CILACAP. Presiden Prabowo Subianto melakukan groundbreaking 13 proyek hilirisasi Daya Anagata Nisantara (Danantara) fase 2 dengan nilai Rp 116 triliun di Cilacap, Jawa Tengah. Enam dari 13 proyek tersebut bertujuan untuk mempercepat hilirisasi di sektor energi, mulai dari pembangunan kilang gasoline Pertamina, tangki operasional penyimpanan bahan bakar, hingga pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME).
Pemerintah mengklaim proyek pembagunan kilang gasoline di Cilacap, Jawa Tengah dan Dumai Riau yang memiliki kapasitas 62 ribu barel per hari, dapat mengurangi impor bensin hingga 2 juta kiloliter per tahun. Angka tersebut setara dengan 9,5% ketimpangan permintaan dan persediaan impor bensin. Bahkan, proyek ini disebut mampu mengurangi impor propylene dan LPG dan ditargetkan on-stream pada kuartal keempat 2030.
“Kita tidak mau sekedar jual bahan baku, kita mau olah turunannya di Indonesia supaya nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia,” kata Presiden Prabowo, di Cilacap, pada 29 Maret 2026.
Proyek-proyek itu akan mulai dibangun bertahap di Jawa, Sumatra, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara.
Selain pembangunan kilang gasoline, Danantara melalui Pertamina akan membangun tangki operasional BBM di Kalimantan Timur, Papua, dan Nusa Tenggara Timur. Nantinya, proyek ini akan on-stream bertahap pada 2027 hingga 2028. Ketiga proyek ini dapat menambah kapasitas penyimpanan BBM sebanyak 153 ribu kiloliter alias meningkatkan 3,1% penyimpanan nasional.
Selain itu, Danantara juga akan membangun fasilitas pengolahan batu bara menjadi Dimethyl Ether dengan kapasitas produksi 1,4 juta ton per tahun di Tanjung Enim, Sumatra Selatan.
Di sektor nonenergi, Danantara akan mengembangkan fasilitas manufaktur baja nirkarat (stainless steel) dari nikel di Morowali, Sulawesi Tengah hingga pengembangan fasilitas produksi slab baja karbon dari bijih besi lokal di Cilegon, Banten. Masing-masing memiliki kapasitas produksi 1,2 juta ton dan 1,5 juta ton per tahun.
Melanjutkan Proyek Hilirisasi Fase ISebelumnya, pada 13 Februari lalu Danantara juga sudah melakukan groundbreaking untuk enam proyek hilirisasi fase pertama. Keenam proyek ini meliputi sektor energi, logam, hingga peternakan.
Di sektor industri logam, Danantara meresmikan empat fasilitas sekaligus. Dua smelter aluminium dibangun oleh MIND ID di Mempawah, Kalimantan Barat dan Sumatra Utara.
Selain itu, dua kilang Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR 1 & 2) juga dibangun di Mempawah sejak 2020, masing-masing berkapasitas 1 juta ton per tahun dengan investasi Rp 10,7 triliun dan Rp 14,8 triliun. Keduanya berfungsi menghubungkan rantai pasok dari bauksit Kalimantan Barat menuju pabrik peleburan Inalum, dengan distribusi melalui Pelabuhan Kijing.
Di bidang energi, misalnya, ada dua proyek bahan bakar nabati turut diresmikan. Pabrik Bioetanol Glenmore di Banyuwangi, Jawa Timur, akan mengolah tebu dari lahan seluas 211 ribu hektare menjadi bioetanol yang nantinya dicampurkan ke BBM. Pabrik ini mampu menghasilkan 882 ribu ton gula dan 679 ribu ton molases per tahun.
Untuk ketahanan pangan, Danantara meresmikan proyek hilirisasi industri ayam terintegrasi yang mencakup 30 pabrik di enam provinsi, yaitu Jawa Timur, Gorontalo, Lampung, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Proyek ini ditargetkan menambah produksi 1,5 juta ton daging ayam dan 1 juta ton telur per tahun, sekaligus mendongkrak pendapatan sektor peternakan hingga Rp 81,5 triliun.
Di sisi lain, tiga pabrik garam juga diresmikan, yaitu dua pabrik berteknologi MVR di Sampang dan Gresik berkapasitas total 300 ribu ton per tahun dengan investasi gabungan Rp 3 triliun, serta satu pabrik garam olahan Segoro Madu II di Gresik berkapasitas 80 ribu ton per tahun senilai Rp 112 miliar.




