Wakil Ketua Komisi V DPR RI Andi Iwan Darmawan Aras meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan perkeretaapian nasional imbas kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Bekasi Timur.
Menurutnya, insiden tersebut tidak bisa dilihat sekadar sebagai kecelakaan operasional biasa.
“Insiden kecelakaan kereta di sekitar Bekasi Timur menunjukkan bahwa jalur rel dengan kepadatan tinggi di wilayah perkotaan sedang menghadapi tekanan sistemik yang menuntut evaluasi lebih mendalam terhadap cara keselamatan dibangun, dimonitor, dan direspons dalam kondisi gangguan berantai,” kata Iwan, Rabu (29/4).
Ia menyampaikan belasungkawa atas peristiwa yang menewaskan sedikitnya 16 orang dan melukai puluhan penumpang tersebut. Menurutnya, tragedi itu harus menjadi pembelajaran bersama demi memastikan keselamatan penumpang kereta api.
Iwan menilai, sistem keselamatan tidak cukup hanya mengandalkan disiplin operasi harian, tetapi harus mampu mendeteksi, mengisolasi, dan memutus risiko saat gangguan awal terjadi.
Sambut Baik Rencana Pemerintah Bangun Flyover dan UnderpassIa juga menyoroti persoalan perlintasan sebidang yang dinilai masih menjadi titik rawan. Menurut dia, perlintasan sebidang di koridor padat perlu segera diganti dengan flyover atau underpass.
Ia menyambut baik rencana pemerintah menyiapkan anggaran Rp 4 triliun untuk membenahi 1.800 titik perlintasan kereta di Pulau Jawa.
Selain itu, Iwan meminta komunikasi pusat kendali jalur kereta diintegrasikan, terutama untuk layanan berbeda seperti KRL dan kereta antarkota.
“Harusnya informasi dapat terintegrasi. Jadi hal ini perlu menjadi evaluasi. Integrasikan komunikasi pusat kendali jalur kereta. Khususnya yang layanannya berbeda atau tidak sejenis,” ujarnya.
Ia juga mendorong percepatan pemisahan jalur operasional kereta. Menurutnya, karakteristik KRL dan kereta jarak jauh berbeda secara mendasar sehingga perlu jalur tersendiri.
“Pemisahan jalur operasional kereta harus menjadi prioritas. Penyelesaian proyek Double-Double Track Jakarta-Cikarang tidak hanya penting untuk meningkatkan kapasitas, tetapi juga keselamatan,” kata Iwan.
Komisi V DPR, lanjutnya, akan meminta klarifikasi kepada PT KAI dan regulator sebagai bagian dari fungsi pengawasan.
“Pendekatan keselamatan modern menekankan bahwa sistem harus mampu mencegah kesalahan berkembang menjadi kecelakaan fatal, bukan sekadar merespons setelah kejadian,” tutup Iwan.
Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam dilaporkan menewaskan 16 orang dan melukai puluhan penumpang.
Peristiwa itu bermula dari sebuah taksi yang mogok di perlintasan sebidang di kawasan Ampera, Bekasi Timur, akibat gangguan listrik. Taksi tersebut kemudian tertabrak KRL arah Jakarta.
Dampak dari insiden itu membuat satu rangkaian KRL tujuan Cikarang terhenti di Stasiun Bekasi Timur. Dalam kondisi tersebut, rangkaian KRL itu kemudian ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek.





