Badan-badan intelijen Amerika Serikat (AS) sedang mempelajari bagaimana Iran akan bereaksi, jika Presiden Donald Trump mengumumkan kemenangan sepihak dalam perang yang telah berkecamuk selama dua bulan.
Perang ini dinilai menjadi beban politik bagi Gedung Putih.
Menurut dua pejabat AS yang enggan disebut namanya dan seorang sumber yang mengetahui persoalan tersebut, seperti dilansir Reuters, Rabu (29/4/2026), komunitas intelijen sedang menganalisis masalah ini bersama dengan sejumlah masalah lainnya, atas permintaan pejabat senior pemerintahan AS.
Tujuannya adalah untuk memahami implikasi dari kemungkinan Trump menarik diri dari konflik yang dikhawatirkan oleh sejumlah pejabat dan penasihat AS dapat menyebabkan kekalahan besar Partai Republik dalam pemilu sela pada akhir tahun ini.
Meskipun belum ada keputusan yang diambil -- dan Trump dapat dengan mudah meningkatkan kembali operasi militer AS -- deeskalasi yang cepat dapat mengurangi tekanan politik pada presiden.
Walaupun di sisi lain, hal itu dapat membuat Iran semakin berani, yang pada akhirnya dapat membangun kembali program nuklir rudal mereka, serta mengancam sekutu-sekutu AS di kawasan.
Tidak diketahui secara jelas kapan komunitas intelijen AS akan menyelesaikan analisisnya. Tetapi sebelumnya mereka telah menganalisis kemungkinan reaksi para pemimpin Iran terhadap deklarasi kemenangan AS.
(nvc/ita)





