CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Tradisi panjang bulu tangkis Indonesia di ajang Piala Thomas menemui titik nadir. Untuk pertama kalinya sejak keikutsertaan perdana pada tahun 1958, tim putra Indonesia gagal melaju ke fase gugur.
Tim Piala Thomas gagal setelah dipaksa menyerah 1-4 oleh Prancis pada laga pamungkas Grup D di Forum Horsens, Denmark, Rabu (29/4) WIB.
Hasil ini menjadi kejutan besar sekaligus catatan kelam bagi pemilik 14 gelar juara tersebut. Selama hampir tujuh dekade, Indonesia selalu dikenal sebagai kekuatan yang minimal mampu menembus perempat final.
Namun, di edisi 2026 ini, langkah Jonatan Christie dan kolega harus terhenti lebih awal di babak penyisihan.
Kegagalan ini terasa menyesakkan mengingat Indonesia mengawali turnamen dengan meyakinkan melalui kemenangan 5-0 atas Aljazair dan keunggulan tipis 3-2 atas Thailand.
Namun, kekalahan telak dari Prancis di partai penentu mengacaukan kalkulasi poin di Grup D.
Indonesia, Thailand, dan Prancis sebenarnya memiliki jumlah kemenangan yang sama. Namun, Indonesia harus puas duduk di peringkat ketiga karena kalah dalam perhitungan selisih kemenangan partai.
Thailand keluar sebagai juara grup, sementara Prancis berhak mendampingi ke babak berikutnya sebagai runner-up.
Dalam laga hidup-mati tersebut, Indonesia gagal membendung agresivitas para pemain Prancis. Kekalahan bermula saat Jonatan Christie tunduk dari Christo Popov dengan skor 19-21, 14-21.
Tren negatif berlanjut ke partai kedua setelah pemain muda Alwi Farhan harus mengakui keunggulan Alex Lanier lewat dua gim langsung.
Harapan sempat muncul saat Anthony Sinisuka Ginting bertarung sengit melawan Toma Junior Popov di partai ketiga. Namun, melalui drama deuce di gim penentu, Ginting kalah 22-20, 15-21, 20-22.
Kepastian tersingkirnya Indonesia akhirnya terkunci di partai keempat setelah pasangan ganda Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani kalah tipis 19-21, 19-21 dari duet Eloi Adam/Leo Rossi.
Indonesia baru bisa memperkecil ketertinggalan di partai terakhir melalui pasangan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri.
Meski menang rubber game atas kakak-beradik Popov, hasil tersebut tidak lagi berpengaruh pada nasib Indonesia yang sudah dipastikan angkat koper.
Tersingkirnya Indonesia di fase grup menjadi sinyal bahaya bagi peta kekuatan bulu tangkis nasional. Hasil di Horsens ini tidak hanya memutus rekor impresif selama 68 tahun, tetapi juga menuntut evaluasi mendalam bagi PBSI dalam mempersiapkan tim untuk kejuaraan beregu paling bergengsi di dunia tersebut pada masa mendatang.




