Bea Masuk Bahan Baku Plastik 0 Persen, Saham Small Cap Ini Melesat

idxchannel.com
3 jam lalu
Cover Berita

Sejumlah saham emiten plastik menguat pada Rabu (29/4/2026), di tengah sentimen kebijakan pemerintah yang membebaskan bea masuk bahan baku menjadi 0 persen.

Bea Masuk Bahan Baku Plastik 0 Persen, Saham Small Cap Ini Melesat. (Foto: Sinergi Inti)

IDXChannel – Sejumlah saham emiten plastik menguat pada perdagangan Rabu (29/4/2026), di tengah sentimen kebijakan pemerintah yang membebaskan bea masuk bahan baku menjadi 0 persen.

Sejumlah saham berkapitalisasi kecil mencatatkan penguatan signifikan. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, PT Sinergi Inti Plastindo Tbk (ESIP) melonjak 25,16 persen ke Rp199 per saham, dengan nilai transaksi hingga Rp232,5 miliar.

Baca Juga:
Plastik Terancam Langka, Diversifikasi Kemasan dari Kertas hingga Bioplastik Punya Potensi Besar

PT Indopoly Swakarsa Industry Tbk (IPOL) naik 21,14 persen ke Rp149 per unit, disusul PT Lotte Chemical Titan Tbk (FPNI) yang menguat 10,88 persen.

Selain itu, PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) naik 6,09 persen, PT Megalestari Epack Sentosaraya Tbk (EPAC) meningkat 7,14 persen, dan PT Champion Pacific Indonesia Tbk (IGAR) menguat tipis 0,83 persen.

Baca Juga:
Pemerintah Pangkas Bea Masuk LPG dan Bahan Baku Plastik Jadi 0 Persen

Sebaliknya, saham emiten berkapitalisasi lebih besar cenderung bergerak terbatas. PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) turun 0,95 persen dan PT Primadaya Plastisindo Tbk (PDPP) stagnan di Rp360.

Tekanan juga terlihat pada duo emiten Prajogo Pangestu PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT).

Baca Juga:
Airlangga Sebut Bea Masuk 0 Persen untuk LPG Berlaku Selama 6 Bulan

Kenaikan saham lapis ketiga dinilai tidak lepas dari faktor likuiditas yang relatif terbatas, sehingga pergerakannya lebih sensitif terhadap sentimen jangka pendek.

Di sisi lain, faktor spesifik emiten turut menopang pergerakan. ESIP menunjukkan lonjakan signifikan pada kuartal I-2026. Laba tahun berjalan tercatat melonjak sekitar 241 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp1,72 miliar, dari Rp502,99 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi top line, penjualan perseroan tumbuh lebih moderat, naik sekitar 4,03 persen menjadi Rp14,72 miliar, dibandingkan Rp14,15 miliar pada kuartal I-2025.

Sementara itu, perbaikan kinerja terutama ditopang efisiensi biaya. Beban pokok penjualan tercatat turun sekitar 7,75 persen menjadi Rp11,92 miliar, dari Rp12,92 miliar pada periode sebelumnya.

Saham ESIP pun telah terbang tinggi dalam tiga hari terakhir.

Sementara itu, FPNI dinilai memiliki keunggulan dari sisi pasokan bahan baku karena akses nafta dari jaringan grup, sehingga relatif lebih siap menghadapi gangguan distribusi global.

Di sisi lain, pergerakan saham seperti TPIA dan BRPT lebih dipengaruhi sentimen indeks global.

Keduanya merupakan bagian dari kelompok Barito yang sensitif terhadap dinamika indeks MSCI, terutama terkait isu free float dan komposisi indeks, sehingga pergerakannya tidak sepenuhnya mencerminkan sentimen sektoral.

Pemerintah sebelumnya bergerak cepat mengantisipasi dampak gangguan rantai pasok global akibat ketegangan di Selat Hormuz.

Dalam rapat perdana Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Program Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi, diputuskan pemberian insentif fiskal berupa pembebasan biaya masuk untuk komoditas LPG dan bahan baku plastik.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kebijakan ini diambil sebagai langkah darurat untuk menggantikan nafta, bahan baku utama industri petrokimia, yang sulit diperoleh dan harganya melonjak akibat situasi geopolitik.

"Hasil rapat tadi diambil keputusan beberapa hal yang sudah kami laporkan kepada Bapak Presiden kemarin, yaitu pertama insentif untuk LPG, di mana intervensi kebijakan untuk biaya masuk LPG utamanya untuk industri petrochemicals yang dengan adanya kasus di perang di Selat Hormuz mengalami kesulitan untuk memperoleh nafta," ujar Airlangga dalam konferensi pers, Selasa (28/4/2026).

Untuk menjaga operasional kilang, pemerintah menurunkan bea masuk impor LPG dari 5 persen menjadi 0 persen. Langkah ini memungkinkan industri beralih ke bahan baku alternatif guna menjaga pasokan bahan baku plastik nasional.

Selain LPG, pemerintah juga membebaskan bea masuk untuk berbagai jenis bahan baku plastik seperti polipropilen, polietilen, LLDPE, hingga HDPE menjadi 0 persen untuk periode enam bulan.

Airlangga menyebut harga plastik telah melonjak 50 hingga 100 persen, yang berpotensi mendorong kenaikan harga makanan dan minuman melalui biaya kemasan.

"Jadi kebijakan yang kita ambil ini juga diambil negara lain seperti India. Jadi kita mengikuti agar packaging ini tidak juga meningkatkan bahan-bahan makanan dan minuman," tuturnya.

Pemerintah berharap kebijakan ini dapat menekan biaya produksi industri petrokimia sekaligus menjaga stabilitas harga di tengah tekanan inflasi.

Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati volatilitas saham berkapitalisasi kecil yang cenderung tinggi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jasa Raharja Beri Jaminan Perlindungan untuk Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
• 20 jam laluidxchannel.com
thumb
Stok Beras di Jakarta 47.449 Ton, Pemprov DKI Jamin Kebutuhan Warga Aman
• 20 jam laludetik.com
thumb
Jadwal Salat Makassar 29 April 2026
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Lingga Geger! Mayat Perempuan Ditemukan Terkubur di Belakang Rumah, Tangan Muncul dari Pasir
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Soal Temuan Gadhaj Adam, Roy Suryo: Kalau itu Mikro Teks Pengaman, Keputusannya Mana?
• 14 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.