Kecelakaan yang melibatkan KRL Commuter Line dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam masih menyisakan rasa cemas di kalangan penumpang, khususnya pengguna gerbong wanita.
Meski begitu, sebagian dari penumpang wanita memilih tetap bertahan menggunakan gerbong khusus tersebut karena faktor kenyamanan dan rasa aman.
Elsa Yanuar Budiyanto (32), salah satu penumpang yang berangkat dari Stasiun Bekasi menuju Stasiun Sudirman, mengaku sangat terpukul saat pertama kali mengetahui kabar kecelakaan tersebut.
“Sebenarnya sedih, sempat kayak nangis gitu seharian. Ngerasa prihatin aja karena memang aku juga biasanya di gerbong wanita. Kayak nggak kebayang aja kejadian itu,” ujar Elsa saat ditemui kumparan di gerbong khusus wanita rangkaian KRL commuter line Jabodetabek, Rabu (29/4).
Ia menuturkan, sebagai pengguna rutin gerbong wanita, insiden itu terasa dekat secara emosional. Meski demikian, Elsa tetap memilih naik di gerbong khusus wanita.
“Tapi jujur, walaupun seperti itu [sedih], aku tetap ada di gerbong wanita karena lebih nyaman menurut aku. Dan masalah kejadian itu [kecelakaan], aku yakin KAI juga pasti kan berbenah ya. Maksudnya mereka juga nggak mau kejadian itu terulang lagi,” lanjutnya.
Elsa juga mengakui adanya rasa trauma meski tidak terlalu besar.
“Jujur ada sedikit gitu. Sedikit, cuma apa ya? Mau belajar ya sudah gitu, pasti kan semuanya ada pelajaran yang diambil. Tapi hidup juga kan harus berjalan... kayak gitu sih,” katanya.
Perasaan Campur AdukHal serupa dirasakan Sekar Winantya (26), pengguna setia gerbong khusus wanita yang sehari-hari berangkat dan pulang menggunakan KRL. Ia menggambarkan perasaannya sebagai campuran antara takut dan waswas.
“Perasaannya campur aduk banget sih, karena setiap hari aku memang ada di gerbong wanita itu, kan. Jadi kayak ada was-was juga, kalau misalnya aku di sana itu gimana gitu rasanya. Jadi takut juga sih,” ungkap Sekar.
Bahkan, sehari setelah kejadian, Sekar sempaat mempertimbangkan untuk berpindah gerbong.
“Kemarin pas satu hari setelah kejadian itu aku sempat mikir buat pindah gerbong sebenarnya, karena ngerasa kayak, aduh takut, nanti bakal ada kejadian itu lagi,” ucapnya khawatir.
Namun, pada akhirnya ia tetap kembali menggunakan gerbong wanita.
“Tapi karena hari ini sepi, jadinya kayak aku coba lagi buat di gerbong wanita,” tambahnya.
Menurut Sekar, alasan utama tetap bertahan adalah faktor keamanan.
“Karena ngerasa lebih aman aja sih surrounding-nya di gerbong wanita karena kita semua sesama wanita gitu kan, jadi kita lebih mengerti satu sama lain gitu,” jelasnya.
Ia juga mencatat kondisi penumpang pada hari ini relatif lebih lengang dibanding biasanya.
“Sepi ya, tapi nggak sesepi itu juga sih, tapi menurut aku sih untuk hari ini kondisinya lebih sepi daripada biasanya,” katanya.
Tetap Setia di Gerbong WanitaSementara itu, Raye Rumaisa (21), yang berangkat dari kawasan Bekasi Utara menuju Depok, juga merasakan kecemasan serupa saat kembali menggunakan gerbong wanita.
“Mungkin melihat apa kemarin ya, aku perasaannya jadi cukup uneasy apalagi kalau misalkan tadi mau naik ke gerbong wanita sih,” ujarnya.
Ia mengakui adanya rasa takut, terutama pada hari pertama setelah kejadian.
“Cukup ada sih, terutama kemarin ya, sehari setelah hal apa banget itu lumayan kayak agak khawatir dan takut gitu ketika mencoba naik lagi gerbong wanita,” katanya.
Meski begitu, Raye tetap memilih gerbong wanita sebagai opsi utama.
“Mungkin karena aku sendiri dari awal lebih suka juga di gerbong wanita karena biasanya lebih nyaman dan juga isinya kan cewek semua ya gitu jadi aku merasa lebih safe. Jadi meskipun agak takut-takut juga tapi balik lagi gerbong wanita tuh yang paling nyaman gitu menurut aku,” jelasnya.
Ia juga menilai kondisi gerbong wanita pada siang hari itu tidak seramai biasanya.
“Seingat aku sih biasanya bakal lebih ramai sih dari ini. cuma untuk hari ini lumayan sepi sih,” ujarnya.
Sekilas Gerbong Khusus WanitaDalam kecelakaan pada Senin (27/4) malam, KA Argo Bromo Anggrek menabrak gerbong khusus wanita yang berada di bagian belakang rangkaian KRL rute Cikarang. Sebanyak 16 penumpang wanita meninggal dan 91 luka-luka.
Selama ini, gerbong khusus wanita diposisikan di urutan nomor 1 dan urutan paling belakang. Sedangkan bagian lainnya merupakan gerbong campuran pria-wanita.
Penyediaan gerbong khusus wanita dilakukan PT KAI setelah terjadi sejumlah kasus pelecehan seksual di KRL beberapa tahun lalu.





