Pantau - Pengamat transportasi Djoko Setjowarno menilai pendidikan keselamatan transportasi perlu dimasukkan ke dalam kurikulum guna menekan angka kecelakaan dan meningkatkan keamanan masyarakat saat beraktivitas.
Pendidikan Sejak Dini Dinilai Lebih EfektifDjoko menyatakan negara maju telah lebih dulu menerapkan pendidikan keselamatan transportasi sejak dini, meski tingkat kecelakaan mereka relatif rendah.
"Di negara maju, anak-anak itu mendapat kurikulum tentang keselamatan bertransportasi. Kita nggak ada. Di negara maju yang angka keselamatannya tinggi dan kecelakaannya rendah saja itu masih ada (pendidikannya)," ungkapnya.
Ia menilai sosialisasi saja tidak cukup untuk menanamkan pemahaman, sehingga pendidikan formal menjadi langkah yang lebih efektif agar masyarakat lebih mengingat dan menerapkan prinsip keselamatan.
Anggaran dan Pendekatan Sistemik Jadi SorotanDjoko juga mengingatkan pemerintah agar tidak memangkas anggaran keselamatan transportasi meski tengah melakukan efisiensi.
Ia menegaskan keselamatan merupakan aspek krusial yang tidak boleh dikompromikan karena berkaitan langsung dengan nyawa masyarakat.
Selain itu, ia menanggapi usulan pemindahan gerbong khusus wanita di KRL pascainsiden kecelakaan di Bekasi Timur dan menilai langkah tersebut bukan solusi utama.
"Di keselamatan itu, ada istilahnya 3E, yaitu Education, Engineering dan Enforcement. Itu yang perlu diperhatikan," ujarnya.
Menurutnya, pendekatan menyeluruh melalui pendidikan, rekayasa sistem, dan penegakan aturan menjadi kunci dalam meningkatkan keselamatan transportasi.




