Jakarta, VIVA – Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Myanmar semakin memperburuk kondisi ekonomi masyarakat setempat dan mulai mengancam ketahanan pangan. Kelangkaan solar membuat petani kesulitan memanen padi, sementara warga di kota harus mengantre hingga enam jam untuk mendapatkan BBM.
Di tengah musim panen padi yang menjadi periode penting bagi petani, banyak lahan belum bisa dipanen tepat waktu karena minimnya pasokan bahan bakar untuk mengoperasikan mesin pertanian. Situasi ini semakin mendesak karena musim hujan diperkirakan mulai datang pada Mei.
Seorang petani mengatakan banyak hasil panen sudah melewati waktu panen dan berisiko rusak jika cuaca memburuk. “Banyak hasil panen kini sudah melewati waktu panen. Jika air pasang naik atau cuaca memburuk, itu akan menjadi jauh lebih menghancurkan bagi kami,” kata petani tersebut sebagaimana dikutip dari Channel News Asia, Rabu, 29 April 2026.
Menurutnya, panen manual juga bukan solusi karena petani tetap membutuhkan bahan bakar untuk menjalankan mesin perontok padi. “Kalaupun mampu, bahan bakarnya tidak tersedia. Hampir mustahil untuk menemukannya,” ujarnya.
Ia menambahkan, petani kecil menjadi pihak yang paling terdampak karena akses terhadap BBM lebih sulit dibanding pihak yang memiliki modal besar. “Mereka yang punya uang bisa memakai koneksi untuk mendapatkan yang mereka butuhkan, tetapi petani seperti kami lah yang paling menderita,” lanjutnya.
Harga BBM di pasar gelap dilaporkan naik hingga sekitar 12.000 kyat per liter atau sekitar US$3, setara Rp51.000 per liter dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS. Nilai tersebut lebih dari dua kali lipat dibanding harga resmi di SPBU.
Kondisi ini membuat banyak petani terancam gagal panen. Sebagian besar petani mengandalkan pinjaman untuk membiayai proses tanam, mulai dari pembelian pupuk, sewa alat, hingga penggilingan hasil panen. Jika hasil panen menurun, beban utang pun semakin berat.
Dampaknya juga dirasakan para buruh tani di wilayah Delta Ayeyarwady, salah satu sentra produksi beras utama di Myanmar. Banyak pekerja migran kehilangan pekerjaan karena proses panen melambat.
Krisis BBM juga terasa di kota-kota besar. Di Yangon, pengendara harus mengantre hingga enam jam di SPBU. Beberapa stasiun pengisian bahkan dilaporkan kehabisan stok sepenuhnya sehingga warga terpaksa membeli dari pasar gelap.




