Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menegaskan pengakuan UNESCO Global Geoparks melalui Kartu Hijau untuk kedua kalinya bagi Geopark Rinjani-Lombok menandakan tata kelola taman bumi telah memenuhi standar global.
"Capaian itu bukan sekadar pengakuan administratif, tetapi merupakan validasi internasional bahwa tata kelola Geopark Rinjani-Lombok telah berjalan sesuai standar global," kata Juru Bicara Pemprov NTB Ahsanul Khalik di Mataram, Rabu.
Ahsanul mengatakan tata kelola standar internasional tersebut tercermin dari tiga aspek utama yang terus diperkuat oleh Geopark Rinjani-Lombok, yakni konservasi, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Geopark Rinjani-Lombok menerapkan pendekatan pengelolaan yang tidak hanya berorientasi terhadap sektor pariwisata, tetapi juga berbasis keberlanjutan dengan menyeimbangkan pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
"Kartu Hijau adalah bukti nyata kerja kolektif pemerintah, pengelola, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan di NTB berada di jalur yang benar dan diakui dunia," ucap Ahsanul yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik NTB tersebut.
Geopark Rinjani-Lombok kini berkembang menjadi ruang edukasi global dan laboratorium alam yang memberikan nilai tambah bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan ekonomi berbasis komunitas.
Pemerintah NTB berkomitmen mempertahankan status Kartu Hijau UNESCO Global Geoparks melalui penguatan konservasi berbasis masyarakat, peningkatan literasi geologi, serta pengembangan ekonomi lokal di sekitar kawasan Geopark Rinjani-Lombok.
Ahsanul menyampaikan bahwa penguatan mitigasi bencana berbasis pengetahuan geologi juga menjadi fokus pengembangan mengingat karakteristik wilayah NTB yang rawan terhadap bencana alam.
Ia berharap pengakuan internasional tersebut menjadi pijakan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan taman bumi secara berkelanjutan dan berdaya saing global.
"Harapan kami, Geopark Rinjani-Lombok tidak hanya bertahan, tetapi terus naik kelas, menjadi ikon dunia yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan menjadi kebanggaan Indonesia di kancah internasional," katanya.
Berdasarkan pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri, Indonesia memperoleh tiga status Kartu Hijau dari UNESCO Global Geoparks Council untuk periode 2026 sampai 2029, yakni Rinjani-Lombok, Kaldera Toba, dan Ciletuh-Palabuhanratu.
Status Kartu Hijau atau Green Card merupakan bentuk pengakuan tertinggi dalam evaluasi berkala UNESCO terhadap taman bumi.
Dalam surat resmi UNESCO kepada Pemerintah Indonesia, ketiga geopark tersebut dinyatakan berhasil mempertahankan kualitas pengelolaan sekaligus memberikan kontribusi signifikan terhadap tujuan UNESCO dalam penguatan ilmu kebumian, mitigasi risiko bencana, serta pembangunan berkelanjutan berbasis warisan alam.
"Capaian itu bukan sekadar pengakuan administratif, tetapi merupakan validasi internasional bahwa tata kelola Geopark Rinjani-Lombok telah berjalan sesuai standar global," kata Juru Bicara Pemprov NTB Ahsanul Khalik di Mataram, Rabu.
Ahsanul mengatakan tata kelola standar internasional tersebut tercermin dari tiga aspek utama yang terus diperkuat oleh Geopark Rinjani-Lombok, yakni konservasi, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Geopark Rinjani-Lombok menerapkan pendekatan pengelolaan yang tidak hanya berorientasi terhadap sektor pariwisata, tetapi juga berbasis keberlanjutan dengan menyeimbangkan pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
"Kartu Hijau adalah bukti nyata kerja kolektif pemerintah, pengelola, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan di NTB berada di jalur yang benar dan diakui dunia," ucap Ahsanul yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik NTB tersebut.
Geopark Rinjani-Lombok kini berkembang menjadi ruang edukasi global dan laboratorium alam yang memberikan nilai tambah bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan ekonomi berbasis komunitas.
Pemerintah NTB berkomitmen mempertahankan status Kartu Hijau UNESCO Global Geoparks melalui penguatan konservasi berbasis masyarakat, peningkatan literasi geologi, serta pengembangan ekonomi lokal di sekitar kawasan Geopark Rinjani-Lombok.
Ahsanul menyampaikan bahwa penguatan mitigasi bencana berbasis pengetahuan geologi juga menjadi fokus pengembangan mengingat karakteristik wilayah NTB yang rawan terhadap bencana alam.
Ia berharap pengakuan internasional tersebut menjadi pijakan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan taman bumi secara berkelanjutan dan berdaya saing global.
"Harapan kami, Geopark Rinjani-Lombok tidak hanya bertahan, tetapi terus naik kelas, menjadi ikon dunia yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan menjadi kebanggaan Indonesia di kancah internasional," katanya.
Berdasarkan pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri, Indonesia memperoleh tiga status Kartu Hijau dari UNESCO Global Geoparks Council untuk periode 2026 sampai 2029, yakni Rinjani-Lombok, Kaldera Toba, dan Ciletuh-Palabuhanratu.
Status Kartu Hijau atau Green Card merupakan bentuk pengakuan tertinggi dalam evaluasi berkala UNESCO terhadap taman bumi.
Dalam surat resmi UNESCO kepada Pemerintah Indonesia, ketiga geopark tersebut dinyatakan berhasil mempertahankan kualitas pengelolaan sekaligus memberikan kontribusi signifikan terhadap tujuan UNESCO dalam penguatan ilmu kebumian, mitigasi risiko bencana, serta pembangunan berkelanjutan berbasis warisan alam.





