EtIndonesia. Seorang wanita di Shenzhen, Provinsi Guangdong, terlibat konflik setelah menegur seorang pria yang merokok di halte bus. Ia kemudian dibawa ke kantor polisi dan dipaksa menjalani pemeriksaan tanpa busana. Banyak netizen setempat mengaku pernah mengalami kejadian serupa. Opini publik pun mengecam aparat keamanan yang dianggap bertindak sewenang-wenang.
Pada 24 April, di Shenzhen—yang dikenal memiliki aturan pengendalian rokok paling ketat—terjadi insiden “memadamkan rokok dengan minuman”.
Menurut laporan media daratan Tiongkok, sore hari itu, seorang wanita bermarga Wang sedang menunggu bus di halte Jalan Tongren, Distrik Guangming. Karena tidak puas melihat seorang pria bermarga Chen merokok di area larangan merokok, keduanya terlibat adu mulut.
Dalam perselisihan tersebut, Wang menggunakan minuman yang dipegangnya untuk memadamkan rokok pria tersebut, dan botol minuman jatuh ke tanah. Pria itu kemudian mengambil botol tersebut dan melemparkannya ke arah Wang, sehingga minuman tumpah ke dirinya dan temannya. Wang kemudian melaporkan kejadian itu ke polisi, dan keduanya dibawa ke Kantor Polisi Yutang terdekat untuk dimintai keterangan.
Di bawah pendampingan polisi, Wang melihat rekaman kejadian dan memeriksa dokumen resmi, yang memastikan bahwa halte transportasi umum termasuk area larangan merokok. Namun, polisi menyatakan bahwa pelanggaran merokok dapat dilaporkan melalui aplikasi “Bie Chou La”, sementara tindakan Wang dalam insiden tersebut diduga sebagai “penghinaan terhadap orang lain”. Wang menolak tuduhan tersebut dan mengatakan, “Saya hanya ingin memadamkan rokok, tidak berniat menyerangnya.”
Menurut pengakuan Wang di media sosial, polisi tidak hanya menuduhnya melakukan “penghinaan”, tetapi juga memaksanya melepas pakaian untuk pemeriksaan di kantor polisi. Ia diminta untuk menanggalkan seluruh pakaian, termasuk pakaian dalam, bahkan harus melepas kacamata minus 1200 derajat. Polisi juga membatasi aksesnya ke toilet dalam waktu lama hingga menyebabkan ia mengalami inkontinensia (tidak bisa menahan buang air).
Akhirnya, polisi mengancam akan menahannya selama lima hari jika tidak mau berdamai, sehingga dalam kondisi hampir mengalami gangguan mental, ia terpaksa menandatangani surat perdamaian agar bisa keluar dari kantor polisi.
Setelah itu, ia juga mengaku bahwa dirinya diawasi di rumah oleh pihak berwenang, dengan orang-orang yang berjaga di luar untuk mengawasi dan mengganggunya, sementara unggahannya di Weibo diblokir. Ia bahkan terpaksa melakukan siaran langsung untuk mencegah gangguan tersebut.
Pengakuan tentang “pemeriksaan telanjang yang memalukan” ini memicu kemarahan publik.
Netizen di daratan Tiongkok berkomentar:
“Awalnya ini hanya masalah kecil, tetapi tindakan kantor polisi sangat aneh, hingga perhatian publik melampaui kasusnya sendiri—mengapa harus pemeriksaan telanjang? Apakah penegak hukum bertindak sesuai hukum? Aturan mana yang mengizinkan ini? Apakah setiap pelapor harus diperiksa telanjang?”
“Sekarang perdebatan bukan lagi soal pria yang merokok, tetapi mengapa polisi melakukan pemeriksaan telanjang dan apakah itu masuk akal.”
Di platform media sosial luar negeri, ada netizen yang mengkritik aparat keamanan Tiongkok sebagai “tidak bermoral” dan “bertindak di luar hukum”. Ada juga yang berpendapat bahwa polisi sengaja menggunakan metode seperti ini untuk mempermalukan orang agar mengurangi jumlah laporan kasus, karena tingkat laporan dan penyelesaian kasus memengaruhi penilaian kinerja dan bonus mereka.
Di media sosial dalam negeri, banyak warga Shenzhen mengungkap bahwa mereka atau kerabat mereka pernah mengalami pemeriksaan telanjang di kantor polisi. Tidak hanya orang yang ditahan, bahkan mereka yang hanya dimintai keterangan atau korban yang melapor pun bisa mengalami perlakuan serupa.
Sumber : NTDTV.com





