Dokter Bagikan Cara Evakuasi Korban kecelakaan: Jangan Langsung Kasih Minum

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Kecelakaan kereta api antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4) malam, kembali memunculkan pertanyaan penting soal pertolongan pertama pada korban kecelakaan.

Di tengah kepanikan, tak sedikit warga spontan membantu korban dengan cara mengangkat tubuh atau memberi minum. Padahal, tindakan itu justru bisa memperparah kondisi korban.

Praktisi Kesehatan Masyarakat, dr. Ngabila Salama, MKM., mengingatkan bahwa dalam situasi kecelakaan, prinsip utama pertolongan pertama adalah do no harm atau jangan sampai niat menolong malah menambah cedera.

Menurut dia, korban kecelakaan pada umumnya tidak dianjurkan langsung diberi makan atau minum. Alasannya, korban bisa saja mengalami penurunan kesadaran tanpa disadari sehingga berisiko tersedak atau aspirasi. Selain itu, korban mungkin mengalami cedera dalam atau membutuhkan operasi darurat yang mengharuskan kondisi lambung kosong.

Ngabila menjelaskan, minum hanya boleh diberikan jika korban benar-benar sadar penuh, tidak mengalami cedera berat, tidak mual atau muntah, serta dalam posisi aman.

Tak hanya soal memberi minum, Ngabila juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang buru-buru mengangkat korban setelah kecelakaan terjadi. Menurut dia, tindakan ini sangat berbahaya jika korban mengalami cedera kepala, patah tulang, atau trauma tulang belakang.

“Gerakan yang salah bisa memperparah cedera, bahkan menyebabkan kelumpuhan,” katanya.

Korban hanya boleh dipindahkan jika ada ancaman langsung seperti kebakaran, risiko ledakan, atau potensi tertabrak kembali. Itupun harus dilakukan dengan menjaga posisi kepala dan leher tetap lurus.

Dalam situasi darurat, Ngabila menyarankan masyarakat melakukan langkah sederhana dengan prinsip cek cepat dan aman. Berikut langkah-langkahnya:

Dalam kecelakaan besar seperti tabrakan kereta, proses penanganan biasanya dilakukan dengan sistem triase, yakni memilah korban berdasarkan tingkat keparahan kondisi. Prioritas diberikan kepada korban kritis yang masih memiliki peluang besar untuk diselamatkan.

Ngabila menilai, edukasi publik soal bahaya penanganan yang salah masih perlu diperkuat. Sebab, banyak masyarakat memiliki niat membantu, tetapi belum memahami prosedur dasar pertolongan pertama.

“Menolong itu penting, tapi harus dengan cara yang benar. Jangan panik, jangan langsung pindahkan korban, jangan langsung kasih minum. Selamatkan nyawa tanpa menambah cedera,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemimpin Negara Teluk Kompak Tolak Pungutan Tarif di Selat Hormuz
• 1 jam laludetik.com
thumb
Sinopsis ISTIQOMAH CINTA SCTV Episode 79, Hari Ini Selasa 28 April 2026: Puspa Lolos dari Penjara, Misteri Hilangnya Sultan Bikin Geger
• 22 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Cara PLN EPI Jaga Ekosistem Perairan Secara Berkelanjutan
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Momen Hangat Jemaah Haji Iran Disambut Taburan Bunga di Arab Saudi
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Resmikan 13 Proyek Hilirisasi Senilai Rp116 Triliun, Ini Daftarnya
• 2 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.