42 Motor Parkir Liar di Setiabudi
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
11 Tahun Mengabdi di Kompas TV, Harumnya Nama Nur Ainia Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi
• 16 jam laludisway.id
thumb
Meutya Minta Warga Tak Sebar Konten Sensitif & Hoaks soal Tabrakan KRL di Bekasi
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Dirut KAI: Siang Nanti Layanan KRL Cikarang Line Dibuka Kembali
• 1 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.